
Setelah shalat, Dinda langsung bergegas ke dapur untuk membuat brownies. Ketika mau menuruni tangga, Dinda di panggil oleh mommy nesya.
"Dinda tunggu nak" Panggil mommy nesya
"Iya mom, Ada apa mom?" Jawab dan tanya Dinda
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mommy nesya bingung mau menyampaikan apa, dan Dinda dapat melihat raut wajah kecemasan dan bingung dari wajah mommy nesya.
"Begini Dinda, gimana ya mommy bilangnya" Kata mommy nesya
"Bilang aja mom, tidak usah bingung" Kata Dinda
"Sudah la nanti saja. Kamu pasti mau melakukan sesuatu kan ke bawah" Kata mommy
"Iya sudah mom. Dinda memang mau membuat brownies ke bawah mom" Jawab Dinda
"Ya sudah sana, nanti saja mommy sampaikan jika sudah selesai" Kata mommy nesya sambil meninggalkan Dinda
Dinda yg melihat itu hanya bisa mengedikkan bahunya saja dan melanjutkan jalannya menuruni tangga dan berjalan ke dapur. Setelah sampai dapur, dinda langsung membuat brownies dan cupcake. Para pelayan hanya bisa membantu seadanya saja. Dan pelayan pun kagum kepada Dinda karena sangat cekatan dalam hal memasak.
Selesai membuat brownies dan cupcake, Dinda langsung bergegas naik keatas, karena dia melihat sudah jam tiga dan suara adzan ashar sudah berkumandang. Dinda pun langsung meninggalkan dapur, dia menuju kamar untuk shalat sambil menunggu brownies dan cupcakenya matang di oven. Dinda selalu tidak pernah lupa menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
Selesai shalat, Dinda yg berniat menemui keluarganya di halaman belakang tidak jadi. Karena Dinda teringat bahwa mommynya ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya dia menuju ke kamar mommynya yg ada di lantai tiga. Saat sampai di depan pintu kamar sang mommy, Dinda mendengar suara isakan tangis dari mommy nesya. Dinda langsung saja masuk ke dalam kamar mommy nesya.
__ADS_1
"Mommy kenapa? Lina mommy kenapa?" Tanya Dinda khawatir karena melihat mommy nesya menangis.
"Em em kak Dinda, sebenarnya..." Ucap Lina gantung karena takut.
"Sebenarnya kenapa Lina?" Tanyak Dinda lagi.
"Sebenarnya... emmmm kak Luna...." Jawab Lina benar benar takut, karena melihat daddynya di depan pintu.
"Luna kenapa?" Tanya daddy dengan suara baritonnya.
"Daddy janji jangan marah dulu. Lina pasti akan jelasin, Jadi daddy tenang ya, tidak baik buat kesehatan jantung daddy" Kata Dinda mencoba menenangkan Daddynya.
"Hm sekarang jelaskan Luna kenapa? Dari tadi daddy pulang tidak melihat Luna" Jelas daddy. Dinda yg juga dari tadi tidak melihat Luna pun bingung, karena biasanya Luna selalu stay kalau Dinda ingin membuat cupcake.
"Luna... Emmm kak Luna kabur dad" Jawan Lina dengan pelan namun dapat di dengar daddynya. Daddy bram langsung marah dan emosi karena anaknya itu berani kabur.
"Jelaskan kenapa bisa Luna kabur?" Tanya daddy sambil menahan amarahnya di depan sang istri.
"Ini dad, yg Lina dapat di dalam kamar kak Luna saat Lina mau mengajak kak Luna untuk spa ke salon" Kata Lina sambil menyerahkan surat itu. Namun Dinda langsung menyambar surat itu dan membacakan isi suratnya agar daddynya dengar.
