
Keesokkan paginya, seperti biasa keduanya masih terbalut di bawah selimut tebal dengan keadaan polos tanpa sehelai bennag pun. Dengan begini Panji terasa refresh dan bisa melupakan masalah yang sedang ia hadapi saat ini.
Ponselnya sejak kemarin sudah di matikan dan tak akan ada yang bisa menghubunginya lagi. Kalau Rey butuh dirinya tentu Rey bisa langsung datang ke apartemen di mana Panji dan Maura hidup bersama.
Maura masih lelap tertidur. Wajahnya begitu terlihat cantik sekali. Entah sudah ke berapa kalinya ia menyentuh tubuh gadis yang ada di sampingnya ini.
Panji tersenyum bahagia, beberapa jejak merah jelas terlihat di bagian leher Maura. Tapi sepertinya bukan hnaya itu saja hampir setiap lekuk tubuh Maura tak terlewatkan dnegan jejak indah terukir berwarna merah yang katanya bukti cinta Panji pada Maura. So sweet sekali. Tapi kalau buktu cinta apakah harus berjejak seperti itu? Lebih tpatnya itu jejak nafsu yang tak terkendali lagi.
KRUK .... KRUK ....
Perut Panji sudah mulai berontak karena lapar. Sejak hidup bersama Maura, hidupnya lebih tertata dengan baik. Panji sellau makan tepat waktu, dengan menu sehat dan bergizi, sudah pasi terkandung empat sehat lima sempurna satu semburan.
Melihat Maura, selalu membuat PAnji tersenyum kegelian. Tak hanya itu, Maura adalah satu -satunya wanit yang tak bisa membuatnya marah. Kalau memang marah, Panji akan mengalah dan mencari bahan obrolan lain, agar kemarahannya berakhir.
Kedua mata Maura menatap lekat ke arah Panji yag sejka tadi senyam -senyum sendiri tak jelas tapi penuh arti. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu sepagi ini. APakah berpikir kotor? Brpikir untuk tmabha lagi? Atau ....
Kedua pasanga ata itu bertemu. panji langsung tersipu malu saat ketahuan sednag tersenyum sendiri seperti lelaki tak waras.
"Ada yang lucu?" tanya Maura pelan.
__ADS_1
Panji menggelengkan kepalanya dan memeluk Maura agar terlihat mesra.
"Gak ada. Semua baik -baik saja," ucap Panji pelan berusaha meyakinkan Maura.
Kini tubuh Maura dalam dekapan Panji. Kepalanya menempel pada dada Panji dan telinganya jelas mendengar degub jantung yang bunyinya seperti alat dapur yang sedang di cuci.
"Sayang ...." panggil Maura sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah Panji.
"Ya, sayang ..." jawab Panji sambil mencium kening Maura pelan.
"Ini bunyi detak jantung atau perabot di dapur," ucap Maura dengan wajah serius dan suara lantang.
"Arghh ... Sakit sayang. Maura kan cuma tanya. Kenapa harus di gigit begini," cicit Maura sambil mengusap pipinya yang terasa sakit.
"Uluhh ... Ngambek ya kesayangan Mas," ucap Panji lembut. Kecupan demi kecupan terus di tembakkan di pipi yang tadi di gigitnya.
Maura hanya diam dan memejamkan kedua matanya. Bibirnya mengatup rapat menahan rasa sakit dan kesal.
"Marah?" tanya Panji pelan ikut mengusap pipi Maura lembut.
__ADS_1
"Gak." jawab Maura ketus.
KRUK .... KRUK ....
Lagi -lagi suara perut Panji membuyarkan keheningan di antara keduanya. Sontak bunyi -bunyian aneh itu membuatMaura tertawa terbahk -bahak. Marahnya di tunda dulu sementara.
"Seneng? Lihat Mas tersiksa begini?" tanya Panji yang ganti ikutan marah.
"Tersiksa? Maksud Mas Panji itu apa?" tanya Maura bingung.
"Mas lapar sayang ..." ucap PAnji sendu.
Wajah laparnya tidak bisa di tutupi lagi. Dan Maura tertawa puas.
"Malah tawa? Masak dong sayang," titah Panji deagn wajah memohon.
"Oke . Baiklah. Maura buatkan sarapan untuk kamu sayang. Sebentar ya?" ucap Maura pelan.
Maura pun bangkit dari tidurnya dan memakai baju tidurnya yang tergeletak di lantai. pakaian dalamnya pun di pungut untuk di letakkan di cucian kotor.
__ADS_1
Ia masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya, lalu berjalan menuju dapur. Pagi ini smeua bahan makanan dn bumbu sangat lengkap sekali. Kemarin MAura berbelanja kebutuhan apartemen sangat banyak. Ia malas kalau harus pergi bolak balik menuju supermarket. Berbelanja bukan hobby Maura.