Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Pingsan


__ADS_3

Semuanya sudah lengkap hadir di meja ini. Kedua calon mempelai, wali nikah, penghulu, hingga saksi. para tamu dari kerabat terdekat pun turut hadir menyaksikan prosesi akad nikahnya. Dave berdehem, berusaha menetralkan tenggorokannya.


Wali nikah, ayah kandung dari Wilona, mengulurkan tangan dihadapan sang mempelai pria. Dave membalas ulurannya, keduanya saling berjabat tangan dihadapan semua orang, khususnya diatas kitab suci.


Ijab qobul dimulai. Sang wali mengucapkan kalimat ijab yang mampu menggetarkan Asry di langit sana. Dave mulai keringat dingin, tiba-tiba saja rasa gugup menyertainya. Apakah ia teringat dengan akad nikah sandiwara beberapa bulan lalu? Dulu ia hanya main-main, kini dihadapkan dengan prosesi yang amat serius dan disaksikan banyak orang.


"Sa-saya terima nikah dan kawinnya Mawar Kha--


"Stop, stop! penyebutan nama mempelai wanitanya salah!" tegur Pak Penghulu yang mendampingi wali nikah


Sontak acara pun menjadi riuh. Banyak dari kerabat mulai bertanya-tanya dengan bingungnya, siapa yanh tengah disebut oleh Dave. Dave panik, apalagi melihat reaksi orang-orang. Diliriknya Wilona, perempuan itu menatapnya dengan tajam.


Tiba-tiba rasa pusing pun mulai menggerayangi Dave. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya terhoyong-oyong sembari memegang kepalanya yang dirasa sangat pusing.


Deg!


Dave tumbang, untung para saksi menangkap tubuhnya dengan cepat. Wilona dan orang sekitar sangat panik, ada apa dengan Dave?


"Dave! Sayang?" Wilona mengguncang-guncang tubuhnya


"Dave? bangun, Nak!" jerit sang ibu. Lalu wanita parubaya itu memerintahkan beberapa orang untuk membawanya ke sebuah ruangan.


Di sana, Dave dibaringkan. tubuhnya berkeringat dan suhunya pun dingin. wajahnya pun tampak pucat, ada apa dengan sang putra? Padahal sebelum acara, Dave sudah menyempatkan diri untuk sarapan dan minum secukupnya.


Wilona yang berada disisinya, sangat panik. Bagaimana jika pernikahan ini batal dan diundur entah sampai kapan. Apalagi banyak tamu undangan yang turut memeriahkan resepsinya nanti.


"Bagaimana ini, Ma?" rengek Wilona kepada sang ibu. Ia berbisik

__ADS_1


"Tenanglah, semoga bentar lagi Dave siuman." mamanya menenangkan putrinya


"Aku takut batal,"


"Tidak akan."


Tak berapa lama, teman dekat Dave yang merupakan seorang dokter pun datang menemuinya dengan membawa segala alat perkakasnya.


"Permisi, Tante." ucapnya dengan sopan


Semua orang menjauh darinya, kecuali ibu dari Dave. "Tolong periksa keadaan Dave, ya, Gilang?" pintanya


"Baik, Tan."


Dokter Gilang mulai memeriksa keadaan pria yang terbaring lemah di ranjang hotel ini. Wajah pucat, tubuh dingin, segera ia memeriksa tekanan darahnya. lalu beralih pada mata, hingga terakhir adalah dadanya.


"Bagaimana?"


Mama menarik napas sebanyak-banyaknya, dadanya amat sesak mendengar hal itu


"Ini, Tan, saya resepkan beberapa obat untuk dikonsumsi,"


"Baiklah. Terima kasih, Nak Gilang." mama menyambut secarik kertas yang diresepkan.


"Ada baiknya kasih minyak kayu putih, Tan, supaya Dave bangun menghirup aromanya," saran Dokter Gilang menyodorkan minyak angin tersebut


"Ohya?" mama tertegun mendengarnya. Segera ia ambil benda tersebut lalu menaruhnya dibawah lubang hidung sang putra.

__ADS_1


Keluarga yang berada di sana, turut memperhatikan. Wilona tampak cemas sekali, ia takut pernikahan itu batal.


Disaat suasana lagi genting begini, bisa-bisanya Wilona malah merisaukan acara yang berlangsung hari ini, dari pada memikirkan keadaan fisik calon suaminya. Sang ibu menegur gadis itu, untuk menjaga sikapnya dihadapan kerabat Dave.


"Jaga sikapmu! Orang lagi terkapar sakit, kamu malah risau nggak jadi nikah,"


**


Disisi lain, Mawar yang sedang fokus mendalami produk perusahaan ini, dikagetkan akan kedatangan seseorang yang tengah berdiri dihadapannya.


Mawar mendongak, ia tertegun melihat pria bernama Daniel, menghampirinya.


"Ada apa?" ketus Mawar


"Makan siang bareng, yuk, sama anak-anak lain." ajaknya


"Hah? serius?"


"Iya, Mawar, ayo!" sahut rekan kerjanya bernama Vira


"Boleh deh." Mawar mengangguk setuju sambil mengulum senyum


Kini tibalah mereka semua di sebuah restoran, duduk berjejeran di meja persegi panjang khusus untuk rombongan. Mawar melihat menu yang tertera dibuku, seketika ia menelan saliva dengan kasar kala menatapnya.


"Mau yang mana?" tanya Daniel, pria kemarin yang mewawancarakannya. Bukan HRD, hanya diutus untuk menyeleksi gadis ini


"Jika boleh milih, ada beberapa yang aku mau. Tapi, ingat uangku nggak sebanyak nominal harganya, hehehehe," Mawar terkekeh

__ADS_1


Kemudian ia menutup mulut, menahan malu.


☆☆


__ADS_2