Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Curiga


__ADS_3

Dave menatap takjub pada layar monitor yang memamerkan pergerakan janin didalam perut istrinya. ia menutup mulutnya dibalik lapisan masker, tak tahan dengan kebahagiaan yang diberikan Sang Pencipta. bola mata Dave memancarkan kilatan cahaya, ia terharu menatap sesuatu didalam layar sana.


"Selamat, ya, Tuan, Nona, usia kehamilannya memasuki dua minggu," ucap sang dokter


Wilona mengulum senyum kala mendengarnya.


"Oh, Sayang, terima kasih telah memberiku buah cinta kita," Dave mengusap-usap puncak kepala sang istri sebagai tanda syukurnya. Ingin mengecup kening itu, Dave takut perutnya akan bereaksi lebih parah


"Sama-sama, Sayang." balas Wilona


Tentu saja sepasang suami istri ini sangat berbahagia mengetahui kabar baik yang akan mereka sambut sembilan bulan kedepan. Dave tampak semringah, sedangkan Wilona menyeringaikan bibirnya menatap raut bahagia yang terpancar dari wajah Dave.


Namun, senyum seringaiannya tak bertahan lama kala Dave tiba-tiba melontarkan keluhannya hingga keduanya mendapat jawaban jika Dave terkena kehamilan simpatik. Sontak saja senyum Wilona menyurut dan pikirannya bertanya-tanya, mengapa Dave juga terkena dampak pada kehamilannya.


"Kehamilan simpatik itu bagaimana, Dok?" tanya Wilona


"Kehamilan simpatik adalah dampak dari kehamilan bunda berpindah kepada suami atau calon ayah si janin. Yang seharusnya bumil alami, bisa terjadi pada ayahnya. seperti mual, pusing, tidak nafsu makan, bahkan nafsu makan meningkat. Tapi bumil juga bisa merasakannya kok," jelas Dokter


Seketika Wilona menoleh menatap suaminya dengan raut wajah yang penuh arti. Banyak sekelebat dugaan dan pertanyaan mengelilingi akal pikirannya.


Tidak, Dokter pasti salah! Dave hanya masuk angin, aku yakin itu! batin Wilona


Awalnya ia bahagia, namun sekarang dirinya mulai panik dan shock. Jangan sampai dugaannya benar, pasti semuanya salah dan Wilona sangat berharap jika Dave hanya sakit biasa.


"Ayo, bangun, kita udah siap konsulnya," sentak Dave menepuk pundak Wilona beberapa kali hingga dirinya tersentak kaget

__ADS_1


"Eh, eh, iya," Wilona langsung bangkit berdiri hingga keduanya meninggalkan ruangan tersebut.


**


"Dave, seberapa sering kamu bercinta dengan Mawar?" tanya Wilona kala keduanya sedang berada dalam perjalanan pulang


Dave tertegun mendengarnya. ada apa tiba-tiba Wilona mengungkit masa lalunya


"Kenapa menanyakan hal itu?" Dave bertanya balik


"Nggak, aku hanya ingin tahu, seberapa dekat hubungan kalian," ungkapnya


Dave menggigit kecil bibirnya. Lagi-lagi ia harus diingatkan lagi oleh sosok Mawar yang masih ia nanti keberadaannya.


"Tidak sering. Hanya sesekali saja jika aku merasa bosan," jawabnya bohong


"Iya, Sayang. sudah ah, jangan ungkit wanita itu lagi," Dave mengelus-elus puncak kepala sang istri seolah ingin menenangkannya. "Ingat, kamu sedang hamil anak kita, jangan banyak pikiran, apalagi mikir yang tidak-tidak," nasihatnya


"Baiklah." Wilona manggut-manggut paham


Selang beberapa menit kemudian, keduanya telah tiba di kediaman. Wilona mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Dave yang mulai protektif, membantu wanita itu untuk duduk.


"Aku belum hamil tua, Dave, jangan perlakukan aku seperti nenek-nenek saja," gerutunya


"Aku takut kamu duduknya nggak hati-hati, main jatuh aja bisa sakit bayi kita, Sayang."

__ADS_1


Wilona mengulum senyum. "Kalau gitu, tolong ambilin salad ke belakang, Sayang," pinta Wilona


"Baiklah, tunggu sebentar, ya?"


Wilona mengangguk. Melihat suaminya sudah pergi, buru-buru Wilona merogoh ponsel dari dalam tasnya lalu melenggang pergi entah kemana.


Disudut ruangan, Wilona tampak tengah menghubungi seseorang diseberang sana. Namun sial, lama sekali diangkat oleh seseorang tersebut.


"Come on! di mana sih?" gumamnya


Disisi lain, Dave tampak heran kemana Wilona pergi. Ia berteriak memanggil sang istri. Sejurus kemudian Dave merasa cukup lega melihat Wilona datang dari dalam bilik.


"Kamu ngapain di kamar tamu? Nih, saladnya,"


"Ke kamar mandi, sesak banget," jawabnya


"Hmm, nggak mesti ke kamar, Sayang. tuh, toilet dari jarak lima meter, nggak jauh, kan?" Dave menunjuk toilet yang bersisian dengan ruang keluarga


"Eh, iya." Wilona cengengesan merutuki kebodohannya. Tapi tidak masalah, alasannya cukup masuk akal juga


"Yasudah, aku ke ruang kerja dulu, ya, lama-lama dekat denganmu membuatku sesak napas mesti pakai masker mulu," celetuk Dave. Wilona tersenyum kecut, sedikit ada rasa kesal didadanya kala Dave mencium tubuhnya amat bau


Wilona memerhatikan punggung Dave yang kian menjauh dari pandangannya. Menaiki anak tangga, hingga menghilang ditelan tembok.


Wilona menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu ia menduduki tubuhnya ke atas sofa.

__ADS_1


"Aku harus tahu di mana wanita itu berada!" gumamnya sembari mengepalkan tangan


☆☆


__ADS_2