Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Interview Kerja


__ADS_3

Dave tampak kurang bersemangat, sebagian dari hidupnya bagai telah melayang dibawa angin entah kemana. Hidupnya terasa hampa, nyaris tidak berguna. Menjelang detik-detik pernikahannya, ingatan ini terus menjurus ke gadis manis yang sudah mengisi hari-harinya dengan ketulusan.


Penyesalan selalu muncul belakangan, begitulah yang Dave rasakan. Mengapa dirinya menipu gadis itu, mengapa diri ini memanfaatkan gadis tersebut. Andai saja waktu itu ia bersedia memberikan pinjaman cuma-cuma tanpa embel harus melayaninya, tidak akan terjadi hal seperti ini. Sampai harus berpura-pura menikahinya hanya untuk menuruti obsesinya.


Dave sangat yakin, Mawar pasti sudah mengetahui segalanya. jika belum, gadis itu tidak mungkin menghilang. Sejak tadi ia asyik menghubungi anak buahnya, Mawar tak kunjung ditemui, kehidupan keluarga dikampung pun berjalan biasa-biasa saja tanpa terlihat gurat gelisah. Hanya saja, ibu dari Mawar terlihat lebih banyak melamun.


"Apa sesi potretnya sudah siap? Sudah lama kita di sini!" ketus Dave, yang mulai jengah


"Satu lagi dong, Sayang." bujuk Wilona


"Tidak! sudahi saja, saya mulai tidak enak badan," tolaknya


Benar, selain pusing memikirkan Mawar, Dave juga merasakan kurang enak badan. badannya teramat letih, lesu, mungkin karena efek pusing yang menggerayanginya.


"Kamu sakit?" tanya Wilona


"Ya. Aku butuh istirahat. nanti sore aja kita fitting baju, ya?" pinta Dave


"Baiklah. Maafkan aku, buat pernikahan mendadak seperti ini,"


"Sudahlah," Dave menepuk-nepuk punggung tangan calon istrinya


"Oh iya, aku sudah milih dekorasi pernikahan kita, gambarnya nanti aku bawain." ucap Wilona


"Sesukamu saja, yang penting pernikahan ini lancar," lirih Dave. Wilona mengangguk paham, ia menyenderkan kepalanya dipundak lelaki tersebut seraya melihat pemandangan diluar mobil.


Hampir satu jam perjalanan, setelah mengantarkan Wilona ke kediaman orang tuanya, akhirnya Dave sudah tiba dikediamannya yang jauh dari keramaian. Tempat yang sejuk, asri, udara masih segar, memang cocok untuk pria seperti dirinya.

__ADS_1


Dave melangkah gontai menaiki beberapa anak tangga menuju ke lantai dua. Tubuhnya yang teramat lelah, ingin sekali bertemu kasur untuk saat ini. Ternyata, kehilangan Mawar memberi efek buruk pada kesehatannya. Berharap, setelah beristirahat, tubuh ini kembali bugar dan sehat.


Disisi lain, Mawar menikmati makan siangnya berupa gudeg yang terletak ditepi jalan pusat Yogyakarta. Gudeg legendaris milik si Mbah, sebagai penjualnya, cita rasa lezat nan nikmat dari makanan ini membuat banyak pengunjung menyerbu dagangannya.


Sembari menikmati santapannya, pengunjung bisa sekaligus memandang landmark, salah satu objek menarik di kota ini. Suasananya pun begitu menenangkan, ditambah lagi ada pengamen yang berupaya menghibur masyarakat maupun wisatawan dengan menyenandungkan lagu khas Yogya.


"Ini, dek." Mawar memberikan sedikit uang kepada pengamen cilik itu setelah usai menyumbangkan suara merdunya.


**


Tiga hari berlalu, tidak terasa sudah tiga hari satu malam Mawar bertahan di kota ini. Kota dengan segala keelokannya, keramahan penduduknya, kesederhanaan kehidupannya, semakin membuat Mawar betah dan berangsur dapat melupakan pria diseberang sana. Walaupun didalam kesendirian dan nyaris ingin mengistirahatkan kedua mata, pria itu terus muncul diingatannya.


Kali ini, Mawar tidak mau diam di rumah. lebih baik ia jalan-jalan ke taman, yang kemarin sempat dilewatinya.


Kala dirinya bersiap-siap, tiba-tiba panggilan telepon masuk ke ponselnya. Mawar melihat, sebuah nomor asing yang disinyalir adalah nomor telepon kantor.


"Hallo." ucap Mawar


"Selamat pagi, dengan Mawar Kharisma?" sahut seseorang diseberang sana


"Ya, benar, Pak." jawab Mawar sambil mencak-mencak senang dan memegang dadanya yang berdegup kencang


Seperti tengah dihubungi gebetan saja perempuan ini


"Kami dari PT. Toyota xxx, Mbak Mawar bisa melakukan interview di kantor kami pada hari ini,"


"Hah??" sudah diduga, pasti dirinya dipanggil. "Jam berapa, Pak? apa pagi ini bisa?" tanya Mawar dengan semangatnya

__ADS_1


"Bisa, lebih cepat lebih baik, Mbak."


"Ah, oke, baik, saya akan ke kantor,"


Kemudian panggilan ditutup. Mawar bersorak ria merasakan kegembiraannya pada pagi itu.


"Doain wawancara mama berjalan lancar ya, Sayang. rejeki adek nggak akan kemana, mama yakin itu." ucap Mawar kepada janin yang tengah tumbuh diperutnya.


Kini, Mawar sudah tiba ditempat tersebut. Dirinya sudah cantik dan rapi dengan seragam kantoran yang sering ia kenakan saat bekerja di perusahaan Dave. Mawar melenggang masuk, salah satu pegawai mengantarkannya ke ruang HRD. bila ditanya soal perasaan, sudah pasti tahu jika detak jantungnya berdegup teramat cepat. Kedua telapak tangannya pun mulai basah karena gugup.


Tok tok tok


"Masuk!" sahut seseorang didalam sana


"Silakan masuk, Mbak." pegawai pria ini membukakan pintu untuknya, mempersilakan Mawar untuk bergegas masuk.


Mawar mengulum senyum kepadanya, kemudian ia melangkahkan kaki memasuki ruangan ini.


Seseorang didalam sana sudah menunggu, ketika melihat wajah Mawar, dirasa tidaklah asing baginya. Ia menyipitkan mata, begitu pula dengan Mawar.


"Kamu??"


"Anda??"



__ADS_1


__ADS_2