Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Kekang


__ADS_3

Dua minggu berlalu, seminggu belakangan ini Mawar sudah tidak bisa lagi menghindar dari suaminya. pria itu begitu telitinya menghitung masa haid, yang sebenarnya adalah sandiwara Mawar mengecoh sang suami. Disela hubungan mereka, Mawar berharap janin yang ia kandung tetap baik-baik saja setelah sang ayah menjenguk jabang bayi tersebut.


Kini sudah waktunya Mawar ke rumah sakit untuk berkonsultasi kepada dokter. namun ia begitu bingung akan memberi alasan apa agar Dave mengizinkannya pergi tanpa mengekorinya.


Mawar berpikir keras, apakah ia akan pergi begitu saja tanpa memberitahukannya?


"Sepertinya aku harus nekad saja dari pada diintrogasi mau ke mana. apa lagi kalau dia sampai minta ikut," gumam Mawar


Mawar mengambil ponselnya yang ia taruh diatas meja. mencari kontak seseorang diaplikasi hijau untuk segera menghubunginya. Mawar celingak-celinguk ke sana kemari, terutama pintu ruangan Dave, berharap semua orang disekitarnya tidak dapat mendengar apa yang ia bicarakan.


Mawar menghubungi dokter tersebut, ingin menyampaikan jika ia hanya bisa pergi diwaktu jam istirahat. akhirnya Mawar bersyukur, dokter itu bersedia meluangkan waktu untuknya


"Hah, syukurlah dokternya mau." gumam Mawar


☆☆☆


"Mawar ke mana?" tanya Dave pada Chilla yang akan pergi dengan rekan-rekannya. kebetulan mereka berpapasan, Dave segera menghentikan langkah kaki mereka


"Tidak tahu, Tuan." jawab Chilla


"Kamu kan teman dekatnya, masa tidak tahu?"


"Mungkin ada urusan diluar, Tuan. lagian ini sudah jam istirahat, emang Tuan mau makan siang bersamanya?"


Dave terdiam sejenak. "Tidak. ada urusan kerja yang mau dibicarakan. pergilah!" usir Dave, yang segera diangguki oleh lawan bicaranya


Dave kembali masuk ke ruang kerja, lalu berjalan ke ruangan assisten ingin melepaskan penat di sana. Assisten Refal yang sedang bermain game online pun tidak mrngetahui kedatangan sang tuan, masih tetap berkutat dengan game yang telah berhasil memperdayai banyak orang.

__ADS_1


"Sejak kapan kau bermain?" celetuk Dave. sontak Assisten Refal sedikit kaget melihat kedatangannya


"Eh, baru saja juga." jqwabnya


"Selesaikan tugasmu baru bermain!"


"Tenang sajalah, aman kok." ucapnya begitu enteng


Dave memutar bola matanya, jengah. hingga tiba-tiba ia berkata, "Kerahkan anak buah untuk mencari Mawar!" perintahnya


Sontak saja Refal menoleh, menghentikan kegiatannya sejenak sambil mengernyit heran menatap Dave yang tengah memijat pangkal hidungnya.


"Apa yang terjadi? dia kabur?" tanya Refal


"Entahlah. dia pergi tanpa izinku,"


"Ya ampun ... biarkan saja dia bebas sesekali, Dave. kau terlalu mengekangnya," gerutu Assisten Refal sambil menggeleng-gelengkan kepala


Dave berdecak kesal. mana bisa ia melepaskan wanita itu walau hanya sedetik saja. ia sedikit merasa khawatir jika Mawar pergi darinya, sudah terbiasa berada didekatnya membuat Dave semakin berlaku posesif pada Mawar.


"Dia nggak mungkin pulang kampung, kan? walau begitu, kita tahu di mana kediamannya."


"Tenang sajalah, dia orang baru di kota ini."


"Justru baru itu, aku takut dia kenapa-napa!" geram Dave


"Dia bukan anak kecil kaleee! nanti juga kembali," Assisten Refal memutar bola matanya, pria yang kini menjadi lawan bicaranya terlalu bersikap lebay dan sekhawatir itu pada istrinya. mungkin karena efek ditinggal tunangan, sampai wanita yang kini bersamanya selalu ia jaga dan harus berada didekatnya.

__ADS_1


Entah sindrom apa itu.


Disisi lain, Mawar sedikit lega mendengar penjelasan dokter bahwa kandunngannya tidak bermasalah jika sering dikunjungi oleh sang ayah. lebih jelasnya, selama kondisi Mawar dan kandungannya sangat sehat, maka berhubungan masih dapat dilakukan walaupun tidak boleh terlalu sering.


Rasa khawatirnya pun seketika lenyap mendengar hal itu. disela obrolannya bersama bu dokter, tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa adanya kata permisi sedikit pun. Mawar sedikit heran, tanggapan bu dokter pun hanya tersenyum kepada sosok yang baru datang.


"Assalamualaikum, Ma." ucap seorang pria, yang langsung menyalimi tangan orang tuanya. hingga beralih kepada Mawar.


Bu dokter pun menjawab salamnya, sama halnya dengan Mawar.


"Ah, kamu selalu saja bawakan bekal buat mama," ucap bu dokter. Mawar hanya diam menyimak kehangatan antar ibu dan anak ini


"Kalau begitu saya permisi dulu, Dok." Mawar yang merasa tidak enak hati berada diantara mereka, ia pun bangkit ingin pamit mengundur diri.


Namun bu dokter malah menahannya


"Tunggu dulu. kenalin nih anak ibu, sekalian kita makan bareng. dia kebiasaan belikan bekal sebanyak ini," gerutu Bu dokter sambil tergelak


Mawar terpaku mendengarnya. ia mengulum senyum sambil menyodorkan tangannya kepada pria itu.


"Saya Mawar, Tuan."


"Hallo, Mawar. saya Daniel, senang bertemu denganmu." sambutnya. Mawar tersenyum kikuk, canggung sekali


"Duduklah, kita lanjutkan mengobrol."


"Aduh, jadi nggak enak." ucap Mawar, mengelus tengkuk lehernya yang tidak gatal.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2