MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
31


__ADS_3

"Mama ...." teriak Rara dari arah teras depan rumahnya. Dyah sudah berdiri di belakang Rara sambil membawa tas besar Rara yang berisi pakaian untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya.


Sang Mama keluar dari rumahnya, senyumnya terbit saat membuka pintu rumah besar itu. Saat kedua matanya menatap ke arah Rara dan perutnya yang membuncit, senyum itu pun sirna. Semuanya langsung berubah mendung dengan tatapan nanar dan terlihat sangat bengis.


"Ada apa dengan perutmu?!" tanya Sang Mama ketus tanpa membuka lebar pintu rumahnya dan tanpa mempersilahkan masuk.


Rara yang merasa seperti tidak dianggap pun mulai merasakan sakit hati atas ucapan ketus Sang Mama.


"Mama tidak menyuruhku untuk masuk ke rumah? Kita bisa bicara di dalam dengan baik?" tanya Rara pelan yang berusaha tennag dan tidak tersulut emosi.


Semua ini kesalahannya, dan ini adalah perlakuan pantas yang didapatnya atas kekecewaan Sang Mama terhadapnya.


Sang Mama pun menggeleng dengan cepat.


"Mama tidak pernah punya anak yang tengah mengandung!! Apalagi anak gadis Mama belum menikah!!" tegas Sang Mama dengan suara lantang.


Dyah menelan air liurnya. Ungkapan Mama Rara itu betul-betul menyakiti perasaan Rara yang sedang terpuruk. Sikapnya terlihat sangat arogan dan sangat menghakimi.


"Rara ini anak Mama!! Apa Mama sudah tidak peduli dengan Rara!! Apa Mama sudah meganggap Rara mati dnegan satu kessalahan fatal yang Rara perbuat!!" teriak Rara yang mulai kesal.


Baihaqi yang sedang menuju teras depan pun mendengr suara keras Rara, langsung mengahmpiri.


"Ada apa, Ra?" tanya Baihaqi pelansambil menoleh ke arah wanita hamil yyang sedang menangis.

__ADS_1


"Oh ... Lelaki ini yang sudah membuat kamu seperti ini? Gayanya saja alim, ternyata menghamili anak gadis. Pantas Kamu di putus oleh Cantas!! Kurang Cantas itu apa? Semua hidupmu ditanggung oleh Cantas, masih saja kurang dan mencari lelaki yang tidak jelas seperti ini!!" ucap Sang Mama lantang. Murka Sang Mama sudah tidak main-main. Rasa kecewa luar biasa melihat anak gadisnya sudah mengandung tanpa memiliki suami.


Rara menggelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya. Entah apa yang di ungkapkan oleh Cantas tentang dirinya seolah Rara yang bersalag dan Rara yang di tanggung selurug biaya hidupnya. Padahal satu tahun ini, justru Rara yang menanggung segala biaya Cantas.


"Cantas yang bilang? Rara yang salah!! Mama tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Rara memang menutupi aib lelaki pengangguran itu agar bisa diterima di keluarga. Tapi, Dia memutar balikkan fakta dan tidak mau bertanggung jawab atas anak ini!!" teriak Rara dengan sangat kesal.


Sudah tidak malu lagi, Rara berteriak di depan pintu depan rumahnya. Untuk apa lagi menutupi kebusukkan Cantas, toh Rara juga yang di pojokkan.


"Pintu rumah Mama tertutup untuk Kamu, Ra!! Kecuali, Kamu buang anak haram itu!! Mama malu punya anak yang hamil di luar nikah. Kamu tahu, derajat keluarga Mama itu seperti apa!! Lebih baik Mama kehilangan satu anak Mama!!" tegas Sang Mama.


"Ibu ... Bukan saya ingin ikut campur dengan masalah Rara. Tapi, Rara ini anak Ibu, dan anak yang di kandung Rara adalah cucu Ibu," pelan suara Baihaqi mengingatkan.


Sang Mama bertepuk tangan setelah Baihaqi bericara.


"Cukup!! Namanya Baihaqi, beliau laki-laki baik yang selalu ada buat Rara, termasuk saat Rara terpuruk dan ditinggalkan oleh Cantas," lantang Rara.


