
Maura sudah sibuk di dapur. Memotong bahan dan mulai memasak untuk sarapan pagi.
Panji ikut bergerak. Ia bangkit dari ranjang cintanya dan berjalan menghampiri Maura yang sedang menggoren ayam goreng. Tangannya melingkar begitu saja ke depan perut Maura dan mengecup leher Maura. Panji sudah candu dengan posisi seperti ini. Ia tak bisa membayangkan kalau harus berjauhan dengan Maura. Separuh jiwanya dan hatinya sepenuhnya sudah untuk Maura.
"Masak apa sayang? Wanginya sampai ke kamar," ucap Panji lembut. Ia kembali mencium bahu Maura yang terbuka.
"Nasi uduk, pake ayam goreng, irisan telur dadar dan semur jengkol. Kamu suka makan semur jengkol sayang?" tanya Maura pelan.
Maura masih merebus jengkolnya agar bau jengkolnya menghilang saat di konsumsi, dan yang terpenting saat buang air kecil pun tidak meninggalakn bekas bebauan yang bisa membuat orang lain mual dan pusing kepala.
Panji menatap jengkol yang sedang di rebus di dalam panci. Seumur hidup PAnji belum pernah melihat makanan yang bernama jengkol. Apalagi di suruh mencicipinya. Karena semua orang yang ia temui akan memberikan respon jelek pada jenis makaan ini, yang katanya jengkol pahit la, jengkol itu bau banget bisa membuat kamar mandi kita semakinbau, belum lagi napas orang yang habis makan jengkol akan terasa sanagt bau.
"Bukannya banyak orang gak suka makan jengkol?" tanay Panji pelan. Ia coba menghargai setiap masakan Maura. Orang se -cantik Maura menyukai jengkol, itu berita luar biasa.
"Kenapa? Karena bau?" tanya Maura pelan.
Panji menganggukkan kepalanya pelan pada bahu Maura hingga gadis itu sedikit kegelian karena dagu Panji bergerak gerak di pundaknya.
"Memang sudah pernah coba jengkol?" tanya Maura pelan sambil membalikkan ayam goreng yang ada di penggorengannya.
"Belum pernah dan kayaknya gak akan mau. Pikiran aku sudah buruk tentang jengkol. Jadi aku gak mau mencobanya," ucap Panji pelan dengan tegas.
Kali ini Panji melepaskan pelukannya di perut Maura dan memilih duduk di salah satu kursi di meja makan sambil menikmati kopi hitam yang telah di sediakan oleh Maura.
Maura tak memberikan komentar apapun dan ia tetap memasak jengkol kesukaannya. Jengkol buatannya tidak pernah meninggalkan jejak bau yang tidak sedap.
Panji menyeruput kopi hitamnya sambil memebaca koran dan sesekali menatap Maura dari arah belakang. T gadis itu benar -benar sangat seksi seklai. Permainan ranjangnya begitu mempesona.
Satu wadah besar berisi nasi uduk sudah di letakkan di meja makan. Asap mengebul dari wadah itu memberikan aroma wangi nasi bercampur santan hingga terasa gurih walaupun belum di cicipi. Apalagi wangi daun sereh membuat semakin sedap aromanya. Satu piring irisan telur dadar pun sudah siap. Satu piring besar ayam goreng dengan serondeng di atasnya juga sudah di tata rapi di atas meja. Timun dan sambal bawang serta kerupuk bawang juga sudah di atur sedemikian rupa agar mudah di jangkau di meja makan. Satu mangkuk orek tempe kering pun sudah di sajikan. Terakhir Maura masih mencicipi semur jengkol buatannya. Di rasa sudah pas semuanya masakan terakhir itu diangkat dan ikut tersaji di meja makan. Tidak ada aroma bau jengkol sama seklai. Ada juga aroma wangi dan manis serta pedas yang tercium dari mangkuk itu.
Panji menelan air ludahnya. Wangi itu membuat Panji ingin mencicipi tapi takut rasanya di luar ekspektasinya.
"Ini mau pakai apa? Nasi uduk, telur, ayam, orek, dan sambal. Oh ya kerupuknya juga," ucap MAura berbicara sendiri.
__ADS_1
"Suapi," titah Panji tegas.
"Mau di suapi? tanya Maura pelan.
"Ya. Itu tugasmu kan?" ucap Panji tegas yang berpura -pura sibuk dengan koran yang sedang ia baca.
"Baiklah," jawab Maura pelan. Senyum liciknya di mulai. Diam -diam Maura meletakkan tiga buah jengol dan sedikit kuah kentalnya. Satu per satu ia menyuapi Panji ke dalam mulu lelaki itu. Suapan pertama memakai ayam dan sedikit sambal bawang dan kerupuk yang di cemil terpisah dari piring itu.
