
Hari demi hari dijalanin dengan amat baik. Sudah satu bulan berlalu, Mawar semakin betah berada di kota ini. penduduknya baik nan ramah, begitu pula dengan teman-temannya. Hanya saja, ada satu yang tampak kurang suka padanya, apalagi Mawar lebih didekati oleh Mas Daniel.
"Mawar, mau ketemu klien?" tanya Mas Daniel
"Iya, Mas. Ini mau siap-siap," jawabnya
"Oke, aku antar, ya, seperti biasa."
"Eh, jangan! Aku bisa kok, aku udah hafal sama jalan Yogya," tukasnya
"Yakin?"
"Yakin banget,"
"Hmmm, sekalian nanti siang aku permisi," sambungnya
"Kemana?"
Mawar terdiam. Orang-orang belum pada tahu tentang kehamilannya. siang nanti ia memang mau ke rumah sakit untuk kontrol janin dikandungannya yang sudah menginjak dua bulan. Apakah ia harus memberitahunya? Semakin hari, perut ini pasti akan membesar dan membuat mereka curiga akan statusnya tersebut.
"Hmmm, ada urusan, Mas."
Tampaknya Mawar belum siap untuk memberitahunya. Sebaiknya ia sembunyikan saja dulu rahasia besar ini
__ADS_1
"Hm, baiklah, kamu pakai aja motorku,"
Mawar mengangguk mengiyakan.
Usai bersiap-siap, Mawar menyambut helm yang diberikan Daniel. Kemudian ia melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut untuk bertemu kliennya disebuah kafe.
Hanya mengandalkan google maps, sedikit membantunya menjelajahi kota ini. Sepertinya jika setiap malam ia berjalan-jalan menelusuri kota, nampaknya akan semakin mudah bagi Mawar untuk mengenal kota tersebut.
Namun sayang, rasa lelah bekerja seharian menyelimutinya. Menuntun Mawar untuk segera beristirahat, ditambah lagi terkadang pinggulnya terasa perih.
Selang beberapa menit kemudian, Mawar sudah tiba di kafe tersebut. Tak lupa ia memesan makanan dan minuman, kini Mawar bisa bebas membeli apa saja yang ia mau demi perkembangan buah hatinya. terutama sehat, dan baik buat janinnya.
Disisi lain, dua hari ini Dave selalu muntah dan tidak berselera makan. Terakhir ia mual saat hari pernikahannya. Kini, sebulan kemudian, rasa mual itu kembali mendera dan dirinya pun tak berselera makan. Dave sulit berkonsentrasi saat bekerja, kepalanya begitu pusing.
Dave segera membasuh wajahnya yang begitu pucat agar kembali segar. Setelahnya ia bergegas keluar dari toilet, berjalan tergopoh-gopoh. ketika dirinya tiba diambang pintu, dunia seakan berputar-putar, kedua matanya pun menjadi sayu hingga semuanya menjadi gelap tak terlihat apa-apa lagi.
Assisten Refal bingung, ia menepuk-nepuk pipi pria ini namun tak jua sadarkan diri. Terpaksa Assisten Refal memanggil salah satu pegawai untuk membawanya ke mobil.
Kini, tubuh ripuh itu berbaring diatas brankar. Seorang dokter tengah memeriksa kondisi Dave yang lemah.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Assisten Refal kala dokter usai memeriksa keadaannya
"Kondisi dalam tubuhnya baik, beliau juga tidak demam, hanya saja perut pasien kosong."
__ADS_1
"Kemungkinan, pasien sedang mengalami gerd." jelas dokter tersebut
Assisten Refal manggut-manggut paham
"Saya akan kembali jika pasien sudah siuman. Untuk saat ini, beliau harus dirawat dulu,"
"Baiklah, Dok." Refal mengangguk paham. kemudian dokter beserta perawatnya pamit pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut
Assisten Refal begitu bingung. Apakah ia harus memberitahu keluarga Ghaza? Ia berpikir cukup lama didepan brankar ini. Usai mondar mandir tidak jelas, Refal pun mengambil pilihan untuk tidak memberitahunya dulu.
Refal memilih duduk di sofa seraya menunggu Dave siuman dari tidur panjangnya. Ia memainkan ponsel digenggamannya, sepertinya pertemuan dengan klien harus dipending dulu sampai keadaan sang boss kembali pulih.
Selang dua jam kemudian, Dave mulai bereaksi. Kedua matanya mengerjap-ngerjap pelan, menatap sorot lampu yang begitu menyilaukan. kini ia sudah tidak merasakan pusing lagi, perutnya pun sudah mulai membaik. Dilihatnya ke sekeliling, Dave tersentak dirinya terbaring di rumah sakit.
"Hhh ... kenapa bisa ada di sini?" gumamnya
Dave tertegun melihat Refal terlelap diatas sofa.
Mencium aroma sesuatu yang begitu mengusik indra penciumannya, sontak perut ini mulai bergejolak. Dave berdecak sebal, rasa mual ini seperti sedang ingin membunuhnya.
Uk!
Dave menahan isi perutnya yang ingin segera dikeluarkan. cepat-cepat ia melepaskan jarum infus, lalu berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Uuuweeek!!"
☆☆