
Maura sudah benar -benar terlelap. Panji sudah mengangkatnya kembali ke kamar tidur mereka dan merebahkan di kasur empuknya.
Ponselnya terus berdering. Anetha meneleponnya. Panji hanya mendiamkan hingga dering telepon itu mati dengan sendirinya.
Layar ponsel itu terus saja menyala. Panji hanya menatap tanpa peduli. Nama Anetha terus saja muncul di layar ponselnya.
Anetha pun mengirimkan pesan singkat kepada Panji, "Papah sakit masuk ICU. Apa kamu gak ada rasa khawatir?"
Panji membacanya dan tak peduli. Tapi, Anetha adalah orang ketiga yang memberi tahunya membuat Panji pun kepikiran tentang kesehata kedua orang tuanya yang memang sudah mulai menua. Terlebih Papahnya yang sudah mulai sakit -sakitan. Panji hanya tidak ingin, apa yang ia kasihani malah berbalik padanya karena suatu jebakan.
Tangannya mulai membalas pesan singkat Anetha, "Tidak perlu membohongiku, karena aku tidak mudah mempercayai apapun karena rasa percayaku sudah hilang."
Anetha hanya tersenyum menatap pesan balasan Panji sebagai jawaban dari pesan singkat yang di kirimkan tadi untuk suaminya. Beberapa hari ini, kondisi perusahaan Papah Panji sudah benar -benar terpuruk. Satu -satunya penyelamat agar perusahaan itu ttap berjalan norma adalah bantuan dana besar dari Papah Anetha.
Senyum licik Anetha mulai terbit. Anetha mulai mengetikkan pesan balasan kepada Panji, "Semua keputusan ada di tangan kamu, Nji. Masalah percaya atau tidak, itu kan tergantung penyesalan kamu di kemudian hari."
Pesan balasan Anetha membuat Panji semakin geram. Ia benci dengan keadaan yang seperti ini. Keadaan yang memaksanya untuk mempercayai sesuatu tanpa bukti, dan itu adalah suatu kekecewaan yang mendalam. Panji tidak mau melakukan kesalahan kedua kalinya dalam hidupnya. Cukup menikahi Anetha adalah sebuah keputusan besar yang salah.
"Bukan urusanmu!!" Panji hanya membalas singkat pesan drai Anetha.
Ponsel itu lalu ia tutup dan mematikan lampu kamar tidur. Tubuhnya ikut di rebahkan di sebelah Maura. Bersama Maura, Panji merasa tenang dan nyaman.
Tubuh Panji sengaja di arahkan ke samping agar bisa menatap Maura yang cantik.
"Cepat atau lambat. Aku ingin memperkenalkan kamu pada Mama dan Papa. Aku ingin memilikimu secara utuh Maura," ucap Panji lirih sambil mengusap pipi Maura yang mulus tanpa noda.
Kedua mata Panji pun menutup dan mulai terlelap hingga pagi hari.
Maura sudah bangun terlebih dahulu. Ia sudah mandi dan sudah rapi dalam balutan seragam kerjanya. Maura nampak semangat dan sangat antusias bekerja sebagai cheff di Cafe milik Panji.
__ADS_1
Pagi ini, ia melakukan tugasnya seperti biasa. Membuat sarapan pagi untuk kekasihnya Panji. Hanya saja, sejak semalam, tidurnya tidak nyenyak karena Maura tak berada dalam pelukan Panji seperti biasanya.
Sarapan pagi yang sederhana dengan segelas kopi kesukaan Panji sudah siap di meja makan.
Kini saatnya Maura membangunkan Sang Pemilik Cafe. Mereka sudah tidak bisa bersantai seperti kemarin -kemarin karena mulai kemarin mereka sudah punya tanggung jawab baru pada bisnis yang baru saja di bukanya.
Usaha ini perlu di rintis dnegan baik oleh orang -orang yang mau berusaha dan bekerja keras dengan tulus. Bukan sekedar bekerja dan mendapatkan uang saja. Tapi, perlu inovasi, perlu perbaikan, perlu saran dan perlu pembelajaran hingga mencapa kata sempurna untuk sebuah kesuksesan dan keberhasilan.
"Sayang ... Bangun sudah pagi," ucap Maura lembut.
Sikap Maura sudah kembali seperti biasanya. Tadi malam, Maura hanya lelah dan malas di ajak berdebat. Tapi, pagi ini moodnya sudah membaik lagi. Maura menciumi seluruh wajah Panji hingga lelaki itu membuka matanya da menarik Maura dalam pelukannya. Semalaman tak memeluk gadis ksayangannya ini seperti ada yang hilang.
