
Hari semakin siang, Rara masi tertidur pulas. Baihaqi pun sudah selesai membereskan pakaian Rara. Keputusan Baihaqi sudah bulat untuk memindahkan Rara dari rumah kontrakannya. Siang ini juga Baihaqi akan membawa Rara mencari tempat tinggal baru yang lebih nyma untuk Rara dan tidak membuatnya stres. Tempat yang jauh dari ghibah masyarakat, dimana Rara akan menjadi orang baru dengan status yang baru juga.
Baihaqi duduk bersandar pada dnding kamar menunggu adzan dzuhur berkumandang.
Semakin siang, semakin panas, tubuh Rara pun semakin terasa gerah dan lengket karena keringat, padahal pendingin ruangan masih menyala. Kedua mata Rara membuka menatap langit-langit kamar, tubuhnya terasa berat saat akan berbalik menyamping. Jiwanya masih berusaha dikumpulkan menjadi satu agar Rara benar-benar sadar terbangun dari tidurnya.
Kepalanya menoleh ke arah samping dan melihat sosok Baihaqi yang terlihat lelah memejamkan kedua matanya sambil bersandar. Rara terseyum, dalam hatinya kasihan terhadap Baihaqi.
'Maafkan aku yang belum bisa membuka hati kembali utnuk orang baru yang ingin mengenalku lebih dalam. Aku takut kecewa untuk ke sekian kalinya,' batin Rara dalam hati.
Rara mencoba melihat jam dinding yang ada di dinding. Sudah pukul dua belas siang, perutnya sudah lapar kembali untuk minta diisi oleh makanan enak.
"Mas ... Mas Bai ... Sudah adzan dzuhur. Mau sholat tidak? Aku lapar?" panggil Rara dengan lembut tanpa menyentuh.
Telinganya begitu tajam, suara serak Rara pun masih terdengar jelas di gendang telingannya.
Baihaqi menatap Rara dan tersenyum
"Terima kasih sudah membangunkan dan mengingatkanku untuk sholat. Setelah ini kita pergi dari sini dan mencari tempat tinggal baru untukmu, sekaligus mencari untuk makan siang. Kamu sudah lapar bukan? Anakmu pun pasti sudah lapar. Kamu segera bersiap ya? Semua sudah aku bereskan," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.
Baihaqi bangkit berdiri danmeninggalkan Rara yang masih berbaring di kasur.
Beberapa saat kemudian, smeua barang-barang Rara sudah dipindahkan ke dalam mobil. Hari ini awal mulai Rara menjadi seseorang yang baru dnegan status baru, sebagai wanita yang akan menjadi Ibu muda. Bedanya semua anaknya akan memiliki Ayah, sedangkan Rara akn melahirkan anak tanpa seorang Ayah.
Keduany sudah berada di dalam mobil. Rara memundurkan joknya agar bisa bersandar dengan sangat nyaman.
"Kamu tidak menghubungi Dyah?" tanya Baihaqi pelan kepada Rara yang menatap lurus ke arah jalan.
"Tidak usah. Tolong jangan bilang Dyah, tentang kepindahanku. Dyah punya keluarga,dan aku tidak mau selalu mrepotkan Dyah dan menjadi beban dalam hidupnya. Ada Cantika dan Mas Hendra yang harus Dyah perhatikan dan urus, bukan aku yang hanya seorang sahabat," ucap Rara dengan bijak.
"Itu tandanya sahabat yang baik mau peduli dengan kamu saat suka dan duka," ucap Baihaqi menasehati.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa lagi mengucapka terima kasih. Sudah terlalu banyak bantuan Dyah yang tidak bisa aku balas, Mas," curhat Rara yang semakin nyaman berbincang dengan Baihaqi.
"Tapi kalau kamu tidak mengabarinya, Dyah pasti akan bingung dan kehilangan kamu, Ra. Da kamu akan dianggap sahabat yang tidak tahu terima kasih, menghilang begitu saja tanpa kabar. Iya kalau Dyah paham, kepergianmu itu untuk hal kebaikan, tapi kalau Dyah cemas dengan keadaan kamu yang tiba-tiba menghilang, bagaimaa?" tanya Baihaqi menjelaskan.
