MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
TERBONGKAR


__ADS_3

Perjalanan pun sudah sampai di suatu kota besar yang lain. Kota yang memang tidak se -besar kota kelahirannya. Tapi cukup ramai dan terlihat nyaman.


Mobil Rey pun berhenti di salah satu pusat kota yang ramai. Di sana ada tulisan besar yang mengiklankan tempat yang akan di sewakan.


"Mau coba telepon? Tempatnya oke. Di sini cukup ramai, dan lihat bangunan itu ada dua lantai, satu lantai bisa untuk restaurant, lantai kedua kita buat sebagai kantor dan gudang penyimpanan bahan. Gimana Bos?" tanya Rey pelan.


Maura masih di dalam mobil bersama Lia. Maura masih sibuk mengunya cokelat kurma yang kemarin ia beli di supermarket.


Tok ... Tok ... Tok


Panji mencoba membuka pintu mobil di bagian Maura duduk namun tidak berhasil. Lalu, mengetuk kaca jendela itu dan menampakkan wajahnya dari kaca jendela arah luar.


"Buka sayang," titah Panji dengan suara keras.


Maura pun menurunkan kaca jendelanya dan menatap Panji lekat.


"Apa?" tanya Maura ketus.


"Jangan ketus gitu dong, Sayang?" cicit Panji berusaha meray Maura.


Maura pun memutar kedua bola matanya dengan malas. Panji memang pandai bersikap, merayunya dan membuat hati Maura luluh kembali. Tapi kali ini Maura mencoba tidak mau dengan mudah luluh begitu saja.


"Apa tuan Panji?" tanya Maura pelan sengaja membuat suasana mejadi keruh.

__ADS_1


Panji melotot saat Maura menyebutnya dengan sebutan tuan.


"Aku marah ya?" ucap Panji pelan.


"Mau marah sama Maura? Memang benar tuan Panji kan?" ucap MAur apelan.


"Cukup Maura!! Aku tidak mau berdebat dengan kamu. Kira -kira bagaimana dengan gedung ini?" tanya Panji pelan sambil mengalihkan pembicaraannya.


Ini sedang di jalan, mungkin kalau di rumah. Maura sudah di seret Panji ke tempat tidur. Tidak ada ampun bagi Maura jika berteriak meminta ampun.


Maura menatap lokasi tempat dimana ia sekarang berada. Tempatnya luas dan memang ramai karena posisinya tepat di pinggir jalan raya besar.


Lalu, bangunan itu speerti bangunan baru dengan bentuk mewah, elegan dan sangat bersaing untuk tempat dan kenyamanannya.


"Bagus. Bisa lihat ke dalam?" tanya Maura antusias.


Maura menutup toples cokelat di pangkuannya dan membuka pintu mobil dan turn dari mobil itu. Hembusan angin siang itu membuat rok pendeknya sedikit terangkat sampai Panji pun berusaha memeluk Maura agar pakaian gadis itu tida terbuka.


"Rokmu terangkat sayang. Kamu tahu kan? Aku tidak mau berbagi pada siapa pun. Aku mendapatkanmu dan aku kamu pertama bagiku, begitu juga sebaliknya," ucap Panji lirih berbisik di telinga Maura.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Kau pandai sekali, tuan," ucap Maura memuji tapi sedang mengejek.


"Jangan memulai pertengkaran ini Maura. Kenapa harus begini," ucap Panji kesal.

__ADS_1


"Uruslah wanitamu. Terima kasih karena telah membantu mewujudkan mimpi Maura," ucap Maura ketus.


"Wanitaku? Siapa? Aku hanya memiliki kamu, maura. Tak ada yang lain," tanya Panji mulai kesal.


"Anetha? Masih mau berkilah? Dia istrimu, bukan? Lalu? Maura hanya kau anggap pelacur? Teman tidur? Atau hanya butuh kepuasan saja?" tanya Maura ketus dnegan tatapan tajam ke arah Panji.


Panji menelan air ludahnya dalam. Begitu cepat rahasianya terbongkar.


"Gak bisa jawab? Gak perlu di jawab? Maura mau lihat bangunannya," ucap Maura pelan.


Panji membuang napasnya kasar. Ia lalu menghampiri Lia yang masih duduk manis di dalam mobil tanpa tahurahasa keduanya.


"Keluar kamu, Lia. Brengsek kamu!!" teriak PAnji dengan suara keras sambil mengetuk kaca jendela mobil dengan kencang.


Rey menoleh, melihat Panji sedang murka dan sedang ingin menghakimi Lia. Maura pun berbalik dan berlari kecil menghampiri Panji.


Maura dengan cepat menggandeng tangan Panji dengan erat. Maura tidak mau ada perselisihan.


"Lepaskan aku, Maura!!" teriak Panji berusaha berontak melepaskan genggaman Maura.


Maura langsung berbalik dan kedua tubuh mereka pun saling brtubrukan.


"Jangan salahkan orang lain, kalau anda gak punya bukti, tuan? Bukan Lia, Maura tahu semuanya. Maura memang menunggu anda mengucap nama Anetha," ucap Maura ketus.

__ADS_1


Suasana siang itu tak hanya keruh dan sedikit ricuh secara intern. Byangkan saja, bagai tersambar petir Panji tahu kalau Maura mengetahui pernikahannya dengna Anetha.


Lalu? Siapa yang membuka rahasia besar ini?


__ADS_2