
Ruang kamar hotel terlihat indah dengan perabotan tersusun rapi. suasananya pun begitu nyaman untuk ditempati. didesien modern tampak manis dipandang, membuat semua orang yang menempatinya tak akan merasa nyesal. Namun, dari segala kerapian dan apiknya, ada satu sisi yang sudah tampak berantakan. Hawanya pun berbeda, terasa panas tak seperti yang lainnya.
Tentu saja, sang penghuni kamar tengah bermain cinta diatas ranjang. bergelut saling menggapai kepuasan semata. Segala posisi mereka lakoni, diiringi pula suara ******* yang begitu panas. dua insan itu terlihat sangat bergairah, hentakkan yang kencang mengayunkan nada indah dari bibir mereka.
Walaupun pelu telah membasahi tubuh, namun bara api terus berkobar tak kenal padam. rasa lelah setelah seharian bekerja, mereka singkirkan. seolah rasa itu sudah tiada tergantikan rasa nikmat yang luar biasa. Dave mengecup ceruk leher mulus sang istri, meninggalkan bekas kepemilikan di area sana. sedangkan pada bagian bawah terus bekerja tanpa kenal ampun. Mawar terus mendesah merasakan nikmatnya surga dunia yang diberikan. sesekali ia mengerang kala Dave menarik pucuk bukitnya dengan kencang.
Rasa denyut dibagian bawah mengeluarkan lava susu begitu derasnya menyiram kantung tersembunyi yang tak dapat dilihat oleh mata. kedua insan ini pun akhirnya lega setelah apa yang mereka capai telah diperoleh. namun, tak cukup sampai disitu dan belum berada dititik terakhir, Dave bangkit lalu membalikkan tubuh Mawar menghadap ranjang. Dave menarik bokong sang istri, menekan bagian perutnya kebawah agar menyentuh ranjang. hingga sesuatu yang masih keras kembali menghantam pertahanan Mawar.
"Oh!"
☆☆☆
Mawar dan Dave baru saja keluar dari dalam kamar mandi dalam balutan kimono melapisi tubuhnya yang basah. Dave tampak segar dan wajahnya terlihat cerah dengan senyum indah menghiasinya. sedangkan Mawar merintih ngilu kala miliknya terasa perih setelah dua jam dihajar tanpa ampun, tanpa jeda sekali pun.
Mawar mendudukkan tubuhnya diatas ranjang, berselonjor sembari menekan miliknya agar rasa nyeri ini segera lenyap. sedangkan Dave tampak tidak acuh, pria itu menyalakan televisi dan duduk disamping Mawar begitu santainya tanpa rasa berdosa.
"Jahat banget, sih ... nyeri," keluh Mawar. menatap sinis pada pria disisinya ini
"Nanti juga hilang nyerinya." begitu gampangnya dia berbicara
__ADS_1
Mawar menghembuskan napas kasar, kesal. sekali lagi ia teringat permainan kasar sang suami yang membuatnya tidak bisa diam. tak ayal, rasa nikmat juga ia dapatkan dari sentuhan pria itu.
"Jadi kapan beli semua keinginan aku?" rengek Mawar setelah dirinya tidak diacuhkan Dave
Dave terpaku, ia baru sadar akan hal itu.
"Buruan pergi sana!" usir Mawar
"Iya-iya! aku hubungi Refal dulu," Dave segera menggapai ponselnya yang ia taruh diatas nakas
"Buat apa?" Mawar bingung
"Ck!" Mawar mencebikkan bibirnya. "Aku maunya kamu! ini jam istirahat orang tidak seharusnya kamu ganggu!" erang Mawar
"Jadi, aku yang beli?" Dave menunjuk dirinya sndiri
"Tentu saja! beruntung dirimu sudah diservice, sekarang giliran aku yang harus diservice!"
"Is! padahal yang barusan itu udah nyervice kamu juga, lho." gerutu Dave, protes
__ADS_1
"Idih! perhitungan! pergi sana, gih, tadi sudah janji!" Mawar terus mendorong tubuh kekar sang suami sembari merengek seperti anak kecil. keinginan ini memang tidak dapat ditunda, memang seharusnya kini juga dipenuhi
"Iya-iya!" Dave akhirnya menyerah, ia pasrah harus menjelajah jalanan ibukota yang sudah tampak semakin gelap.
Setelah kepergian Dave, suaminya, beberapa waktu lalu. Kini Mawar tengah menikmati udara malam di atas balkon sembari menyesap secangkir cokelat hangat dan beberapa cake yang tersaji didepannya. Sebelum pria itu melenggang pergi meninggalkannya, Dave terlebih dulu memesan makanan kepada pihak hotel agar sang istri tidak merasa jengah menunggunya terlalu lama.
Bayangkan saja, ia harus berkeliling mencari lima makanan itu. tak lupa memberi pakaian kurang bahan di toko pakaian wanita.
Mawar begitu menikmati kesendiriannya tanpa siapapun yang menemani. semilir angin menerpa rambut basahnya yang kian berangsur kering. tubuhnya yang masih dibaluti handuk kimono, dihantam kuat oleh angin yang membuat tubuhnya terasa sejuk. Seolah Mawar melupakan rasa sakit yang baru ia alami seharian ini, tidak lagi mempedulikan hal itu kala telah terlanjur dihipnotis akan pemandangan kota dari atas sana.
Mawar menunduk menatap jalanan panjang tanpa ujung. dipenuhi bermacam kendaraan yang memancarkan lampu sein sebagai penerang malam. Entah berada di mana mobil milik Dave kini, mata telanjangnya tidak dapat memprediksi keberadaan pria itu.
Kala terfokus pada jalanan, kendaraan, hingga ruko yang berjejeran. ditambah lagi akan kesendiriannya bertemankan sepi tanpa sang suami, seketika Mawar teringat oleh sesuatu yang teramat penting baginya.
Ya! sontak ia pun bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan sajian diatas meja.
"Eh, tunggu-tunggu!" Mawar menghentikan langkahnya
...~Bersambung~...
__ADS_1
Sepertinya aku nggak jadi berkelana membawa novel ini, Guys! tapi entah nanti kalau pikiranku berubah. soalnya di sini jarang sekali menyemangati aku dengan LIKE, KOMENT, HADIAH maupun VOTE, ditambah lagi FAVORITE🙄