Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Stasiun


__ADS_3

Bagai sekuntum bunga yang layu, Mawar terkulai lemas disepanjang perjalanan menuju Stasiun Gambir menggunakan taksi yang sejak tadi begitu setia menunggunya. Beruntung saja ia bisa keluar dari rumah itu tanpa sepengetahuan keduanya, anehnya lagi Wilona justru melupakan keberadaannya. entah itu sengaja atau tidak, Mawar tidak peduli. lepas dari mereka sudah teramat bersyukur baginya.


Kini Mawar telah menjadi wanita yang paling merasa bodoh. beberapa kali ia tertipu oleh pria bejat tersebut. tidak disangka pada akhir cerita, seluruhnya terkuak bahwa ia dinikahi secara palsu. bagai batu besar dari atas bukit yang jatuh menghantam Mawar, raga ini sudah remuk, tidak ada apa-apanya lagi. Semangat hidup pun telah sirna, cahaya terang kehidupan pun telah redup. Mengingat ada janin saja Mawar berusaha untuk tetap kuat.


Mengingat ada sang janin didalam kandungannya, lagi-lagi air mata berderai tanpa permisi. entah keberapa kalinya ia menangis, hatinya begitu rapuh mengingat status anaknya yang tumbuh dari perbuatan haram.


"Maaf ... maafkan mama," suara serak Mawar tak kuasa untuk bicara efek menangis sejak tadi. Ia menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa henti, memikirkan masa depan anaknya sungguh tak dapat ia bayangkan.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Mawar telah tiba di Stasiun Kereta Api yang akan mengantarkannya ke sebuah kota pilihan Mawar untuk memulai hidup baru. Buru-buru ia bergegas mengenakan pakaian serba tertutup, berupa gamis, hijab dan niqab. Mawar masih memiliki firasat jika anak buah Dave masih berkeliaran di Ibukota mencari dirinya.


Dengan mata bengkak kemerahan, Mawar menatap pak sopir sambil mengucap rasa terima kasih karena telah mengantarnya ke tempat ini. Setelahnya ia bergegas masuk ke stasiun tatkala waktu keberangkatan akan segera tiba beberapa menit lagi.


Sembari menunggu pengumuman di tempat duduk yang tersedia, seketika Mawar teringat ibu dan adik-adiknya di seberang sana. entah bagaimana kabar mereka, beberapa hari ini Mawar belum pernah menghubunginya. Seandainya mereka tahu kejadian pilu yang baru saja diratapi Mawar, entah bagaimana tanggapan mereka. Sudah terbayangkan bila ibu akan menyesal dan menyalahkan dirinya. apa lagi hingga terdengar oleh juragan, pasti mereka tertawa lepas mendengar kehidupan pilu yang Mawar dapatkan.

__ADS_1


"Maafkan Mawar, Bu, andai saja Mawar menurut untuk menikahi anak juragan, setidaknya hidup Mawar nggak sekacau ini." gumam Mawar sembari melepaskan sim card diponselnya


"Mawar mau patahkan kartu ini dulu supaya bajingan itu tidak dapat menghubungi Mawar. ibu tenang saja, nomor hp Mela sudah Mawar simpan." sambungnya.


Mawar mematahkan sim cardnya hingga empat keping, dengan perasaan marah dan benci membayangkan wajah Dave yang terus melintas dipikirannya. ingin sekali menghajar wajah itu, namun apalah daya Mawar memilih untuk menghilang dari hadapannya.


"Kau akan mendapat karmanya, Dave, sudah mendzalimi aku dan anak ini, bahkan kau teganya memfitnatku!"


"Andai kau tahu, kekasihmu itu bukanlah wanita setia! justru dialah wanita murahan."


Mawar menyeringai membayangkan kehidupan lelaki itu dalam fantasi khayalannya. begitu berharapnya Mawar jika Dave akan mendapat ganjaran atas perbuatan yang telah ia ciptakan. Mawar percaya, do'a orang terdzolimi pasti akan terjabah oleh Sang Maha Kuasa. entah cepat atau lambat, pasti ganjaran itu akan terjadi.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, pengumuman keberangkatan telah dihimbau untuk para penumpang. Semua orang bergegas bangkit dari tempat duduknya, termasuk Mawar yang ikut berbondong-bondong memasuki kereta.

__ADS_1


Baru dua langkah berjalan, tiba-tiba tubuh Mawar terhuyung ke belakang tatkala seseorang tanpa sengaja menabraknya.


"Aaaw!" desis Mawar


Reflek sosok yang menyenggolnya dengan sigap menangkap tubuh ringkih Mawar.


Seketika saja Mawar melotot melihat sosok yang begitu ia benci ada dihadapannya.


***


Sepulangnya Wilona, Dave bergegas mencari Mawar yang berada entah di mana. Dave penasaran bagaimana bisa Wilona mengetahui semuanya dari Mawar. apakah wanita itu berada disekitarnya? tapi mata telanjang ini tak dapat menangkap sosok itu.


"Atau jangan-jangan dia sudah ke Stasiun? bisa saja Mawar ingin pulang ke kampung. oh, tidak!!" Dave menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh ia tak ingin berpisah dengan Mawar.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2