Panji mengunyah sambil mengangguk -anggukan kepalanya karena puas dengan masakan Maura dan terasa nikmat.
Suapan kedua, Maura menyispkan telur dan orek. Samapi saat ini tidak ada komentar dan komplain dari priayang setiap malam menidurinya itu. Suapan ketiga, setengah jengkol yang di campur dengan orek tempe sudah sukses meluncur ke dalam mulut Panji. Maura terdiam dan melihat reaksi Panji. Tapi lelaki itu sama seklai tidak bereaksi dan santai mengunyah lalu menelan. Maura pun mengambil semur jengkol kembali dan kali ini tanpa campuran lauk yang lain. DAn masih sama, Panji tidak merespon. Ia hanya terlihat menikmati makanan itu di dalam mulutnya yang terasa pas semua bumbunya.
"Enak sayang? Ada yang kurang gak rasanya?" tanya Maura pelan.
Panji menoleh ke arah Maura dan memegang gemas dagu MAura.
"Selalu pas dan terasa enak di lidah." jawab Panji singkat.
"Sempurna. sekali. Ayam gorengnya, orek tempe, telurnya dan dagingnya tadi enak," ucap Panji pelan memuji sambil tersenyum tuylus.
"Daging? Maura gak masak daging. KAn sudah ada ayam jadi tidak mungkin bikin daging juga," ucap MAura pelan. IA tahu apa yang di maksud Panji dengan daging. Itu adalah jengkol. Jengol buatannya memang tidak bau, bahkan rasanya empuk dan legit sama seperti daging lapis.
Panji meletakkan koranyang ada di tangannya dan melipatnya dengan asal. Ia melihat ke semua piring dan mangkok. Memang tidak ada masakan daging di sana.
Kedua mata Panji melotot dan tajam menatap Maura yang terkekeh pelan. Ia tak sanggup menahan tertawanya sejak tadi. Semur jengkol yang di tolak menath -mentah oleh Panji tadi malahan lauk pertama yang habis duluan. Dan smeur jengkol itu yang membuat Panji menambah makanannya lagi.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Panji yang agak kesal dan mulai marah.
Maura berusaha menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak ada yang lucu. Cuma ingin tertawa saja," ucap MAura lembut. Raut wajahnya di buat seserius mungkin tanpa ada cndaan di sana.
"Apa yang aku makan tadi?" tanya Panji dengan suara keras.
__ADS_1
"Itu," jawab Maura singkat sambil menunjuk ke arah meja makan.
"Apa? Itu tuh apa?" tanya Panji dengan kasar dan marah. Maura pun tersentak dan ketakutan. Belum pernah Panji se -amrah ini.
"Jengkol Mas." jawab Maura lirih dan menunduk ketakutan.
"Apa!! Jengkol katamu?" tanya Panji yang terduduk lemas di kursinya.
"Sayang? Kamu kenapa?" tanay Maura cemas.
Panji duduk lemas di kursinya dan bersandar seolah tak ada tenaga. Raut wajahnya berubah terlihat kasihan sekali.
"Maafkan Maura kalau kamu tersiksa makan semur jengkol. Lain kali Maura tidak akan memasak jengkol lagi, dari pada emlihat kamu seperti ini," ucap Maura panik dan ingung.
Panji hanya diam menatap meja makan. Pandangannya tertuju pada satu mangkuk semur jengkol yang tinggal sedikit. Itu artinya sebagia besar jengkol itu sudah masuk ke dalam perutnya.
"Sayang ... Bicara dong? Jangan diam saja." ucap Maura bingung.
"Kamu jahat Maura," ucap Panji pela.
"Maafkan Maura, Mas Panji," ucap Maura liruh dan merasa berslaah.
"Kamu jahat sekali," ucap Panji terus mengulang.
"Iya. Maafkan Maura, Sayang. Maura tidak akan mengulang lagi." ucap Maura pelan.
"Aku tidak meyangka kamu sejahat ini padaku." ucap PAnji dengan tatapan kosong.
"Maura minta maaf Mas," jawab Maura lirih sambil memegang tangan Panji erat. Ia benar -benar telah salah. Niatanya agar Panji dyan dnegan jengkol tapi ekpektasinya salah.
"Tidak perlu minta maaf. Kamu salah, kamu jahat, karean setiap masakan kamu mampu membuatku suka dan selalu bersemangat. Love u, sayang," ucap panji tersenyum dan mengecup kening Maura dan bibir Maura pelan.
MAura hanya menaganga tak percaya an skap Panji yang malah menggodanya balik.
__ADS_1