MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
RUJUK


__ADS_3

Perjalanan kisah cinta yang rumit yang berakhir pada cinta sejati. Kini, Panji dan Maura kembali bersatu setelah semua yang di laluinya begitu sangat berat.


Kehidupan yang mapan dan smeua cinta begitu tercurah di dalam keluarga barunya itu. Cinta yang telah di restui pun membuat hati mereka semakin menjalaninya tanpa beban.


Seperti biasa Maura berkutat dengan bahan -bahan masakan di dapur.


"Pagi ... Sayang," ucap Panji dengan sangat lembut. Dengan santainya, Panji melingkrkan kedua tangannya ke arah depan perut Maura yang mulai membuncit. Dengan dagu yang di letakkan di bahu Maura sambil menciumi leher Maura dengan sauan bibir dan lidahnya.


"Sayang ... Geli ih," jawab Maura yang mulai kegelian sambil memiringkan kepalanya.


"Kok udah bangun sih? Maish mau manja -manja sama anak kita," ucap Panji pelan sambil mengusap -ngusap perut Maura lembut.


Panji memang begitu sayang pada Maura dan pada bayi yang ada di dalam kandungan Maura.


"Maura lapar, Sayang. Anaknya juga dari tadi udah nendang -nendang minta makan. Lalu? Maura harus puasa gitu?" tanya Maura pelan.

__ADS_1


"Kok gitu jawabnya? Mas kan gak suruh gitu. Kenapa gak bangunin Mas, biar Mas keluar untuk membeli sarapan dan beberapa makanan kesukaan kamu, sayang," ucap Panji pelan.


Panji pun membalikkan tubuh Maura yang kini sudah menghadapnya. Perlahan ia cium bibir, gadis malam yang kini telah SAH menjadi istrinya itu.


cup ...


"Selalu enak dan nikmat," ucap Panji lirih saat menyudahi ciuman bibirnya itu.


"Maura belum mandi. Maura juga belum gosok gigi," ucap Maura santai. Ia tahu, Panji tentu berbohong. Mana ada, orang bangun tidur di ajak berciuman di bilang enak dan nikmat. Bukankah malah bau iler di sekitar wajah Maura.


"Apa?" tanya Panji kesal. Ia sudah bicara dari lubuk hati yang paling dalam.


"Dari dulu, Mas itu selalu bicara apa adanya. Kalau Mas bilang enak ya enak. Nikmat ya nikmat. Mau kamu gak mandi smeinggu juga Mas masih mau nyium kamu. Mau kamau gak gosok gigi juga, Mas pernah bilang gak mau nyium karena kamu belum mandi dan belum gosok gigi? Pernah gak?" tanya Panji plean.


Ia berusaha bicara pelan dari hati ke hati. Kondisi Maura labil sekali. Gampang marah dan ambekan. Pernah saat mereka berusaha mencari restu. Maura menyerah di titik akhir dan mengunci diri di kamar apartemen hingga membuat Panji, Rey dan Lia bingun untuk membujuknya.

__ADS_1


Ujung -ujungnya. Panji harus meminjam kunci duplikat kepada pihak pengelola apartemen dan membuka kamar apartemen itu tanpa sepengatahuan Maura.


Untung saja, mereka datang tepat waktu. Ternyata Maura terjatuh di kamar mandi. Panji yang langsung panik pun membawa Maura ke rumah sakit malam itu juga. Ia takut terjadi sesuatu pada Mura dan kandungannya yang saat itu baru akan memasuki usia kandungan ke -enam bulan.


Maura pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Memang gak pernah bicara langsung. Tapi kalau mematin, Maura juga kan gak thau," ucap Maura pelan.


"Huftt ... Masak apa? Lapar nih," ucap Panji lembut berusaha mengalihkan tema pembicaraan pagi ini yang bakal panjang urusannya nanti.


MAura pun langsung membalikkan tubuhnya karean ia mencium bau sedikit gosong pada pancinya.


"Argh ... Sphagetiku!!" teri MAura yang histeris melihat air di dalam sphagetinya mengering. Alhasil masakannya sedikit gosong.


Panji hanya tertawa di dalam hatinya. Sejak tadi, ia memang melihat jika gosong. Tapi, ia diam saja tka banyak bicara.

__ADS_1


__ADS_2