
Dave mondar-mandir kesana kemari dengan raut wajah yang begitu bingung. sembari memegang ponselnya, ia memanggil Wilona melalui sebuah panggilan telepon. tak berselang lama akhirnya wanita itu pun mengangkat panggilan dari sang tunangan.
"Kenapa dipercepat? bukannya kamu masih bekerja, hah?" Dave langsung melontarkan pertanyaan tanpa berbasa-basi
[Desaign fashion yang ku buat sudah banyak dan mereka sangat menyukainya. sedangkan jadi model, diganti sama anak lain, Beb]
[So, mengapa harus menunggu lama untuk menikah, mending segera. lagi pula aku ambil cuti sebulan untuk menghabiskan waktuku bersamamu.]
"Ini mendadak sekali!" gumam Dave berdesah frustasi
[Kenapa? bukannya ini yang kamu inginkan sejak dulu? kamu seperti keberatan.] nada suara itu terdengar sendu ditelinga Dave
"Bukan-bukan! bukan, Sayang, hanya saja aku sedikit kaget. ah, iya, jadi sekarang kamu ada di mana?"
[Masih di Paris, beberapa jam lagi aku akan terbang ke indo.]
"Hhh .... baiklah. hubungi aku kalau sudah tiba,"
[Oke, Beb. aku mencintaimu,]
"Aku juga mencintaimu."
Setelah menghubungi sang tunangan untuk mempertanyakan perihal pernikahan, Dave merebahkan tubuhnya diatas ranjang. otaknya begitu pusing bagaimana caranya agar kedua wanita itu tidak bertemu, apa lagi mengetahui kebenaran.
Apakah ia harus membeli apartment untuk Mawar atau untuk Wilona? tapi itu sama saja tidak berpengaruh tatkala Wilona selalu datang menemuinya di perusahaan.
Apa yang ia tanam akhirnya ia tuai juga. seperti itulah kata pepatah yang menggambarkan hasil perbuatan Dave yang tamak dan begitu serakah terhadap perempuan. dari hasil yang diperbuatnya pun mampu membuatnya begitu pusing memikirkan jalan keluar yang begitu sulit untuk capai. kini pikirannya benar-benar buntu, disisi lain masalah tempat tinggal bisa ia kondisikan, namun masalah area perkantoran rasanya sangat mustahil tatkala selalu ada sang sekretaris yang berjaga didepan ruangannya.
__ADS_1
"Apa aku harus memecat Mawar? membiarkannya tinggal di apartement begitu saja?" gumamnya berpikir, setelah cukup lama berkutat dengan akal sehatnya
"Tapi--dia itu sangat berpotensi."
"Hhh ..." Dave menghembuskan napasnya dengan kasar. "Baiklah, sepertinya itu jalan keluar satu-satunya agar kedua wanita itu tidak bertemu." ucap Dave dengan begitu yakinnya pada diri sendiri
☆☆☆
Keesokan paginya, Mawar yang terlelap di kamar sebelah, terbangun kala sesuatu membuat dadanya sesak. Ia memgucek mata lalu membukanya dengan lebar untuk melihat sosok yang berada disebelahnya. memeluknya terlalu erat hingga membuat tidurnya terganggu.
"Kamu disini?" ucap Mawar dengan sosok Dave yang masih pulas terlelap
"Aku rasa, aku langsung tertidur setelah selesai makan malam. aaaah, aku terlalu kenyang, Dave, sampai kamu menunggu kedatanganku untuk pindah ke kamar sana." Mawar tergelak mengingat perutnya yang telah diisi banyak makanan hingga membuatnya ngantuk dan tertidur lebih awal
"Sudah jam enam, aku harus masak buat kita." Mawar segera bangkit sambil menjauhkan lengan Dave yang melingkar di perutnya.
Mereka bertiga pun berpisah setelah masuk ke ruangan masing-masing. Mawar segera menyalakan komputer dihadapannya, lalu melenggang pergi ke pantri untuk membuatkan kopi yang akan ia suguhkan buat dua pria itu.
Disisi lain, Dave tampak menelpon seseorang, yang entah siapa itu. memerintahkan sesuatu kepadanya setelah berpikir matang akan rencananya.
Ya, Dave memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk mencari apartement yang cukup jauh dari area perkantoran. Apartement tersebut yang akan ditempati oleh Mawar bersama dirinya kelak jika saja Wilona akan kembali pada profesinya. perempuan itu seorang desaigner dan juga model di kota Paris, karya-karyanya begitu memikat beberapa kolega yang bekerja sama dengannya. keberhasilan itu tak akan disiakan oleh Wilona, rasa cinta terhadap profesinya pun tak akan membuat semangatnya luntur.
Pagi itu Dave tidak semangat untuk bekerja, ia sibuk mengotak-atik ponsel untuk mencari Wedding Organizer terbaik di ibukota. mengingat waktu yang begitu singkat, ia pun harus bergerak lebih cepat lagi.
Tok tok tok!
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Dave, pria itu menyuruh seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya. ternyata Mawar, membawakan kopi untuknya. Dave memandangnya begitu lekat, rasa bersalah tiba-tiba bersemayam dihatinya.
__ADS_1
"Mawar." panggil Dave
"Ya?"
"Nanti jangan kemana-mana, ya ... ada yang mau aku bicarakan pas makan siang," ucap Dave dengan raut wajah tak bersemangat
Mawar mengangguk mengiyakan. perempuan itu sedikit bingung karena sejak pagi Dave lebih banyak diam.
Mawar segera keluar dari ruangannya, kembali melanjutkan pekerjaan yang menantinya sejak tadi.
☆☆☆
Mawar dibuat terperangah kala sebagian pegawai berdiri tegap sambil menunduk hormat pada seseorang yang berjalan dengan anggunnya di koridor lantai ini. Mawar menyipitkan mata, sosok wanita tinggi, langsing, tubuh ideal bak gitar spanyol, wajah cantik yang sepertinya tidak asing bagi Mawar. seolah sudah pernah melihatnya.
Sontak Mawar tersentak kala memorinya kembali berputar di area rumah sakit. Mawar yakin jika perempuan itu adalah sosok wanita sombong yang bersama dengan lelaki menabraknya.
Melihat wanita itu ingin mendorong pintu ruang presdir, sontak Mawar segera bangkit dan mencegatnya.
"Tunggu!"
Wanita cantik itu menoleh menatapnya dengan raut wajah kesal. "Siapa kamu beraninya menghalangi saya?" ketusnya
Mawar sedikit terkejut.
"Saya adalah tunangan Dave Felixio Ghaza, sekaligus calon istrinya, asal kamu tahu itu!"
...~Bersambung~...
__ADS_1