
Wajah Rey memerah antara malu dan marah. Suara itu membuat dirinya juga menginginkan sesuatu dari balik tubuhnya. Keinginan yang berhasrat seperti tadi malma yang ia lakukan dnegan Lia. Ponsel itu pun di tutup agar suara nikmat itu tak lagi di dengarnya.
"Brengsek Panji!! Bisa -bisanya dia bercinta di situasi yang tidak tepat. Lagi sakit saja bisa berbuat mesum," ucap Rey kesal. Ia tak terima Maura, adiknya hanya di hisap madunya saja.
Suasana kantor begitu rusuh dan kisruh tidak seperti hari biasanya. Papah Firman dan Mama Rika turut hadir di sana.
laporan dari manajer tentang kondisi keuangan perusahaan yang sedang tidak stabil membuat perusahaan terancam bangkrut.
"Panji kemana? Jam segini belum datang juga? Dia tidak tahu, perusahaan sedang berada di ujung tanduk?" ucap Papa Firman yang mulai kesal dan marah.
Berulang kali Mama Rika juga berusaha menelepin Anetha dan menanyakan keberadaan Panji. Namun, pengakuan Anetha, Panji sudah berangkat pagi -pagi sekali dengan ijin mau ke kantor.
"Rey? Panji kemana? Kamu kan asistennya?" tanya Mama Rika cemas.
Ponselnya memang aktif tapi sma sekali tak diangkat atau tidak membalas pesan singkat yang di kirimkan Mama Rika kepada Panji.
Rey menggelengkan kepalanya pelan.
"Rey juga tidak tahu, Nyonya. Setelah acara pernikahan itu, Rey kan langsung pulang ke rumah Lia, jadi Rey gak ada komunikasi. Pesan tuan Panji kepada saya, untuk datang pagi ke kantor. Hanya itu," jawab Rey pelan.
__ADS_1
Mamah Rika hanya diam, ia terus mencoba menelepon anak semata wayangnya.
Skip ...
Panji sudah duduk bersandar pada sandaran tumpukan bantal. Kakinya di selimuti agar tetap hangat dan tangannya sibuk bermain ponsel. Wajahnya berubah ikut panik dan cemas.
Tak lama berselang, Maura masuk ke dalam kamar dnegan membawakan bubur dan sup ayam. Panji tersenyum manis saat melihat kedatangan Maura. Keduanya sedang menikmati masa -masa indah bersama layaknya pasangan yang telah SAH.
Panji yang semakin merasa mencintai dan memiliki Maura tidak ingin berpisah apalagi harus kehilangan wanita se -cantik dan penurut seperti Maura.
"Tuan kenapa?" tanya Maura pelan.
Sadar akan kesalahannya dan di siamkan oleh Panji. Maura pun menghela napasnya dengan dalam.
"Maaf sayang. Aku belum terbiasa. Mau makan sekarang, biar aku suapi?" tanya Maura dengan suara lembut.
panji mendongakkan wajahnya dan tersenyum.
"harus di biasakan dan jangan sampai lupa. Paham?" ucap Panji mengingatkan.
__ADS_1
"Makan ya?" Maura mulai meniup bubur sup aya itu dan menyuapkan pelan ke mulut Panji.
Panji hanya menerima suapan itu. Jujur, pikirannya tetao melayang ke urusan kantor.
"Ada masalah?" tanya Maura pelan. Seolah Maura tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Panji.
"Tidak ada masalah cantik. Setelah makan aku harus pergi sebentar. Kamu kalau mau belanja di supermarket, ini kartu untuk belanja. Belilah apa yang menjadi kebutuhan kita," titah Panji pelan sambil memegang dagu Maura.
"Kita?" tanya Maura memperjelas.
"Iya. Kita. Apa ada yang salah?" Panji menatap lekat maura yang menggelengkan kepalanya dnegan cepat.
"Tidak ada. Aku cuma belum terbiasa." jawab Maura singkat. Degup jantungnya semakin tidak pasti sama seperti hubungannya dengan Panji yang tak jelas.
Sebenarnya hubungan mereka itu antara majikan dengan pelayan, atau klien dengan perempuan malamnya, atau apa?
Maura memegang kartu hitam milik panji dan menyimpannya di laci nakas agar mudah di temukan.
"Kamu kenapa sayang? Wajahmu nampak sedih," tanya Panji pelan.
__ADS_1
Maura hanya menatap Panji dan menyendokkan bubur itu kembali untuk menyuapi majikan kesayangannya itu.