
Ddddrrrt!!
Ponsel Wilona berdering, tanda seseorang tengah menghubunginya. Buru-buru Wilona mengangkat panggilan tersebut, ternyata seseorang yang ia hubungi tadi kembali menghubunginya
"Ada apa, Wil?" tanya seseorang diseberang sana
"Gawat, Jack,"
"Gawat bagaimana?"
"Aku rasa, kita punya saingan besar," ucap Wilona kepada pria tersebut
"Apa maksudmu? Bicara yang benar, Sayang,"
"Sepertinya wanita yang bernama Mawar itu tengah hamil anak Dave. bencana buat kita, Jack, otomatis anak itu akan menjadi pewaris satu-satunya harta keluarga Ghaza!" seloroh Wilona dengan nada panik
"Are you sure? Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Sayang. Kamu sedang mengandung anak kita, aku yakin kamu dalam pengaruh bayi," pria yang bernama Jack, tak lain adalah selingkuhan Wilona, berusaha menenangkannya
"Tidak! soalnya Dave mengalami kehamilan simpatik. Jelas saja anak ini bukan anak dia. Pasti wanita itu tengah hamil anak Dave," Wilona mondar-mandir, penuh gelisah. Ia mengusap wajahnya, takut jika Dave dan Mawar akan bertemu
"Tadi kami ke rumah sakit, pria itu kekeuh membawaku untuk kontrol." sambung Wilona
"What! Kau cari mati?? Bagaimana jika dia tahu, kandunganmu sudah tujuh minggu, hah!" kini, pria tersebut yang turut panik
__ADS_1
"Ssst! tenang aja, aku sudah menyuruh dokter mengatakan usianya dua minggu," bisik Wilona
"Hhh, syukurlah. Pokoknya kamu dan anak kita harus menguasai harta Ghaza!"
"Iya! Maka dari itu, sekarang kita punya saingan," gerutu Wilona
"Tenang aja, aku akan kerahkan anak buahku mencari perempuan itu!"
"Harus dapat! dan langsung bunuh mereka berdua,"
**
Di ruang kerja Dave, Dave tengah asyik dengan ponselnya menghubungi beberapa anak buahnya. Sudah sebulan ini, tidak ada jua kabar Mawar, yang kini entah di mana. Sekarang, masih saja nihil, membuat Dave lelah hanya bisa menghembus napas kasar.
"Coba kau menyamar, dekati adik perempuannya!" Dave mengirim pesan tersebut kepada salah satu anak buahnya.
"Yang benar, Tuan? Saya harus ngapain setelahnya?" balas pria diseberang sana
"Ck! tentu saja mengorek-ngorek informasi kakaknya!"
"Waduh, ini pekerjaan berat bagi saya, Tuan. Saya tidak pandai berdrama," keluh anak buahnya itu
"Terserah kalau nggak mau, siap-siap gajimu besok gaji yang terakhir!" ancam Calvin
__ADS_1
"Hhh, baiklah, Tuan." akhirnya anak buahnya tersebut terpaksa menuruti apa yang diperintahkan sang boss.
Dave menaruh ponselnya diatas meja, kedua sikut bertumpu pada meja, sedangkan kedua tangannya mengusap-usap rambutnya. Dave pusing sekali, kemanakah perempuan itu kini?
Perempuan yang sekarang tengah Dave pikirkan, tengah asyik menikmati suasana sore bersama Daniel, pria yang tengah dekat dengannya. Hanya sebatas teman, Mawar tidak ingin menaruh rasa kepadanya atau siapapun. Dirinya sudah berjanji untuk tidak membuka hati, tidak ingin masuk ke dalam lubang buaya lagi. Biarlah kini ia menikmati kesendiriannya hingga sang jabang bayi menemani hari-harinya.
Sore itu Mawar dan Daniel mengunjungi Monumen Monjali, bangunannya yang berbentuk seperti tumpeng sangat ikonik. Memasuki area monumen yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Jogja ini, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen.
"Bagus, ya, kayak pesawat alien gitu bentuknya," gurau Mawar memerhatikan area sekitarnya. Tak lupa ia mengabadikan moment tersebut dalam bentuk foto dan video.
"Hahah, kamu lucu, korban sinetron, ya?" pria itu mengacak-acak rambut Mawar. Membuatnya menggaduh kesal
"Is, jangan gitulah!" decak Mawar merengut
"Tapi tetap cantik kok. Sini, aku fotoin, mau, nggak?" tawar Daniel
"Oh, tentu saja mau," dengan senang hati Mawar memberikan ponselnya kepada Daniel. Kemudian ia bersiap-siap mencari view yang menarik.
Daniel memperhatikannya, dia sangat ceria dan juga manis. terkadang membuatnya sangat gemas. Seketika Daniel teringat awal mula pertemuan mereka yang mengesalkan.
"Menung bae! cepatan!"
☆☆
__ADS_1