
Mawar memilih berdiam diri disebuah kafe yang berada diseberang gedung milik keluarga Ghaza. menikmati hidangan makan siang untuk mengisi kekosongan perutnya, mengingat ada sang janin yang tengah tumbuh didalamnya. sembari makan siang, Mawar juga memerhatikan area seberang, sekali lagi ingin melihat sepasang pengkhianat itu dari jarak jauh.
Mawar meringis ngilu membayanginya, Dave mengkhianati tunangannya, begitu pula sebaliknya. mereka sama-sama bejat, sangat cocok untuk disandingkan. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap mereka, sambil mengelus perutnya, tanpa sadar tetesan air mata kembali keluar dari pelupuk matanya.
Cepat-cepat Mawar usap air matanya, ia tidak ingin terlihat lembek lagi. bukankah memang ini yang ia inginkan? berpisah dari Dave sampai ia membuat kontrak pernikahan. kenyataannya memang benar, tapi untuk dikecewain dan dikhianati seperti ini tidak mungkin ia terima dengan lapang dada. dan hal ini bukan yang ia inginkan.
Mawar tidak menyangka, ternyata ada lelaki yang memiliki sikap sebejat itu. misinya hanya menginginkan tubuh Mawar, mengikatnya dalam pernikahan supaya lebih leluasa pada tubuh ini.
Disela santapannya, Mawar menyipitkan mata kala melihat Dave keluar dari sebuah mobil berwarna merah menyala. Ia yakin sekali jika itu adalah mobil milik tunangannya. tanpa menunggu perempuan itu pergi, Mawar terlebih dulu bangkit dan berkemas. Ia melangkah cepat keluar dari area kafe, dengan bersikap tenang Mawar menyeberang dengan santai. sesekali tatapan matanya mengarah pada dua sejoli yang bersikap romantis didepan umum. si wanita melingkarkan kedua tangannya di leher Dave sambil mengoceh tidak jelas. sedangkan Dave memegang kedua pipinya, lalu mengecup kening wanita itu.
Mawar menaikkan sebelah bibirnya yang tertutup oleh niqab, menyaksikan mereka sungguh mengiris perasaannya untuk kesekian kali. Mawar lebih memilih membuang muka, ia tidak sanggup untuk melihatnya. seolah sebilah pisau tengah mencincang-cincang hatinya.
Melihat mobil berwarna merah yang dikendarai wanita itu melenggang pergi, sedangkan Dave menyisiri sekitar seolah mungkin tengah mencari dirinya, tidak semudah itu untuk menemui Mawar yang telah mengubah penampilannya menjadi wanita sholehah.
Mawar menyeringai, disaat itu pula sebuah taksi datang menghampirinya. Mawar bergegas masuk dan menyuruh sang sopir mengejar wanita bermobil merah yang masih terlihat oleh mata telanjangnya.
Kamu mencariku, disaat ada tunangan disisimu? kau lelaki yang paling bodoh pernah ku temui. batin Mawar ketika melihat Dave tepat disampingnya
Mawar buru-buru mengganti pakaiannya kembali sebelum ia melabrak wanita itu. beruntung saja tanktop dan celana pendek melindungi area dalam tubuhnya, hingga tidak perlu untuk bertelanjang bulat.
__ADS_1
"Lebih cepat lagi, Pak!" pinta Mawar setelah usai mengganti pakaiannya
"Baik, Neng."
Dalam kecepatan yang kian meninggi, mobil melaju kencang mengejar sosok itu. beberapa meter lagi jarak keduanya kian mendekat, Mawar bersiap-siap untuk turun kala mobil taksi berhasil menghalangi jalannya.
Tepat sekali, pak sopir lihai sekali dalam menghalangi jalan. Mawar bergegas turun dengan memasang wajah dinginnya.
Wanita bertubuh ideal bak yang diinginkan para wanita itu pun turun dari kendaraannya. kembali meraung tidak jelas dihadapan Mawar.
"Siapa kau berani sekali menghalangi jalanku, hah!"
"Aku, adalah istri tunanganmu itu! Dave Felixio Ghaza!"
"Aku sudah menikah dengannya sebelum dirimu! asal kau tahu itu!"
Wilona mendelik, sedikit kaget mendengarnya. namun setelah dipikir, mana mungkin Dave menikahi pegawainya, apa lagi memiliki tampang seperti Mawar. seketika saja ia tertawa terbahak-bahak, tidak percaya.
"Dasar udik!"
__ADS_1
"Orang bawah sepertimu jangan menghalu, deh! mana mungkin Dave menikahimu. seleranya sangat tinggi, bukan rendahan seperti kamu!" Wilona menunjuk-nunjuk dadanya, yang langsung Mawar tepis dengan kasar. hingga membuat Wilona meringis.
"Sombong sekali anda! jelas-jelas saja Dave yang lebih menginginkanku, dia memaksaku untuk menikah dengannya. jika kau tidak percaya, periksa saja kamarnya, ada barang-barangku yang masih tertata rapi!" tegas Mawar
Wilona terdiam mendengarnya. benarkah seperti itu, pikirnya.
"Lagi pula, kalian sama-sama pengkhianat. jadi, cocoklah!" ucap Mawar, sambil menatap jijik tubuh Wilona dari ujung rambut sampai ujung kuku.
"Kau!" Wilona mengerang, tangannya pun terangkat ingin menampar wajah Mawar. namun sebelum itu terjadi, Mawar lebih sigap menahannya.
"Ah, satu lagi! pasti seharian ini sejak bersamamu, Dave celingak-celinguk mencari keberadaanku. pria itu mana mungkin bisa tanpa aku yang sudah melayaninya setiap waktu."
"Pagi, siang, sore, malam, aku sudah menservice burungnya dalam ikatan halal. kami senang hati bercinta diranjangnya, dan sudah dipastikan hanya tubuhku yang dia inginkan. hahahahaa!!"
Mawar tergelak menceritakan kesehariannya bersama Dave, dan itu berhasil membuat wajah Wilona memerah menahan amarah. Mawar sangat menyukainya, ia berharap Wilona sungguh sakit hati mendengar pengkhianatan calon suaminya itu.
...~Bersambung~...
...Like banyak-banyak, guys! koment sesering mungkin, dan tidak lupa HADIAH dan VOTEnya kalau masih ada ðŸ¤...
__ADS_1