
"Kenapa? Kayak kaget?" tanya Maura pelan sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut mungilnya.
Rey menggelengkan kepalanya pelan. Rey melirik ke arah Panji yang masih menatap Maura dengan mulut sedikit menganga.
Maura melanjutkan menghabiskan makanannya.
"Sayang? Uangku cukup kan buat belanja tadi?" tanya Panji pelan. Hanya kata - kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Panji sendiri bingung harus menjawab bagaimana.
Maura meletakkan sendok dan garpunya. Tangannya memgang tangan Panji. "Apa kamu pikir aku kekurangan?"
"Ya ... Lalu apa yang membuatmu ingin membuka warung makan? Seolah aku tidak mencukupi kebutuhan kamu," ucap Panji pelan. Kedua mata Panji sengaja menatap tajam ke arah Maura.
Maura terdiam dan tak bisa menjawab.
"Bukan tidak mencukupi kebutuhan, Sayang. Tapi, Maura hanya ingin mempunyai kegiatan selain hanya mengurusi dan melayani kamu," ucap Maura manja.
"Ha ha ha ... Bukankah memang tugasmu hanya mengurusi dan melayani ku saja? Apa yang kau cemaskan? Uang ku cukup untuk membeli bahan -bahan makanan dan kau masih bisa mencoba semua resep yang masakan yang kau inginkan," ucap Panji pelan sambil mengusap punggung tangan Maura.
__ADS_1
Maura melepaskan tangannya dalam genggaman Panji dan melanjutkan kembali makan siangnya.
"Sudahlah, lanjutkan lai makan siangnya. Anggap saja apa yang Maura katakan tadi hanyalah sebuah cerita saja. Jadi tidak perlu di gubris," ucap Maura pelan.
Panji hanya menghela napas dalam. Dirinya memang sedang bingung untuk mencari penghasilan lain demi membiayai kebutuhan hidup bersama Maura. Tapi, tidak mungkin peluang dan ide Maura ini langsung ia setujui. Seperti lelaki yang tak punya malu saja menyuruh seorang wanita untuk mencari uang.
Rey juga nampak diam tak berani berkomentar.
"Hem ... Aku pulang dulu. Makan siangku sudah seesai. Aku tidak ingin Lia menunggu lama kedatangan aku. Kalau di ijinkan, besok aku akan kemari bersama Lia," ucap Rey pelan.
"Bawalah calon kakak ipar Maura. Muara ingin mengenalnya," ucap Maura pelan.
Selesai makan siang, Maura dan Panji bersantai di kamar sambil menonton televisi. Panji yang biasanya sering mengganggu Maura pun, kali ini lebih terlihat melamun menatap televisi tanpa berkedip.
"Sayang? Mau coba puding lapis?" tanya Maura pelan sambil mengecup pipi Panji.
Panji menoelh ke arah Maura mencoba tersenyum, tapi senyum itu terlihat kaku sekali.
__ADS_1
"Maafkan aku, Maura. Ada hal lain yang mengganggu pikiran aku saat ini. Tadi kau menawariku puding lapis? Aku mau kau suapi aku? Bisa?" tanya Panji sambil membalas kecupan pada bibir Maura dengan lembut.
Sejak tadi mereka memang berpelukan di bawah selimut. Maura sendiri sempat memejamkan kedua matanya sekejap dan terbangun kembali karena suara televisi yang tiba -tiba terdengar sangat kencang.
"Apapun yang kamu mau, Maura akan melakukannya. Bukankah itu memang salah satu tugas utama Maura, untuk mengurus dan melayanimu, tuan?" goda Maura sambil tertawa keras.
"Pandai sekarang menggodaku, sayang? Apa belum puas ku buat kau menangis bahagia berada di bawah ku?" goda Panji tersenyum licik.
"Tidak. Ampun tuan. Maura menyerah," teriak Maura sambil tertawa.
Maura pun berlari menuju dapur dan membuka lemari pendingin lalu mengambil satu mangkuk puding lapis dan potongan buah mangga gadung serta es doger buatannya sendiri.
Panji sudah duduk tegak menunggu makanan yang sedikit menggoda lidahnya.
"Sepertinya segar di makan siang hari begini?" ucap Panji pelan membuka selimutnya dan kakinya yang berbulu pun langsung terlihat menggoda Maura.
"Apanya yang seger?" goda Maura yang langsung duduk di atas kasur tepat di samping Panji.
__ADS_1
"Kamu sayang," jawab Panji lirih sambil mnegedipkan satu matanya.
"Mulai deh kumat sangenya," ucap Maura kesal sambil mengerucutkan bibirnya.