
Suasana Cafe Jira sudah ramai. Padahal baru di buka pukul sembilan pagi, dan sudah banyak pengunjung yang ingin mencicipi menu bubur ayam kuah rendang. Banyak yang bilang menu ini special banget.
Maura sudah bergulat dengan berbagai macam bahan dan bumbu untuk mmebuat menu special.
Seperti biasa, Panji menatap Maura dari layar CCTV yang fokus mengarah tempat ia memasak.
"Mau sampai kapan kamu begini, Nji? Sikap posesifmu tidak pernah hilang jika sedang mencintai perempuan. Kau ingat? Anetha dulu juga kau perlakukan seperti ini," ucap Rey sambil menghisap rokok dan mengepulkan asapnya.
Kedua lelaki itu sedang berada di ruangan Panji. Raut wajah Panji berubah saat Rey melontarkan kata -kata yang tak ia sukai.
"Jaga mulutmu. Aku tak pernah merasakan Anetha. Kalau posesif memang iya, karena aku dulu mencintai Anetha. Tapi, Maura berbeda. Aku sudah merusaknya dan aku mencintainya, jadi ta ada alasan untuk aku meninggalkan Maura," ucap Panji lantang.
"Hemm ... Kau pandai mleuluhkan hati wanita. Tapi aku tak terima bila kau hanya ingin bersenang -senang dengan adikku," tegas Rey pada Panji.
"Aku tak bermain -main. Aku serius dengan Maura," ucap Panji tegas. Ia tak suka di tuduh bermain -main dengan Maura.
"Lalu Anetha? Kau tak pikirkan perasaan Anetha?" tanya Rey pelan.
__ADS_1
"Cukup Rey. Aku sedang tak ingin membahas ini," tegas Panji dengan suara lantang.
Panji bangkit berdiri dan pergi keluar dari Cafe Jira. Ia pergi menggunakan taksi dan entah kemana tujuannya.
Skip ...
Waktu terus berjalan. Seharian ini, pelanggan makin membludag terlebih di sore hari hingga malam.
Besok, akan ada perekrutan karyawan baru untuk semua posisi.
"Kak Rey?" panggil Maura pelan.
"Mas Panji kemana?" tanya Maura pelan.
Ia duduk di kursi panjang dan bersandar pada sandaran kursi bes itu. Tubuhnya terasa pegal dan ringsek kerja full time dari pagi hingga larut malam.
Memang lelah, tapi rasa lelah itu terbayarkan dengan kepuasan yang melihat situasi Cafe sangat ramai.
__ADS_1
"Ekhemm ... Sejak tadi siang pergi dan belum kembali. Ponselnya juga gak aktif," ucap Rey pelan.
Ia merasa sangat berslaah hingga membuat Panji pergi.
"Pergi? Tumben banget?" tanya Maura pelan.
Awalnya Maura tak begitu cem. Rey memastikan Panji baik -baik saja. Mungkin ia kembali ke rumahnya karena Papahnya sakit di ruang ICU. Jadi, ada kemungkinan kalau Panji itu menjenguk Sang Papah.
Malam ini, Maura sudah berada di apartemen barunya sendiri. Biasanya Maura selalu di samping Panji.
Rasanya sepi sekali malam ini. Tak ada yang mengganggunya, tak ada yang menggodanya, tak ada yang peduli padanya, tak ada yang cemburu apdanya, dan semua tentang Panji. Fix, Maura merasa benar -benar kehilangan.
"Kamu kemana sih, Mas? Kenapa gak pamitan mau pergi kemana? Ini sudah malam, dan gak biasanya kamu pergi selama ini tanpa pemebritahuan?" ucap Maura lirih.
Maura sudah berada di kasur dan memegang minuman jahe untuk meringankan rasa pegal di sekujur tubuhnya.
Maura berjalan menuju meja rias. Di sana ada tas Panji yang tak pernah di buka oleh Maura. Entah isinya apa di dalam tas itu.
__ADS_1
Malam itu, Maura memberanikan diri membuka tas Panji. Di dalamnya ada kartu hitam yang biasa Maura pakai. Lalu, ada beberapa berkas penting yang tak di buka oleh Maura. Lalu ada sebuah foto. Foti Panji dengan seorang perempuan. Maura membalikkan foto itu. Ia penasaran siapa wanita yang ada bersama Panji di dalam foto itu.
Walaupun hanya di dalam foto. Rasanya Maura mulai cemburu melihat kebersamaan yang terlihat bahagia dan lepas, tanpa ada beban satu sama lain.