Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Keraguan


__ADS_3

Mawar Kharisma terhenyak kala melihat penampilan tubuhnya mengenakan kebaya pengantin putih. dan juga disekitar tubuhnya terdapat potret pernikahan mereka. Hal ini justru membuatnya bingung sekaligus tidak percaya. bagaimana bisa dirinya menikah dengan pria gila dihadapannya ini, sedangkan dirinya sendiri tengah berada di Stasiun Kereta.


"Ba-bagaimana bisa?" Mulutnya membulat, telapak tangannya membekap mulut. sedangkan sepasang netranya tampak berkaca-kaca. sungguh ia tak percaya dengan kenyataan ini


"Ini tidak mungkin! kau mengkamuflasekan semua ini! mana mungkin saya menikah dengan anda, Tuan brengsek!" Mawar terlihat sangat tidak terima


"Kau tidak percaya juga, Mawar? jelas-jelas foto ini menunjukkan semuanya." Dave meyakinkannya


"Dan satu lagi," Dave melangkah ke sisi ranjang ingin mengambil sesuatu dan menunjukkannya pada Mawar. "Buku nikah." sambungnya. mengangkat sebelah alis matanya ke atas lalu membuangnya ke pangkuan Mawar


Mawar membuka lembaran buku yang berwarna maroon, memeriksa identitas mereka secara detail. saat tatapannya terfokus pada data wali seketika ia teringat akan sang ayah yang kini telah meninggal beberapa bulan lalu dan seorang hakimlah yang menjadi walinya


"Mana ibu dan adik-adikku?" tanya Mawar


Dave terpaku mendengarnya


"Tentu saja di kampungmu."


"Ah, iya, hampir saja lupa kalau semua hutang keluargamu sudah aku lunasi kepada juragan angkuh itu. jadi pada akhirnya kamu mau menerimaku sebagai suamimu," ungkap Dave


"Bulshit!!" gertak Mawar karena seingatnya ia tak pernah menerima lelaki ini. jelas sekali Dave hanya mengada-ngada saja


Dave tergelak, wajahnya terdongak keatas menertawakan gadis dihadapannya.


"Kau tidak percaya? ayo kita telfon ibumu," Dave merogoh ponsel dari dalam saku celananya untuk menghubungi sang mertua yang berada di kampung

__ADS_1


Inilah yang dinanti-nantikan Mawar, menelpon sang ibu untuk mempertanyakan kenyataan yang tengah ia hadapi ini. tak perlu menunggu lama, seseorang diseberang sana pun mengangkat panggilan tersebut.


Mawar segera merebut ponsel milik suaminya.


[Hallo, Nak Dave, Assalamualaikum?]


"Waalaikumsalam, Buk. ini Mawar,"


[Mawar, alhamdulillah kamu menelpon ibu. soalnya tadi nak Dave menelpon ibu kamunya sedang tidur,]


"I-iya, Bu. berarti ibu tahu Mawar udah menikah?"


[Ibu sudah tahu karena kemurahan hati nak Dave. maafkan ibu, ya, karna hutang itu kamu menerima pinangan nak Dave sampai suamimu melunasi semuanya. Kami rela menyerahkan kamu padanya dari pada kamu harus menikah dengan anak juragan itu.] ungkap sang ibu


Mawar menahan napasnya yang terasa sesak. ternyata benar jika ia sudah menikah dan diketahui oleh keluarganya. bahkan termasuk hutang tersebut.


"Iya, Bu?"


[Ibu mohon sama kamu, Nak, tolong jaga Mawar dan sayangi dia jika memang benar kamu menginginkan anak ibu.]


"Ibu tenang saja, Mawar akan aman bersama saya."


[Syukurlah. maaf juga ibu nggak bisa datang karena adiknya Mawar sedang sakit. jangan diberitahu sama Mawar, ya, Nak. ibu titip dia baik-baik samamu.]


"Baik, Bu. kalau begitu saya tutup telponnya dulu karena Mawar harus makan malam."

__ADS_1


[Ah, baik, Assalamualaikum,]


"Waalaikumsalam."


Panggilan berakhir dengan membawa kebenaran yang ada. Dave tersenyum semringah karena telah berhasil meyakinkan Mawar. Mawar terduduk lesu dan terdiam memikirkan ucapan sang ibu yang ternyata ia sungguh telah menikah dengan lelaki brengsek ini. Lelaki yang pernah menghinanya dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya.


Mawar menoleh menatap Dave, tatapanya terlihat sinis kepada pria yang menjadi bossnya ini.


"Selamat! anda sudah mendapatkan saya dengan cara licik!" ucap Mawar yang menekankan kata terakhir.


Gadis itu pun bangkit dan melenggang pergi keluar kamar, entah mau kemana. yang jelas ia tidak ingin melihat wajah brengsek itu.


Sedangkan Dave hanya tersenyum puas sedari tadi, sungguh betapa bahagianya menjadi dirinya. punya segalanya, dan bisa melakukan apa saja atas kuasanya demi keinginan dapat tercapai.


"Kejutan yang indah." gumamnya tersenyum


Mawar berdiam diri di balkon depan lantai atas. kedua telapak tangannya pun bertumpu pada pembatas. tatapan matanya memandang suasana malam di perbukitan yang sejuk ini. walau terasa dingin dalam balutan kebaya yang menampakkan kulitnya, namun rasa itu seolah tak ia pedulikan. agak sedikitpun kelopak matanya tak berkedip, pikirannya masih melayang bagaimana kehidupan ia di masa depan


"Sudahlah, jangan melamun terus. ayo bersiap-siap dan kita segera keluar untuk makan malam," ajak Dave


Mawar memutar tubuhnya, menatap pria yang kini telah mengenakan pakaian kasual.


"Apa kamu mencintaiku sampai kamu menginginkanku seperti ini?" tanya Mawar


Cinta? apa sekretarisku ini belum tahu kalau aku punya tunangan? batin Dave bingung

__ADS_1


"Ah, tentu!"


~Bersambung ~


__ADS_2