"Bela saja laki-laki sok alim yang sudah menghamilimu itu!! Mama sudah tidak mau melihat kamu lagi!! Malu memiliki anak sepertimu!!" suara Sang Mama juga semakin keras.


Bapak Rara juga ikut keluar menuju depan rumah. Suara keras mengganggu tidurnya, padahal baru saja beliau beristirahat setelah minum obat.


"Ada apa? Rara?! Kamukah itu?" teriak Bapak Rara saat keluar dan berdiri tepat di belakang Sang Mama sambil menatap Rara dengan rasa tidak percaya.


Tatapannya langsung mengarah pada perut besar Rara yang sudah terlihat sangat menonjol.

__ADS_1


"Bapak? Maafkan Rara," ucap Rara lirih, kedua matanya menatap lekat wajah Sang Bapak.


Bapak Rara menggelengkan kepalanya. Entah mimpi buruk apa yang sedang di jalaninya saat ini.


"Apa yang terjadi denganmu, Ra!! Apa kamu ingin membuatmu Bapakmu ini mati berdiri dengan keadaanmu yang seperti ini!!" ujar Bapak dengan lantang. Bapak Rara benar-benar terkejut dengan keadaan Rara saat ini.


Kedua orang tua Rara benar-benar terkejut dan tidak habis pikir dengan kenyataan pahit yang saat ini dihadapinya. Derajatnya bisa turun karena Rara dan perbuatan hinanya. Lebih baik melepaskan dan mengusir anak kandungnya sendiri dari pada harus menanggung malu secara moril di lingkungan masyarakat.


"Bapak?! Bapak tega bicara begitu pada Rara?" tanya Rara lirih. Rara adalah anak kesayangan Sang Bapak, biasanya apapun permintaan Rara selalu di wujudkan. Kesalahan sebesar apapun juga akan tetap di bela oleh Sang Bapak. Tapi, kali ini Rara benar-benar sendiri. Tidak ada satu pun orang tuanya yang mengasihaninya dan membelanya.


"Lebih tega mana?!! Bapak atau Kamu!! Seharusnya Kamu itu sadar!! Susah payah Bapak menyekolahkan Kamu hingga kuliah dan sukses bekerja di Kota besar. Bapak bangg dengan semua prestasi dan karir yang kamu miliki saat ini. Tapi, dengan mudahnya Kamu membuat Bapak dan Mama kecewa, sakit hati dan menyesal tlah merawat Kamu yang tidak bisa berbakti pada kami, tidak bis mengharga kami sebagai morang tua kamu!!" murka Bapak dengan suara yang amat keras.


Sang Bapak sudah tersulut rasa kesal dangan kecewa yang bercampur menjadi satu hingga berteriak dengan suara lantang dan keras.


Tangan Bapak sudah terangkat karena rasa kekecewaan teramat besar. Sang Bapak benar-benar marah dan tidak bisa memaafkan semua yang telah Rara lakukan.


PLAK!!


Satu tamparan tepat mendarat di pipi Rara hingga membuat wanita itu pun secara spontan mengusap bekas tamparan dari Sang Bapak. Rasanya sangat perih dan pedih. Rara tahu ini pasti akan terjadi, tanpa pandang bulu jika Rara itu seorang wnaita yang tidak pantas di perlakukan kasar seperti itu.


"Tamparan itu mewakili perasaan Bapak kepadamu. Tahu, rasa sakit yang Bapak rasakan saat ini. Bapak ini orang terhormat di desa ini, lihat perbuatanmu!! Datang dengan perut besar tanpa suami!! Lalu, ap bedanya kamu dnegan wanita murahan yang mau ditiduri dengan banyak lelaki?" suara Bapak semakin keras sambil menunjuk ke arah Rara.


"Cukup Pak!! Saya akan menikahi Rara, setelah Rara melahirkan. Saya akan menerima Rara dan bayinya dengan tulus dan ikhlas," ucap Baihaqi pela.n Rasanya tidak tega melihat Rara yang diperlakukan tidak baik oleh kedua orang tuanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2