
"Apa kamu senang hari ini?" tanya Dave sekali lagi
"Ya, tentu saja aku senang. pertanyaan macam apa itu," gerutu Mawar. Ia kembali menyeburkan diri ke dalam air kala tangan Dave mulai nakal menyusuri paha mulusnya
Mawar seolah mengelak dengan apa yang terjadi selanjutnya, maka dari itu ia lebih memilih melanjutkan renang yang sempat ia tunda. sedangkan Dave menghembuskan napas dengan pelan, menyaksikan sang istri begitu lihainya menguasai air. Suasana cerah pada siang hari ini pun cukup membantu, Dave bergegas melepaskan seluruh balutan benang yang menutupi tubuhnya, kecuali sangkar emasnya. lalu membenamkan tubuhnya ke dalam air kolam yang cukup luas.
"Kamu pandai berenang?" tanya Dave, Mawar menyibak rambutnya yang tergerai, pesonanya terekspos nyata dalam pandangan sang suami
Dave menelan salivanya dengan susah payah
"Seperti yang kau lihat," jawab wanita itu. menyeruput orange juice miliknya yang ia taruh di tepi kolam
Dave mendekatinya, membenamkan seluruh tubuhnya hingga menghilang ditelan air. seketika Mawar terhenyak kala pahanya disentuh oleh sesuatu, menjalar mengenai miliknya. sudah jelas ini adalah ulah Dave yang menyentuhnya dari dalam air.
"Ya ampun, apa yang kau lakukan?" Mawar menghindar darinya. perempuan itu bergegas naik ke permukaan, segera menyambar handuk kimono lalu mengenakannya dengan cepat
"Ck! kenapa kau malah kabur?" Dave berdecak kesal
"Aku lagi nggak mau disentuh, Dave."
"Kenapa?" wajah sendu menghiasi ketampanannya, Dave menyusul sang istri yang buru-buru masuk ke dalam kediamannya. entah apa yang terjadi pada perubahannya, ia pun tak mengerti. apakah karena wallpaper itu? seketika pikiran Dave tertuju ke arah sana.
Sungguh, Mawar sedang tidak ingin bercinta dengannya. bayang-bayang perempuan itu masih melekat dibenaknya. dan lagi kehamilannya masih sangat muda, Mawar takut untuk melakukan hubungan itu setelah ia sempat mencari tahu dampaknya melalui aplikasi pintar di ponselnya.
__ADS_1
"Apa kamu pikir perempuan di ponselku adalah kekasihku, hm?"
Deg!
Sontak saja langkah kaki Mawar terhenti mendengar ungkapan itu. sebenarnya ia juga penasaran siapa wanita tersebut, namun Mawar lebih memilih bungkam dan tidak berminat mengetahuinya. karena Dave menyinggung potret itu, jiwa ingin tahunya pun meronta-ronta.
Mawar menghela napas panjang, ia mengelak untuk tidak terlalu mencampurinya.
"Perempuan? yang mana?" Mawar membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. pura-pura tidak mengerti siapa perempuan yang dimaksud. Ia pun begitu pandai menyembunyikan rasa penasarannya
"Jadi kamu nggak tahu? nggak buka ponselku?" bukannya menjawab, Dave malah balik bertanya
Mawar menggelengkan kepala memasang raut wajah lugunya
"Ini, dia adik perempuanku. sekarang sedang sekolah di Amrik." jelas Dave
Mawar mengangkat sebelah alisnya, mulutnya membulat membentuk huruf O seolah tidak peduli. walau sebenarnya ia sedikit lega setelah mengetahuinya.
"Oh. adikmu? cantik juga." Mawar mendekati sang suami, merebut ponsel itu dan menatap wajah cantik nyaris sempurna yang dimiliki oleh seorang Wilona. yang sesungguhnya adalah sang tunangan
"Ya, dia adikku." Dave membenarkannya. jantungnya kini tengah berdegup sangat kencang, berdebar kuat seolah habis marathon mengelilingi lapangan GBK
Mawar mengembalikan lagi ponsel itu, usai sudah rasa penasarannya terhadap perempuan tersebut.
__ADS_1
"Jadi, bisakah kau tidak menghindariku?" tanya Dave
Mawar memiringkan bibirnya, arah matanya menghadap ke atas sembari berpikir. lalu ia menganggukkan kepala tanda setuju untuk tidak menghindarinya.
"Baiklah. tapi--aku sedang tidak mau untuk melakukan itu."
"Kenapa?" Dave berdesah frustasi
Lelaki ini gatal sekali! batin Mawar
"Aku lelah, Dave. setiap hari kamu menghajarku sampai suhu tubuhku ini naik turun. untung saja tadi sempat beli obat demam sama koyo ke apotik," keluhnya
"Lagian perutku mulai keram, makanya nggak mau buat gituan." sambungnya
Dave menyimak dengan hati mencelos sekaligus raganya runtuh tak bersemangat
"Sakitmu terlalu parah, lebih baik kita ke rumah sakit saja menemui dokter yang paling ahli menangani ini." Dave mulai posesif, tangannya hampir menyentuh perut Mawar hingga dengan sigapnya Mawar kembali menghindar dengan sekali langkah.
"Untuk apa ke dokter! biasanya kalau kayak gini mah tanda-tanda mau haid," ucap Mawar, memutar bola matanya, jengah. Ia segera meninggalkan Dave, menaiki anak tangga menuju kamar mereka
Sedangkan Dave masih terpaku mendengar kata haid.
"Haid???"
__ADS_1
...~Bersambung~...