"Assalamualaikum dad, mom, Lina, Dinda. Maafin Luna ya kalau Luna pergi tanpa sepengetahuan kalian. Jangan cari Luna, karena Luna tidak akan pulang ke rumah kalau daddy tetap memaksa Luna untuk menikah dengan anak sahabat daddy. Dad Luna sayang sama kekasih Luna, jujur Luna sudah lama menjalin hubungan dengannya. Sejak Luna masih kuliah, bahkan sejak dia masih menjalani pendidikan di AKPOL dad. Luna gak bisa mengkhianati dan memutuskannya dad. Maaf kalau Luna lebih memilih pergi dari rumah, Luna juga tidak membawa sepeser uang dari daddy. Maafin Luna ya dad. Luna sayang daddy, mommy, Lina dan Dinda.
Dari Luna putri kesayangan daddy bram"
Setelah selesai Dinda membacakan isi surat itu, daddy bram langsung menghubungi orang kepercayaan untuk mencari tau tentang kekasih Luna. Tidak sampai 15 menit, orang itu menghubungi daddy bram tentang kekasih Luna, serta membertahu tentang wilayah kekasih Luna. Setelah mendapatkan informasi itu daddy langsung melesat bersama anak buahnya untuk menemui kekasih Luna yg bernama Riko.
__ADS_1
Dinda pun mengejar daddynya, dan ikut agar daddy bram tidak meluapkan emosinya kepada Riko kekasih Luna. Dinda ikut masuk ke mobil daddy, dan daddy hanya melirik saja. Setelah sampai di kantor polisi tempat Riko kekasih Luna bekerja, daddy langsung meminta bertemu Riko. Teman Riko pun memanggil Riko, karena ada yg mencarinya. Daddy yg langsung melihat Riko pun ingin mengahajar pria itu, namun langsung di cegah Dinda.
"Dad tenang, bicarakan baik baik. Karena ini kantor polisi dad" Kata Dinda sambil menenangkannya. Sedangkan Riko yg tau bahwa itu adalah daddynya Luna juga kaget. Karena selama ini daddynya tidak pernah tau tentang hubungan mereka.
"Maaf Riko, bisa kita bicara. Tidak baik jika bicara di sini. Karena ini menyangkut Luna" Kata Dinda dengan hati hati. Riko yg kaget bahwa nama Luna di bawa pun langsung mengiyakan. Riko mengajak ke cafe sebrang kantor polisi.
Setelah sampai di cafe, mereka langsung duduk dan memesan minuman. Setelah minuman datang, Dinda yg memilih menjelaskan, karena daddynya masih menenangkan amarahnya.
"Begini Riko, apa Luna ada menghubungi Riko?" Tanya Dinda
"Luna memang menghubungi saya, tapi tadi pagi. Itu juga dia sambil menangis mengatakan maaf." Jelas Riko
"Apa Luna ada mengatakan sesuatu ke Riko?" Tanya Dinda lagi
"Luna tidak ada mengatakan sesuatu, hanya mengatakan maaf. Setiap saya tanya kenapa, dia hanya menjawab maaf sampai televon terputus" Jawab Riko
"Berarti Riko tidak tau soal Luna yg pergi dari rumah" Kata Dinda. Riko langsung kaget karena mengetahui wanita yg di cintainya pergi dari rumah.
"APA? Kenapa Luna pergi dari rumah? Tanya Riko karena kaget.
Dinda pun yg di tanya juga bingung untuk menjelaskan alasan Luna kabur dari Rumah. Karena Riko sepertinya tidak tau bahwa Luna akan di jodohkan. Jadi Dinda sendiri hanya diam karena tidak tau bagaimana agar membuat Riko dan daddy tidak marah. Karena Dinda yg diam saja, akhirnya daddy buka suara.
"Luna kabur dari rumah karena dia tidak mau saya jodohkan" Jelas daddy bram.
>tbc<
__ADS_1
Wayooo hari ini agak panjang ya. Karena author lagi baik nyusun kata katanya😆😆 Segitu dulu yakkk😉