Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Bangkit


__ADS_3

Mawar menyepi diri disebuah danau yang luas. tempat yang direkomendasikan oleh supir taksi, atas permintaan Mawar. perempuan itu tidak lagi peduli dengan pekerjaannya, masa bodoh jika ia dinilai tidak profesional. Harga dirinya sudah dihancurkan, kepercayaannya pun telah dikoyakkan. mahligai rasa dihati pun tercabik-cabik, meninggalkan rasa sakit, kecewa, dikhianati, didzalimi, semua bercampur menjadi satu.


Tidak ada seorang pun yang mengetahui perasaannya, sebab mereka tidak tahu akan hubungan gelapnya. pantas saja Dave merahasiakan segalanya, tentangnya, dan pernikahan itu. karena disebaliknya ada Wilona yang teramat penting bagi lelaki bejat tersebut.


Lagi-lagi pun air mata terus mengalir deras tanpa henti. sebegitu banyaknya air suci ini tumpah hanya karena lelaki tak berakhlak itu. Mawar menyesalinya, mengapa begitu hanyut akan sentuhan Dave hingga ia membawa bagian darinya yang tidak mungkin Mawar lepaskan. ya, janin yang ia kandung, bagian dari diri Dave, melekat erat didalam tubuhnya.


Mawar mengelus perutnya, perut datar tapi terasa padat, sekilas buncit jika terlalu dirasakan. janinnya kelak yang akan selalu bersamanya, tak akan pernah Mawar ajarkan arti membohongi, hanya cinta dan kasih yang tulus akan ia sematkan dalam diri anaknya kelak.


Ya, Mawar tak akan membiarkannya menjadi pribadi ayahnya. pantang untuk Mawar jika keluarga kecilnya memiliki sikap sebejat itu.


"Kamu akan terus bersama mama, tak akan mama biarkan kamu bertemu dengannya. pantang sedikit saja kamu melihat, apalagi meniru sikap bejatnya." ucap Mawar pada sang janin. sembari mengusap air mata yang kian mengering, Mawar bertekad kuat untuk pergi sejauh mungkin.


"Sebelum kita pergi jauh, izinkan mama untuk membalas rasa sakit kita. mama akan beritahu wanita itu kalau dia juga dikhianati, sama seperti kita."


Mawar menyeringai bak iblis, memandang jauh ke depan membayangkan skenario alur yang akan ia jalankan. Mawar pun segera bangkit, ia bergegas kembali ke kantor untuk mengambil semua barangnya di meja kerja. mengingat waktu sudah menunjukkan jam istirahat, ia yakin bila Dave dan perempuan tersebut akan keluar untuk makan siang.


Tapi, mengingat jarak antara kantor dan taman ini berkisar hampir satu jam, mana mungkin ia bisa ke sana dan masuk ke dalam lingkup perkantoran. Bisa saja mereka akan berpapasan dan Dave akan menahannya. rasanya Mawar begitu muak melihat rupa lelaki itu.


"Sial! mana ponsel nggak bawa buat hubungi Chilla."


"Mama harus apa?


Mawar berdecak kesal, bingung harus bagaimana. mau tak mau pun ia harus kembali ke kantor untuk mengambil semua barangnya. beruntung saja di saku roknya ada uang dua ratus ribu, yang telah ia gunakan membayar taksi, beli baju gamis, tas, dan sisanya kini hanya bisa ia gunakan dengan menaiki gojek.

__ADS_1


"Semoga saja tidak bertemu dengannya!" gumam Mawar


☆☆


Dikondisi terpuruk saat ini, Mawar harus menjadi pribadi yang kuat dan tidak percaya lagi dengan ocehan lelaki. hatinya yang kecewa dan rapuh, berusaha bangkit demi menjauh dari lelaki bejat itu.


Kurang dari satu jam, akhirnya Mawar telah tiba di depan gedung ini. buru-buru ia masuk dengan mengenakan setelan gamis dan niqab. tak lupa amplop cokelat, seolah ia tengah melamar pekerjaan. Mawar sangat yakin jika Dave akan mengerahkan anak buah untuk mencarinya, bahkan mungkin mengawasi kawasan gedung ini.


"Permisi, anda siapa dan ada urusan apa?" seorang security menghentikan langkahnya


"Hmm ... saya Kirana, ingin bertemu teman yang akan mengajukan permohonan kerja saya ke HRD. kebetulan kabarnya ada lowongan disalah satu bagian." ujar Mawar yang menyamar


Jantungnya berdegup kencang ketika bertatapan dengan security ini.


Mawar buru-buru melangkah cepat, kebetulan suasana kantor tampak masih sepi. beruntung saja kang ojek membawanya dengan amat cepat, hingga suasana lengang ini bisa ia manfaatkan.


Mawar buru-buru mengambil dompet dan ponselnya, tak peduli dengan tas yang dirasa tidak penting baginya. penampilan pun telah ia ubah, mengenakan seragam pegawai, tidak membuat orang-orang disekitarnya terlalu curiga.


Disisi lain, Dave hanya diam membisu selama diperjalanan maupun waktu makan siang bersama Wilona. pikirannya telah dipenuhi oleh Mawar, yang pergi entah ke mana. bahkan anak buahnya yang tidak becus, tidak dapat menemukannya juga. sedangkan Assisten Refal, ia tugaskan untuk memantau cctv yang menayangkan meja kerja sang sekretaris.


Sampai saat ini pun belum ada laporan dari mereka, semakin membuat Dave pusing memikirkannya.


Apa aku harus merelakannya pergi? tidak-tidak! tidak akan! sampai kapanpun tugas mereka tetap mencari Mawar hingga ketemu!

__ADS_1


Batinnya bermonolog


"Kamu kenapa asyik diam saja dari tadi?" tegur Wilona


Dave menoleh ke kiri, menatap sang kekasih. "Nggak ada ... banyak pikiran mengenai wedding kita."


"Tenang saja ... aku sudah memilih WO yang keren, romantic dan tentunya sesuai seleraku." ucap Wilona


"Ohya??"


"Ya. kamu tenang saja, aku tidak akan membebankanmu."


Tapi kehadiranmu sudah memberikanku beban teramat berat.


...~Bersambung~...





Apakah Mawar akan ketahuan, Guys?? 😱

__ADS_1


__ADS_2