MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
6


__ADS_3

Dyah marah dan dengan lantang menanyakan siapa yang membuka aib Rara dan memfitnah Rara dengan begitu keji. Tatapan Dyah bagaikan elang yang siap memangsa satu per satu orang yang ada di dalam ruangan itu.


Gebrakan meja terdengar sangat keras, membuat semua orang mengangkat wajahnya dan menunduk kembali karena kaget. Beberapa karyawan wanita yang sempat menggosipkan Rara pun tamlak tegang dan panik, peluhnya keluar membasahi wajahnya.


Dessy terlihat sangat cemas, tatapan nyalang dari Dyah sengaja diberikan dengan sangat tajam ke arah Dessy.


"Kamu!! Anak baru!!" teriak Dyah sambil menunjuk dengan jari telunjuknya kepada Dessy.


Semua orang yang ada di ruang tersebut langsung melirik ke arah Dessy mengikuti tatapan tajam dan jari telunjuk Dyah yang menunjuk ke arah orang yang berada di pojok belakang tepat di belakang meja kerjanya.


Seketika suara keras itu menyadarkan Dessy bahwa dirinya kini sedang menjadi pusat perhatian. Bukan untuk kebaikan malahan ini adalah balasan nyinyir dirinya yang sejak pagi membicarakan Rara.


Wajah Dessy menunduk dalam. Takut. Cemas. Tegang. Semua camlur aduk menjadi satu hingga membuat jantungnya ikut berlomba dan berlari sangat kencang.


"Angkat wajahmu!! Tidak perlu pura-pura tuli!! Tidak perlu pura-pura tidak tahu, siapa yang gw ajak bicara!! Muak gw lihat muka loe!!" teriak Dyah makin keras dan lantang.


Tidak ada ampun. Semua kekesalan Dyah rasanya ingin di tumpahkan semuanya kepada Dessy saat ini juga.


Dessy tidak bergeming bahkan tidak merespon. Rasa takutnya mengalahkan segala keberaniannya sejak pagi menfitnah orang lain.


TUG ...


TUG ...


TUG ...


Suara ketukan sepatu pantopel Dyah yang bergesekan dengan lantai membuat suasana hening itu terasa menakutkan. Dyah berjalan menyusiri lorong gang ruangan itu dengan langkah tegas dan berhenti tepat di depan meja kerja Dessy.


Dessy menarik napas dalam. Dirinya sudah takut dengan keringat dingin membasahi sebagian tubuhnya. Rasanya sesak dan sangat sulit bernapas.


BRAK!!


Dyah menggebrak meja kerja Dessy dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Mbak Dyah," lirih Dessy hingga suara itu hampir tidak terdengar oleh Dyah yang berada tepat di depan Dessy. Suaranya bergetar, terlihat jelas rasa takut dan cemasnya itu.


Dyah merapikan helaian rambutnya itu ke belakang telinga agar bisa mendengar suara Dessy dengan sangat jelas.


"Maaf?!" tanya Dyah ketus sambil memicingkan kedua matanya. Tatapannya makin nyalang kelada Dessy. Kalau tidak ingat ini berada di ruangan kantor, mungkin wajah Dessy sudah rusak di cakar-cakar oleh Dyah.


"Iya ... Saya minta maaf," ulang Dessy sedikit terbata-bata. Wajahnya belum berani diangkat dan menatap Dyah yang sejak tadi masih berada di depannya.


"Gak semudah itu Dessy!! Loe sudah menjatuhkan nama baik seseorang bukan hanya Rara tapi juga Pak Syaifudin!! Loe tahu, apa akibatnya jika semua berita gak bener ini tersebar luas!!" teriak Dyah dengan keras dan rasa kesal tingkat tinggi.


Dessy menggelengkan kepalanya pelan. Tidak tahu harus menjawab apa. Awalnya hanya ada perasaan iri kepada Rara, yang selalu mendapat pujian di setiap kesempatan. Makanya, dengan berani Dessy mengarang cerita status hubungan gelap Rara dengan Pak Syaifudin atas dasar rumor yang selama ini dia dengar dari pihak lain yang tidak jelas kebenarannya.