Rara mengangguk paham. Memang ada dua opsi untuk hal ini.
"Nanti saja aku kabari, pasti aku kabari," jawab Rara singkat sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
Baihaqi melirik ke arah Rara sekilas, menatap wnaita hamil yang duduk di sebelahnya. Baihaqi tahu, Rara ingin menyendiri dan berusaha mandiri dalam segala hal.
"Mau makan apa?" tanya Baihaqi pelan kepada Rara yang masih fokus pada jalan raya.
"Soto ayam," jawab Rara singkat sekenanya.
"Soto ayam? Dimakan ya? Jangan cuma minta saja?" tanya baihaqi lembut.
Rara hanya mengangguk pelan tanpa bersuara.
Tidak lama kemudian, mobil Baihaqi sudah masuk ke satu rumah makan soto ayam yang terkenal di kota itu.
Makanan dan minuman yang di pesan pun sudah berjajar rapi di atas meja makan. Rara sudah mengambil piring berisi nasi puti dan satu mangkuk soto ayam yang begitu wangi.
"Mau pake emping atau peyek kacang?" tanya Biahaqi pelan memberikan pilihan untuk mengambilkan.
"Peyek kacang saja," jawab Rara dengan tersenyum.
"Habiskan semuanya. Jangan ada yang bersisa. Ingat anakmu butuh gizi juga," tegas Baihaqi menasehati.
"Siap Bos," ucap Rara dengan lantang.
Baihaqi hanya bisa menggelengkan keplanya pelan melihat tingkah Rara yang begitu polos.
__ADS_1
"Aku harus tinggal dimana? Maksudku cari tempat tinggal dimana?" tanya Rara pelan sambil mengunyah nasi putih dan kuah soto ayam secara bersamaan.
"Kamu mau tinggal di daerah mana?" tanya Baihaqi kembali. maksud Baihaqi biar semua pilihan dan keputusan ada di tangan Rara. Biar Rara yang memilih tempatnya sendiri, karena Rara yang lebih tahu bagaimana situasi dan kondisinya.
"Aku tidak tahu, Mas. Menurut Mas?" tanya Rara pelan.
"Menurutku, di bogor saja. Biar aku lebih bisa memperhatikan kamu, apalagi kamu akan melahirkan," ucap Baihaqi singkat dan menghabiskan sisa nasi putih yang ada di piringnya.
"Bogor? Jauh kan?" jawab Rara yang cukup kaget dengan saran baihaqi.
"Kalau mau hijrah dan menjadi orang baru itu jangan tanggung-tanggung," ucap Baihaqi pelan.
"Hijrah? Apa itu hijrah? Bukankah hijrah itu untuk orang yang berpindah agama?" tanya Rara dengan jujur tidak paham dengan makna kata hijrah.
Baihaqi tertawa renyah mendengar ucapan Rara yang begitu polos dan jujur itu.
"Hei, Hijrah itu bukan hanya untuk orang pindah agama, tapi untuk berubah menjadi lebih baik juga namanya Hijrah," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.
"Ohh, seperti itu," ucap Rara singkat sambil menganggukan kepalanya.
"Mau tahu alasannya aku suruh pindah ke Bogor?" tanya Baihaqi pelan.
Rara menggelengkan kepalanya pelan dan menjawab sesuai yang apa diketahuinya.
"Untuk hijrah kan?" jawab Rara penuh keraguan.
"Bukan itu saja, ada alasan yang lebih penting dari itu," ucap Baihaqi lembut. Minuman dalam gelasnya sudah dihabiskan tak bersisa.
"Apa?" tanya Rara lembut dengan penasaran.
"Karena aku ingin menjaga kamu," ucap baihaqi pelan dan menatap lekat ke arah Rara.
__ADS_1
Ditatap lekat penuh damba seeprti itu, wajah Rara pun menunduk. Ada perasaan bersalah melingkupi hatinya saat ini. Pikirannya ingin tenang, Rara sudah berhasil melupakan Cantas dengan segala perbuatan bejatnya dan kini Rara benar-benar ingin tetap hidup sendiri dan mandiri.
"Maafkan aku, Mas," ucap Rara lirih. Suaranya nyaris tidak terdengar namun kata-katanya cukup jelas terdengar oleh Baihaqi.