MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
MENYUSUI BAYI BESAR


__ADS_3

Panji dan Maura telah siap sejak tadi. Kini mereka menunggu kedatangan Rey dan Lia untuk menjemput mereka.


Hanya kartu hitam yang saat ini di miliki Panji. Semoga saja uangnya memang cukup untuk mmebuk asebuah usaha restaurant yang akan ia kelola bersama Maura, gadis kesayangannya itu.


Tak lama Rey dan Lia sudah menjemput. Keduanya menunggu di tempat parkir.


"Kau bawa apa saya?" tanya Panji yang melihat Maura membawa satu tas tentengan berisi beberapa kotak makan.


"Buat di mobil. Ada salad buah, puding, sama cemilan aja," jawab Maura pelan.


"Kita kan bisa beli di jalan," ucap Panji pelan mencari solusi dengan mudah.


"Itu namanya pemborosan. Bahan makanan kita banyak. Lagi pula Mas Panji harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Percuma adaMaura, kalau masih tetap jajan?" cicit Maura kesal.


"Harus makan makanan sehat dan bergizi? Biar apa?" tanya Panji mulai menggoda Maura.


Maura memutar kedua bola matanya dengan malas. Bagi Maura itu adalah salah satu pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh Panji. Maura pun tak menanggapi ia malah sibuk dengan tas tentengnya dan air mineral di dalam jumbo besar untuk diirnya sendiri.


"Heiii ... Cantik. Mas lagi bicara padamu, kenapa kamu malah melengos begitu?" tanya Panji sedikit kesal.


"Melengos gimana? Pertanyaan Mas itu gak perlu di jawab. Anak TK dan anak SD pun tahu. Kalau makan itu harus makanan sehar dan bergizi. Kenapa harus di pertanyakan?" tanya Maura kesal.


"Lho kok malah marah? Maksud Mas tadi, kalau makan makanan sehat dan bergizi itu berarti Mas kan jadi kuat ...." ucapan Panji terhenti. Panji sedikit menahan tawa karena ingin menggoda Maura.


"Terus?" tanya Maura lekat menatap kedua mata Panji.


"Terus biar kuat kan?" jawab panji denagn wajh serius.


"Kuat apa?" tanya Maura kesal. Maura tahu arah pembicaraan CEO mesum ini.


"Ya kuatlah. Kuat segalanya. Kuat mengangkat galon, kuat mencari nafkah, kuat ....." ucapan Panji terhenti lagi. Ia nampak berpikir sejenak. Mencari jawaban spontan itu ternyata tidak mudah.

__ADS_1


"Kuat apa lagi? Hem?" tanya Maura mulai terpancing ingin menggoda lelaki itu.


"Kuat membuatmu mendesah lama," teriak Panji keras lalu mengecup bibir Maura dan berlari ke arah pintu keluar dengan cepat. Panji tahu sebentar lagi Maura akan marah besar pastinya.


"Mas Panji!!" teriak Maura keras. Benar saja ia kesal saat ini.


Panji malah terawa puas telah mnggoda Maura dan membuat gadis itu marah. LIhat saja, semakin manyun dengan kekesalannya, Panji malah semakin gemas dengan Maura.


Pagi ini, Rey, Lia, Panji, dan Maura pergi ke kota besar yang bersebelahan dengan kotanya. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang di dalam mobil. Panji menginginkan pindah dari kota ini dan membuka usaha itu di kota besar lainnya. Panji punya alasan kuat untuk itu, yang pertama ia ingin menunjukkan kepada Mama dan Papanya kalau ia bisa berhasil tanpa mereka. Panji bisa mendirikan usaha walaupun bergerak di bidang kuliner.


"Maura setuju jika kita buka usahanya di kota besar lain. Selain kita punya suasana baru, setidaknya kita benar -benar bisa memulai semuanya dari bawah tanpa malu," ucap Maura pelan.


"Aku setuju dengan gadis kecilku," ucap Rey gemas kepada Maura, adiknya sendiri.


Setelah memuji begitu pun, Rey di tatap tajam oleh Panji. Entah Rey lupa atau sengaja memuji Maura di depan Panji yang pencemburu.