"Heh!! Kalau sudah begini, cuma diam!! Tidak ada solusi apapun!!" ucap Dyah nyinyir.


BRAK!!


Terdengar suara pintu di banting dengan keras. Suara pintu ruangan Pak Syaifudin dan di ikuti suara Pak Syaifudin yang berteriak keras memanggil Rara yang sudah berlari menuju pintu lift. Rara berlari dengan menunduk menahan isak tangisnya yang sudah luruh deras membasahi seluruh mata dan bagian wajahnya.


Dyah menoleh dan menatap tubuh Rara yang menjauh dari dirinya lalu menghilang dari pandangannya karena Rara sudah masuk ke dalam lift.


Tersadar dari ketakjubannya, Dyah pun membalikkan tubuhnya dan berlari mengejar Rara yang sudah berada dalam lift.


"RARA!!" teriak Dyah dengan suara keras.


Takut. Hanya itu yang ada di pikiran Dyah saat ini. Dyah sangat takut bila Rara akan bertindak bodoh. Dyah tidak tahu, apa saja yang dibicarakan Rara dengan Pak Udin tadi di dalam ruangan itu hingga membuat Rara seperti terpojokkan dan sedikit frustasi.


Rara menarik napas dalam saat berada di dalam lift itu. Dadanya begitu terasa sangat sesak. Rara berusaha mengatur ritme napasnya agar lebih teratur dan tidak membuat perutnya semakin keram.


'Kenapa sakit sekali perutku,' lirih Rara dengan rasa cemas.


Rara berusaha kuat dan tegar. Satu tangannya memegang dinding lift, tubuhnya terasa lemas dan dingin.


Dyah sudah berdiri di depan lift, menunggu pintu lift itu terbuka dan mengejar Rara, sahabatnya.

__ADS_1


Lampu di samping pintu lift yang menunjukkan posisi pintu lift itu terus ditatap, untuk melihat posisi keluar Rara.


TING!!


Pintu lift terbuka, Rara berusaha keluar dari dalam lift dengan memegang perutnya yang semakin keram.


Lobby kantor begitu sepi. Bagian penerima tamu pun tampak kosong. Entah pada kemana para karyawan disaat jam kerja seperti ini.


Rara berusaha berjalan tertatih-tatih ke arah luar kantor untuk mencari taksi dan pulang ke rumah kontrakannya.


Langkahnya begitu pelan. Wajah Rara tampak pucat dan memjtih di sekitar bibirnya.


Satpam kantor yang biasa berdiri di depan pintu masuk keluar kantor pun seolah tidak terlihat dari pandangan Rara.


Dengan rasa tidak sabar dan terburu-buru, Dyah masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk mengantarkan dirinya ke lobby kantor.


Rara sudah berdiri di depan kantor, satu taksi pesanannya sudah masuk ke halaman kantor. Rasanya seperti tidak berdaya mengangkat kakinya untuk melangkah dan menopang tubuhnya yang sedikit berisi itu.


Supir taksi itu turun saat melihat Rara yang nampak kesulitan berjalan fan akhirnya rubuh ke lantai.


"Bu ... Ibu?" panggil supir taksi itu kepada Rara yang sudah tergolek lemah di atas alntai dingin lobby kantor dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Dyah berlari kencang melihat Rara yang sudah terbaring di lantai. Dyah mengedarkan pandangannya menatap kaca besar yang menutup kantor itu.


"Sahabat saya, kenapa Pak?!" tanya Dyah dengan panik.


Dyah berusaha membangunkan Rara, namun Rara tetap diam dan menutup matanya rapat.


"Tidak tahu Bu. Pas mau saya bantu, malah sudah jatuh. Kita bawa ke rumah sakit saja, karena wajahnya pucat," ucap supir taksi itu menyarankan.


Dyah mengangguk pelan menyetujui saran dari supir taksi itu.


"Dyah!! Rara!!" suara lantang dari arah belakang mengejutkan Dyah yang sedang berusaha mengangkat tubuh Rara bersama supir taksi itu.

__ADS_1


__ADS_2