
Maura melotot ke arah Panji. Ia ak percaya Rey, Kakak kandungnya di pukul bagai memukul anjing di jalanan.
"Tuang Panji!! STOP!! Dia kakak kandungku," teriak Maura keras berusaha menolong Rey yang sudah tersungkur di di lanati.
Panji berhenti memukul Rey. Kini tatapannya berpindah ke arah maura.
"Apa katamu Maura? Kakak kandung?" tanya Panji pelan.
Panji langsung mengangkat tubuh Rey dan membantu sahabat sekaligus asisten pribadinya itu berdiri.
"Hei ... Kau tidak pernah bilang punya adik? kleuargamu pun sudah tak ada? Mana yang benar?" tanya Panji ketus.
"Sabar Nji. Lepaskan aku dulu," ucap Rey pelan. Lehernya rasanya seperti tercekik.
Dengan kasar Panji melepaskan kerah baju Rey dan membiarkan asistennya itu menceriatkan yang sebenarnya.
"Duduk dulu, biar ngobrolnya lebih enak," ucap Rey berusaha membuat suasana menjadi lebih baik.
"Sudahlah gak perlu basa -basi. Cepat jelaskan? Kamu paham aku seperti apa kan, Rey? Dan kamu sudah aku peringatkan sebelum ikut ke apartemen ini? Apa masih kurang paham," tanya Panji yang masih tak terima melihat Maura di peluk erat oleh Rey.
__ADS_1
"Biar Maura yang menjelaskan," sela Maura dengan lantang.
"Sudah Ra. Biar Kakak yang bicara baik -baik sama Panji," ucap Rey berusaha meluruskan kesalah pahaman ini.
"Cepat katakan. Gak usah banyak omong kosong," titah Panji dengan kasar.
"Maura ini adik perempuanku. Dulu Ibu dan adikku menghilang saat kita berada di terminal. Aku tertinggal bis yang membawaku dari kota ke desa. Hanya itu yang aku ingat, dan aku menemulan adikku kembali. Ternyata menjadi perempuan yang sangat cantik," ucap Rey tersenyum kepada Maura.
Kedua mata Panji menatap Maura dan Rey yang berdiri bersebelahan secara bergantian. Jujur, Panji masih belum bisa percaya. Deretan lelaki yang di temui Maura sangat banyak, ini yang memicu kekesalan Panji.
"Buktinya apa? Kalau kalian memang saudara," tanya Panji ketus dengan kedua tngan melipat di depan dadanya.
"Ya, Namanya Diana," jawab Rey mencoba meyakinkan Panji.
"Terus harus gitu pelukan seperti tadi?" tanya Panji to the point.
Rey menatap ke arah Panji. Ia sangat tidak yakin dengan apa yang baru saja di ucapkan oelh Panji.
"Maksud tuan Panji apa? Dia Kak Rey. Reynand namanya. Kita berpelukan karena baru bertemu kembali setelah sekian lama kehilangan," jawab Maura pelan.
__ADS_1
"Kamu lupa? Kamu itu bekerja untuk saya, Maura. Saya tidak mau melihat siapa pun kamu sapa, apalagi kamu peluk seperti tadi termasuk oleh Rey, walaupun dia Kakak Kandung kamu. Paham?" gertak Panji keras.
Maura langsung menundukkan kepalanya. Ia lupa, di sini ia hanya menumpang karena bekerja. Tapi, pelukan itu hanya pelukan rindu seorang adik untuk kakaknya. Lalu salahnya dimana?
"Iya Tuan. Maura paham," jawab Maura lirih dan menurut.
"Kau sudah gila, Nji? Rara ini adikku. Tapi tidak perlu kamau bentak seperi itu," ucap Rey pelan.
"Satu lagi. Kapasitas kamu hanya sebagai asisten saya. Kamu tidak berhak mengatur hidup saya. Kalau Maura bekerja untuk saya, itu karena ada sebab. Jadi, kamu harus profesional dalam bekerja. Paham Rey?" titah Panji tegas dan lantang.
Maura hanya menarik napas dalam. Ia baru lihat se -keras apa Panji sebenarnya. Bahkan aturan itu berlaku untuk semuanya tanpa pandang bulu.
"Siap Nji,' jawab Rey dengan patuh.
Kini, tatapan Panji mengarah pada Maura.
"Kamu tidak menawariku makan malam?" tanya panji lembut.
Maura menganga. Ia lupa setengah mati, kalu tugasnya di sini untuk melayani Tuan Panji.
__ADS_1