
Dave memberikan pencerahan kepada Mawar jika seluruh toko cake telah banyak yang tutup tatkala waktu yang menunjukkan larut malam. lagi pula dirinya masih kurang enak badan akibat kehujanan. mendengar penjelasan itu, Mawar pun terpaksa menerima pemberian lelaki ini asalkan keesokan harinya keinginannya akan redvelvet brownies terpenuhi.
Setidaknya Dave sudah berada di titik aman, esok hari ia akan menuruti keinginan perempuan ini. Mawar menelan salivanya dengan susah payah melihat brownies coklat yang tidak kalah mengugah selera. Siapa yang tidak tergiur akan bentuk dan rasanya, semua orang sejagat raya pasti juga menyukai rasa cokelat.
Mawar mengambil pisau yang berada disisi cake, mulai memotongnya untuk segera ia cicipi. perutnya benar-benar keroncongan, padahal sebelum berangkat ke Jakarta ia sudah menikmati masakan ibu dengan lahapnya. para cacingnya sungguh meresahkan, anehnya lagi brownies dan ketoprak tiba-tiba terngiang dipikirannya.
"Enak, kan? sama aja kok antara coklat dan redvelvet. makan saja apa yang ada," ucap Dave, yang tengah mengganti pakaiannya
"Iya, sih. tapi pengennya redvelvet,"
"Besok aku beli." Dave melenggang masuk ke kamar mandi menimggalkan Mawar sendirian di atas ranjang menikmati santapannya sembari menonton televisi.
Ketoprak dan beberapa potong cake telah ia lahap hingga kekenyangan. menimbulkan rasa kantuk tak bertepi, menuntun sang raga menjatuhkan tubuh diatas ranjang. sepasang matanya tlah sayu, tak mampu lagi bertahan menatap dunia. Selang tak berapa lama, akhirnya Mawar sudah tenggelam dalam balutan mimpi yang indah, terlelap begitu pulasnya tak peduli dengan sang suami yang masih terjaga.
Dave menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya. perempuan ini tampak rakus melahap habis makanannya hingga menyisakan separoh brownies. Parahnya lagi, Mawar tidak mengizinkan Dave mengambil miliknya walau secuil saja. padahal cake brownies cokelat berhasil membuat air liurnya hampir menetes.
"Jangan sesekali ambil milikku!"
Glek!
Dave terhenyak sambil menelan ludah dengan kasar kala mendengar suara Mawar yang tengah mengigau. bisa-bisanya dalam keadaan tidak sadar pun wanita ini masih memperingatinya.
__ADS_1
Dave merasa frustasi, mungkin lebih baik ia menyusul sang istri ke alam mimpi. dari pada memerhatikan brownies yang tergeletak diatas nakas, membuat jiwanya meronta-ronta.
***
Uwek!
Uwek!
Pagi-pagi sekali, terdengar kebisingan di kamar mandi. ternyata sosok Mawar tengah muntah, membuang apa saja yang bergejolak didalam perutnya. wajahnya terlihat kemerahan, air mata berlinang di pelupuk matanya, sesuatu didalam sana terus mengusik pertahanannya. berulang kali Mawar mengeluarkan seluruh makanan di dalam lambung hingga ia terduduk lemas terkulai tak berdaya.
"Aaah, ibu ..." Mawar mengadu kepada sang ibu yang jauh di sana sembari memegang perutnya. lagi-lagi rasa itu kembali mencuat, Mawar pun bangkit dan segera memuntahkan segalanya.
Disisi lain Dave masih tertidur pulas, pria itu tak mengetahui jika sang istri baru saja mengalami gejolak angin yang memenuhi perutnya.
Biasanya jika perutnya kembung, ibu selalu membuatkannya minuman hangat yang diseduh dengan jahe. Mawar pun ingin menerapkannya, diobati dengan minuman hangat bisa mengurangi rasa mualnya dan membuat tubuhnya sedikit lebih baik.
Mawar menghirup dalam-dalam teh hangat miliknya, terasa menenangkan seolah aroma terapinya menyelusup masuk menghangati rongga dadanya. benar saja, meneguk teh hangat mampu mengurangi rasa mual yang terus bergejolak sedari tadi.
☆☆☆
"Kamu sudah masak secepat ini?" Dave yang terjaga karena tidak mendapatkan rasa hangat disisinya sontak mencari Mawar ke segala arah, termasuk dapur yang langsung menyuguhkan aroma lezat menyelusup masuk ke dalam indra penciumannya.
__ADS_1
Benar saja, Dave mendapati Mawar tengah menata masakannya diatas meja.
"Ya, aku terbangun lebih awal. dari pada menung lebih baik masak, kan?" jawabnya
Dave mengangguk setuju. pusat perhatiannya bukan lagi ke masakan, melainkan aroma terapi yang tidak asing baginya.
"Bau minyak angin, ya?" katanya, mengendus wangi menyengat ini dari tubuh Mawar
Mawar tersenyum kecut, ia mengangguk ragu kepada sang suami. "Sepertinya aku masuk angin, jadi aku oleskan minyak angin ke tubuhku."
"Benar yang ku bilang, ini akibat hujan-hujanan, jadi baru terasa sekarang efek keras kepalamu itu!" geram Dave, sedikit menjitak kepala sang istri
Mawar menggaduh, mengusap kepalanya yang dijitak oleh pria gila ini.
"Ini memang salahku, tapi jangan main jitak segala, aduh!" protesnya
"Kurangi kekanak-kanakkanmu itu! macam budak saja nggak ingat umur."
...~Bersambung~...
...Oalah bang ... kok dimarahin sih?🤧...
__ADS_1