"Kau lihat tanganku, Rey?" tanya Panji yang duduk di depan tepat di sebelah Rey yang sedang fokus menyetir. Maura dan Lia yang sedang berbincang pun menatap Panji dan melihat apa yang sedang di tunjukkan karena tiba -tiba suasana hening dan sedikit menegang.


Rey melirik sekilas dan bergidik ngeri. Dulu ia pernah kena bogem oleh Panji dan rasanya sakit sekali. Dulu waktu Panji masih bucin parah pada Anetha.


"Diam Maura!! Ini urusan laki -laki!!" ucap Panji lantang.


Panji kalau marah sudah tak mengenal saudara, sahabat, teman atau musuh sekali pun. Apapun yang membuatnya kesal ya harus terima resiko kena pukulan telak.


"Maaf Nji." jawab Rey lirih. Rey menyesal telah memujui Maura, adiknya sendiri. Seharusnya Rey tak menganggap Maura itu saudara kandungnya agar ia tak keepasan bicara.


"Maaf? Gampang ya?" ucap Panji yang masih kesal.


Lia dan Maura pun saling berpandangan. Kalau di diamkan bisa -bisa terjadi hal -hal yang di inginkan.


"Mas Panji mau ambil uang di mana?" tanya Maura tiba -tiba untuk mengalihakan pembicaraan.

__ADS_1


"Saya bilang kamu diam? Kamu mau bela Rey? Bukan membela saya yang jelas -jelas mebela kamu agar kamu tidak di lecehkan, Maura!!" teriak Panji di dalam mobil dengan keras.


"Bukan masalah membela sayang? Kita be -empat sudah seperti saudara. Kta gak boleh menghakimi. Itu hanya ungkapan pujian seorang kakak pada adiknya. Tidak ada yang aneh atau berlebihan?" cicit Maura pelan.


Maura memajukan duduknya dan mengusap pipi Panji pelan agar lelaki itu merasa aman dan nyaman dan sikapnya melembut.


"Kau sedang merayuku Maura?" tanay Panji lirih. Ia menikmati sentuhan Maura. Jari -jari Maura begitu lembut berjalan di wajahnya.


"Apa kau anggap Maura sedang merayu? Ini bukan merayu, karena Maura sayang sama Mas Panji. Maura akan lakukan apapun agar membuat Mas panji senang," cicit Maura pelan.


Rey melirik sekilas ke arah Panji. Maura emmang cerdik, ia pintar membuat Panji luluh. Level bucin Panji kepada Maura terlalu tinggi berbeda saat bersama Anetha dulu yang hanya bucin tapi tidak se -parah ini.


Lia pun melirik Rey melalui kaca spion tengah seolah ingin mengatakan sesuatu pada Rey. Ia baru melihat pasanagn bucin ini hari ini dan membuat Lia pun ikut meleleh kayak keju mozarella yang sengaja di letakkan di atas pizza panas.


"Mas Panji mau apa? Salad? Cemilan atau cokelat? Biar Maura suapi," cicit Maura lirih setengah berbisik agar Panji tak malu.


"Aku ingin kamu sekarang. Hanya itu," jawab Panji pelan tanpa berdebat panjang.


"Oke. Kak Rey berhenti. Biarkan Lia dan Mas Panji bertukar tempat. Maura ingin mengurus bayi besar Maura dulu," ucap Maura terkekeh pelan.


Rey hanya menurut dan menahan rasa tawanya. Begitu pun Lia yang langsung setuju tanpa bernegosiasi.


"Apa kau bilang? Mengurus bayi besar? Aku maksudmu Maura?" tanya Panji mulai kesal kembali.


"Hemm ... Mengurus dan menyusui," jawab Maura membenarkan kembali ucapannya.


"Menyusui? Di mobil? kau beran Maura?" tanya Panji pelan.


Maura tersenyum dan mengangguk pelan. Ucpan itu membuat Lia dan Rey saling berpandangan. Ini di mobil dan mereka satu mobil. Apa iya, mereka mau berbuat mesum di dalam mobilnya dan membuat iri Lia dan Rey?


"Untuk apa malu? HAnay ada Kak Rey dan Lia. Maura berani kok, menyusi Mas Panji di depan mereka. Mas Pnaji malu gak?" tanya Maura membalikkan pertanyaannya.

__ADS_1


Panji tak menjawab dan langsung turun dan berpindah tempat ke belakang. Gairahnya seketika memuncak.


__ADS_2