
Mawar termenung melewati lorong rumah sakit menuju apotik untuk mengambil beberapa obat.
Anak yang ia kandung adalah perempuan, namun masih belum jelas tatkala hasil sesungguhnya bisa dicek beberapa bulan kedepan.
Mawar berharap janinnya laki-laki. Jika perempuan, sungguh malang sekali jika dia dewasa nanti dan akan menikah dengan pasangan hidup, tidak ada yang bisa menjadi wali nikahnya, kecuali hakim.
Mawar tahu, setiap anak yang terlahir dari luar pernikahan, pasti akan punya konsekuensinya masing-masing. Seketika Mawar mengeram kesal kala teringat lagi dengan perbuatan Dave yang mengelabuinya.
"Andai Dave benar-benar menikahiku, anakku tidak akan menerima kenyataan yang ada pada saat ini," gumam Mawar
"Aku benci padamu, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan janin ini." harap Mawar
Mawar sudah tiba di area apotik. Menyerahkan selembar kertas berisi resep obat kepada apoteker lalu membenamkan bokongnya pada sebuah kursi sembari menunggu namanya dipanggil.
*
"Banyak job nampaknya, Mbak?" sapa salah seorang rekan kerjanya
"Hah, enggak, baru ketemu sama satu orang," jawab Mawar. Ia duduk dimeja kerjanya
"Tadi habis ke rumah sakit buat kontrol," tambahnya
Lawan bicaranya pun tampak mengernyitkan dahi. "Mbak sakit?"
Mawar terdiam sejenak, setelahnya Mawar terpaksa mengangguk seraya mengulum senyum. "Bisa dibilang begitulah,"
"Sakit apa, Mbak? bahaya sih kalau parah," gerutunya
"Bukan apa-apa, aku baik saja kok, tenang aja." pukas Mawar. Ia merasa sedikit risih dikepoi seperti itu
__ADS_1
Mawar masih belum siap mengungkapkan kenyataannya jika ia tengah mengandung. Dirinya takut dikucilkan, dihina menjadi wanita murahan hingga sampai kebablasan seperti ini. Mungkin lebih baik, nanti saja jika dirinya benar-benar sudah siap, apalagi disaat semuanya sudah curiga akan kebuncitannya yang kian menambah
"Moga cepat sehat, ya, Mbak!"
Mawar mengangguk mengiyakan sambil tersenyum. "Aamiin."
Mawar merogoh obat yang ia simpan didalam tas. mulai mengambil satu persatu, obat yang mana saja harus ia minum pada siang begini.
Mawar mengambil vitamin penguat janin maupun untuk sang ibu, ada beberapa vitamin yang diberikan dan segera is tenggak dengan cepat, disusul air mineral sebagai pelancarnya.
Mawar sedikit lega. sembari mengelus perutnya yang cukup buncit, terselip sedikit doa untuk sang janin.
**
Sore telah tiba namun matahari masih tampak terik memancarkan sinarnya. Dave telah kembali pulang ke kediamannya dengan langkah gontai, sedikit menahan rasa pusing. Tampak suara televisi yang menyala, mengalihkan perhatiannya. ternyata Wilona, tengah asyik menonton sembari menikmati salad buah buatan bibi.
"Sayang, aku pulang." ucap Dave memghampiri
Dave mendekat, membenamkan bokongnya disofa tepat disamping sang istri
"Wil,"
"Hmm?" Wilona menoleh sebentar
"Aku ada sesuatu," lirih Dave sembari merogoh sesuatu dari dalam tas kerjanya
"Apa tuh?" Wilona mengernyit dahi
"Ini!" Dave menunjukkan beberapa bungkus benda bak seperti stick ice cream kepada sang istri
__ADS_1
Wilona tertegun, kedua matanya tak berkedip melihat benda tersebut.
"Test pack??" Wilona merebut benda tersebut dari tangan Dave
"Iya. besok pagi dipakai, ya, aku mau lihat hasilnya," pinta Dave
"Hah??" Wilona tergelak tak percaya, sedikit ada rasa senang didadanya. "Menurutmu aku hamil?"
Dave mengangguk sambil mengulum senyum.
"Iya. Aku yakin itu,"
"Oh, ya ampun ... pantasan saja tiap pagi aku suka mual dan lebih senang dengan salad buah dari pada nasi," imbuhnya, girang
Calvin tertegun mendengarnya.
"Kamu mual juga?" tanya Dave
Wilona mengangguk mengiyakan. "Ah, semoga saja feelingmu benar, Sayang." Wilona menghambur memeluk sang suami.
Namun, baru saja tubuh keduanya saling menyentuh, sontak saja apa yang ada didalam perut Dave, kembali bergejolak.
"Uk!" Dave berusaha menahan mual ini lagi agar tidak muncrat ke sembarang tempat
Wilona tampak cemas melihatnya.
"Kamu kenapa, Yang?" Wilona kembali mendekat, namun Dave menjulurkan tangan agar Wilona tidak mendekatinya
"Jangan mendekat!"
__ADS_1
☆☆☆