
Menyambut hari baru yang teramat cerah, Dave berkutat dengan tumpukkan kertas dihadapannya. beberapa dokumen harus ia tanda tangani sebagai tanda persetujuan akan kerja sama bersama beberapa kliennya. Tak berselang lama lagi, sang presdir dan assistennya akan menghadiri rapat yang telah diurus oleh sang sekretaris, Mawar.
Mawar menyiapkan berkas-berkas penting yang akan ia serahkan kepada Assisten Refal. setelah semuanya usai, ia pun bangkit berdiri, berniat mengunjungi ruangan assisten presdir tersebut.
Baru setengah bangkit, rasa pusing itu kembali menyerang. Mawar menggeleng cepat untuk mengusir serangan mengganggu ini. entah kenapa tubuhnya ikut merasa lelah, namum Mawar mencoba untuk tetap tegap menahan rasa lelahnya.
Dengan langkah cepat Mawar berjalan, tidak mempedulikan denyut pada pelipisnya.
Tok tok tok
"Masuk!" Assisten Refal menyahut dari dalam ruangannya
Mawar membuka pintu dengan pelan, tampak tidak bersemangat, menunjukkan tubuhnya yang lunglai. Assisten Refal yang memperhatikannya mengernyitkan dahi, ada yang tidak beres dengan istri tuannya tersebut.
"Nona Mawar," sapanya
"Tuan, ini--
Bruk!!
Sontak tubuh mungil itu pun ambruk ke lantai. namun masih setengah sadar sambil merintih kesakitan pada kepalanya. Assisten Refal segera mendekati Sekretaris Mawar, merangkul tubuh perempuan itu dan membawanya ke atas sofa agar segera ia baringkan.
"Panas sekali tubuhmu, Nona." ucap Refal, merasa kasihan melihatnya
"Saya butuh koyo," gumam Mawar. dahinya mengerut merasakan denyut teramat parah
Assisten Refal pun dibuat bingung, pasalnya ia tidak mengerti dengan yang namanya koyo. tidak ingin banyak berpikir, pria itu bergegas keluar dari ruangannya untuk mencari bantuan.
__ADS_1
Benar saja, salah seorang pegawai yang melewati ruangannya, seketika ia panggil untuk mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Koyo! kamu tau koyo?" tanya Refal
Pegawai wanita itu mulai berpikir, cukup lama ia pun mengamggukkan kepala seolah mengetahuinya. Refal bisa bernapas lega mendengarnya.
"Koyo itu jenis obat luar yang ditempelkan dibagian tubuh untuk meredakan rasa pegal, Tuan."
"Ohya? saya butuh kamu buat belikan obat itu, cepat!" titah Assisten Refal. wanita itu pun menurut, ia segera melakukan perintah sang atasan.
Disisi lain, Dave sedikit terganggu dengan kebisingan ruang sebelah, tepatnya ruangan sang assisten yang hanya dibatasi dengan tembok kaca tersingkap oleh kain gorden. Dave beranjak bangkit, jiwa ingin tahunya memuncak saat menangkap suara Refal tengah memerintahkan seseorang dengan nada tegas.
Sontak Dave mendelik melihat sang istri tengah berbaring di sofa ruangan Refal. tak hanya itu, Dave tercenung melihat sang assisten membantu Mawar untuk duduk dan memberikan segelas air putih kepadanya. Dave tidak bisa diam, walaupun di sini adalah lingkup pekerjaan yang salah satunya ia rahasiakan status Mawar, namun jika berada didalam ruangannya ataupun sang assisten, Dave tidak bisa hanya diam, cuek, tak mempedulikan. Ia harus menegakkan sikap saat melihat sang istri tengah berduaan dengan pria mana pun.
"Apa yang kau lakukan!" gertak Dave kepada sang assisten
"Nona Mawar hampir pingsan, Tuan. seharusnya anda sebagai suami, lebih memperhatikan kondisi kesehatannya." Assisten Refal, menceramahinya
Dave terdiam, tatapannya tampak sendu memandang wajah pucat disisi sang assisten.
"Minggir!" Dave, dengan begitu posesifnya menyingkirkan Refal dari sisi Mawar. kini Dave memeriksa suhu tubuh Mawar dengan punggung tangannya.
Seketika Dave terhenyak, perempuan yang hampir satu bulan ini bersamanya, sedang tidak enak badan kala demam melanda.
"Kita ke rumah sakit, ya?" ajak Dave dengan lembutnya
__ADS_1
Mawar menggelengkan kepala, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Aku sudah minum obat kok tadi, ini sedang nunggu pegawai kamu buat beliin koyo." jawabnya, tertunduk lesu
"Apa itu koyo?" Dave tidak kalah bingungnya
"Obat pusing, Tuan." sela Assisten Refal
"Itu hanya obat abal-abal, lebih baik kita ke rumah sakit saja." Dave memaksa
"Nggak perlu, lah. cuma sakit biasa efek hujan-hujanan kok. lagi pula apa kata orang melihat kita lengket begini?" ucap Mawar, ada benarnya juga. dan hal ini akan menjadi tanda tanya dipikiran para karyawan.
Sontak saja Dave teringat sama tunangannya, rasanya sudah cukup lama ia tidak menghubungi wanita itu. begitu pula dengan Wilona yang tidak melakukan hal yang sama.
"Baiklah. ku harap sepulang dari kantor kita akan memeriksa kondisimu!"
"Tapi--
"Ssssstt!!"
Tok tok tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian tiga anak manusia didalam ruangan ini. Refal, yang menjadi obat nyamuk diantara dua insan itu, melangkah maju mendekati pintu. Ia yakin jika yang datang adalah pegawai wanita tadi.
"Ini koyonya, Tuan."
"Terima kasih. sekalian teh hangat, tolong!" pintanya, yang langsung dituruti wanita tersebut.
__ADS_1
...~Bersambung~...