"Pagi -pagi sudah wangi, sudah cantik, tapi menggodaku," cicit Panji sambil membalas ciuman Maura.
"Aww ... Jangan di gigit dong. Sakit," jawab Muara dengan nada merintih manja. Membuat Panji makin gemas dan ingin melakukan hal gila yang singkat.
"Itu bukan urusan Maura. Bukankah setiap pagi, kepemilikanmu itu memang terbangun dan mengeras?" tanya Maura sambil melotot. Di kira ia wanita bodoh yang tak tahu tentang hal -hal yang bersifat alamiah.
"Tidak akan sekeras ini, jika kau tak menggodaku dnegan pakaian seksimu ini," ucap Panji kesal.
"Seksi dari mana? Ini seragam," jawab Maura menatap kaos berkerah yang ia pakai. Hanya ia lupa mengancingkan dua kancing kaosnya dan dadanya terlihat semakin berisi saat tengkurap di atas Panji.
"Satu ronde ya? Aku butuh amunisi, biar senyumku lebar, biar aku gak marah -marah," ucap Panji dengan jurus jitu membuat luluh hatai Maura.
"Cih ... Nanti cemburu lagi," ucap Maura malas.
"Dua ronde, hari ini tak ada rasa cemburu," ucap Panji meminta nambah porsinya dengan janji yang entah bisa di pegang omongannya atau tidak. Namanya juga jurus rayuan pamungkas.
"Gak. Maura lagi gak mood," ucap Maura pelan. Ia berusaha bangun dari tubuh Panji. Namun Panji menekan punggung Maura agar tetap berada di atasnya.
__ADS_1
"Mau cara lembut apa cara kasar?" tanya Panji sudah mulai tak sabar. Birahinya di pagi hari sudah memuncak.
"Mas Panji. Nanti kita kesiangan. Kamu itu gak bisa main kilat. Satu ronde paling tidak satu jam, elum nambah, belum bonus di kamar mnadi," ucap Maura mulai kesal.
Maura sudah hapal dnegan kebiasaan Panji bermain. Ia tidak akan sanggup melakukan sebentar. Ada juga waktunya makin molor. Lagi pula janji untuk tidak cemburu. Maura tidak mudah percaya begitu saja. Mungkin lama -lama Panji bisa lebih gila dari ini. Ia akan membawa Maura di ruang kerjanya dan tak boleh keluar dari sana.
"Satu ronde cepat. Janji sepuluh menit selesai," tawar Panji yang sudah tak sabar ingin sarapan daging mentah yang sudah siap berada di atasnya sat ini.
Maura hanya bisa menarik napas dalam. Mau menolak dengan cara apapun juga. Panji tetap akan mencari jurus -jurus jitu lainnya untk tetap bisa melampiaskan syahwatnya kepada Maura. Maura hanay bisa pasrah da menikmati semuanya dnegan senyum merekah. Panji memang lelaki pandai membuat pasangannya bahagia.
Benar saja, sepuluh menitnya Panji sudah lebih dari satu jam ranjang itu bergoyang dan mengeluarkan suara -suara nyaring dari tiang -tiang penyangga. Selimutnya sudah terjatuh di lantai. Begitu pun dengan bantal dan guling yang berserakan di atas, di bawah dan di samping. Kasur sudah mulai penuh jejak basah. Tubuh Maura yang putih mulus pun sudah mulai memerah dan di penuhi jejak yang katanya bukti cinta Panji terhadapnya.
Panji pun terlentang di samping Maura. Tubuhnya penuh dengan keringat. Pagi hari yang memuaskan. Satu ronde pun berubah menjadi lima ronde tanpa rehat.
"Mandi yuk," ajak Panji kepada Maura yang masih menatap langit -langit. Tubuhnya masih terasa lemas.
"Tanpa bonus," ucap Maura menoleh ke arah Panji.
"Kamar mandi adalah tempat favoritku. Kamu tahu kan, di sana kamu itu terlihat makin seksi dan menggemaskan. Rasanya beda, dan lebih terasa luar biaa," ucap Panji menggoda.
"Mas ... Sudah ya? Maur lelah ini. Habis ini harus kerja," ucap Maura pelan.
"Kalau lelah ya udah gak usah masuk," jawab Panji enteng.
"Mas ... Kita baru merintis usaha baru. Jangan sampai membuat pelanggan kecewa," ucap Muara pelan.
"Kau juga jangan membat aku kecewa, Maura," ucap Panji tegas.
Maura tak bisa menjawab kecuali mengangguk pasrah.
__ADS_1