Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Diabaikan


__ADS_3

Dave tidak sanggup tidur satu ranjang bersama istrinya kala rasa mual kembali bangkit menyerangnya. Ia mencoba tanpa mengenakan masker, masih saja rasa gejolak itu muncul walau dari jarak lima meter sekalipun. Wilona berdecak sebal ia ditinggal sendirian di kamar ini. Sedangkan Dave memilih tidur di kamar sebelah. dan itu sungguh melegakan perasaannya.


Wilona terus merutuk nasib sial yang dialami suaminya, hingga berdampak pada dirinya. Itu karena ulah janin yang dikandung Mawar. Walau mereka berjauhan, tapi kedua orang asing itu tak henti-henti mengusik suaminya.


Wilona bertanya-tanya, di mana keberadaan Mawar kini? apa masih di kota ini? entahlah, ia pun bingung memikirkannya


"Secepatnya, kerahkan anak buahmu ke Indonesia!" pesan Wilona kepada kekasihnya yang kini berada di Prancis


Disisi lain Dave yang mulai kelelahan dan gampang kantuk, berusaha tetap terjaga demi pekerjaannya yang tersisa sedikit lagi. Menggenggam macbook, membuat kesibukan di sana mengerjakan tugas yang terbengkalai. Berkali-kali ia menguap, kedua matanya pun mulai terasa pedih


"Ngantuknya luar biasa," gumam Dave, kemudian ia menguap untuk kesekian kalinya


"Ah, sudahlah, tidur dulu." ucapnya. Dave menaruh macbooknya diatas meja nakas. Kemudian ia beringsut membenamkan tubuhnya diatas kasur. Tak berapa lama, Dave sudah jatuh ke dalam mimpi yang indah. Berharap mimpi bisa memberi petunjuk tentang keberadaan Mawar.


**


Matahari menyingsing ke permukaan, burung-burung berkicau saling sahut menyahut di udara. Suara ayam berkokok membangunkan raga yang malas. Mawar mendudukkan tubuhnya seraya menguap lalu merenggangkan ototnya yang kaku. Ia membuka mata, mengucek matanya dengan pelan.


"Pagi, Sayang." kata Mawar kepada janin yang dikandungnya


Dengan malas Mawar bangkit dari ranjang. Tiba-tiba ia ingin menikmati bubur ayam dengan porsi besar. Sialnya, Mawar ingin jika yang membuatnya adalah ayah dari janin ini.


Mawar termenung didepan kulkas. Ia sedikit menyesal mengapa didalam mimpinya, ia melihat Dave memasak bubur ayam dengan penuh cinta sembari mengusap perut buncitnya. Mereka berdua tampak bahagia, hidup harmonis dan Dave senantiasa memanjakannya.

__ADS_1


Sontak saja Mawar terduduk dibangku dari kayu. Ia menunduk mengusap perutnya. "Sayang, apa kamu pengen masakan buatan papamu, hm?"


"Sampai-sampai disepanjang tidur kita, mama selalu memimpikan papamu yang sedang memanjakan kita."


"Gara-gara papa masak bubur ayam dan mengusap perut mama, mama jadi pengen. Mengapa terbawa ke kehidupan nyata sih?" desis Mawar, kesal


"Andaikan papamu tidak menipu kita, kita pasti sedang bersamanya sekarang."


"Antara menyesal dan bersyukur soal mama nggak bilang akan keberadaan kamu." Mawar tersenyum miris mengingatnya


Mawar kembali terdiam menatap langit-langit dibalik jendela dapur.


"Hhh ..." Mawar menghembuskan napasnya seraya berdiri. "Untuk sementara biar mama yang masak dulu, ya, Nak. rasanya pasti enak," ucap Mawar kepada janinnya


Mawar mulai merogoh bahan apa saja yang ada di dalam kulkas lalu mulai mengeksekusinya menjadi bubur ayam yang lezat


Disisi lain, Dave yang sedang menikmati sarapan paginya dengan bubur ayam, makanan yang ia minta kepada bibi subuh tadi, kini perut dan indra penciumannya mulai bereaksi kala melihat Wilona datang menghampirinya di meja makan.


"Uk!" Dave berusaha menahan perutnya sambil menutup hidung


"Sayang, kamu pergi sana! Kamu bau!" tuduhnya. Kemudian Dave berlari pergi menuju kamar mandi didekat dapur


Wilona mengernyitkan dahinya lalu mengendus-endus aroma tubuhnya. "Bau apaan? Wangi gini, baru siap mandi juga," gerutunya

__ADS_1


Uweek!!


Terdengar Dave kembali memuntahkan isi perutnya. Bibi yang berada di sana pun ikut panik


"Bi, emang aku bau?" tanya Wilona


"Tidak, Non, serius!" ucap Bibi


Wilona menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berdecak sebal


Tak berapa lama Dave kembali keluar dari kamar mandi. Ia melihat bibi dan Wilona tengah gelisah.


"Eeemh!" Dave menutup hidungnya, rapat


"Bi, bungkuskan buburnya untuk saya. Mau dibawa ke kantor aja," katanya


"Baiklah, Tuan."


Setelahnya Dave melenggang pergi meninggalkan Wilona yang terpaku sambil merutuk kesal.


Ia diabaikan


☆☆

__ADS_1


__ADS_2