
Pintu rumah kontrakan itu terbuka lebar. Sosok Baihaqi yang alim dan penuh wibawa sudah berdiri di ambang pintu dan megedarkan pandangannya ke setiap masing-masing orang yang langsung terdiam membisu.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah pada ribut?" tanya Baihaqi pelan sambil menatap orang yang sudah mengepung rumah kontrakannya.
"Anda sipa? Pgi-pagi sudah berada di rumah kontrakan anak gadis!! Jangan-jangan memang benar rumor yng sedang beredar, jika Rara adalah simpanan pria hidung belang!!" teriak salah seorang Bapak dari arah belakang orang-orang yang ikut berdiri mengepung rumah kontrakan Rara.
"Oke ... Perkenalkan nama saya Baihaqi, saya suami Rara. Kami sudah menikah siri," ucap Baihaqi dengan tegas dan lantang.
Mendengar ucapan Baihaqi banyak orang mendengus kasar dan saling berbisik riuh.
"Apa masih kurang jelas?! Saya Baihaqi, suami Rara. Lalu kenapa kalian masih ada disini?!" ucap Baihaqi tegas dan mempersilahkan orang-orang itu pergi dan kembali ke rumahnya masing-masing.
"Bukan tidak percaya, tapi kami perlu bukti!! Beberapa buln yang lalu, Rara tinggal serumah dengan pria asing yang mengaku kakak sepupunya, lalu rumor berhembus bahwa Rara hamil dengan bosnya dikantor. Tapi sekarang, Anda mengaku bahwa Anda adalah suami siri Rara!!" ucap Lelaki tua yang biasa dipanggil Pak RT itu.
Baihaqi mengangguk pelan, paham dengan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh para tetangga karena semua butuh kejelasan dan bukti yang kuat.
"Sebentar ya. Saya ambilkan bukti-bukti otentk berupa surat keterangan menikah siri. Tidak ada foto karena memang sifatnya privasi," ucap Baihaqi menjelaskan dengan pelan dan tenang.
Baihaqi masuk ke dalam dan membuka tas kecil yang tadi dibawanya, lalu mengeluarkan satu lemba kertas yang sudah diisi.
"Ra, tanda tangani ini. Berpura-puralah kita sudah menikah siri. Jika ada pertanyaan tentang agama kita yang berbeda, aku harap kamu bisa menjawabnya dengan bijak. Kamu tahu, orang-orang di luaran sana sudah terprovokasi dengan gosip murahan," ucap Baihaqi pelan menjelaskan. Satu tangannya menyodorkan satu lembar kertas untuk di tanda tangani oleh Rara sebagai bukti .
Rara mengangguk pelan. Lalu mengambil pulpen dan menanda tangani surat pernyataan itu.
Baihaqi keluar kembali dan memperlihatkan bukti tersebut kepada banyak orang di depan. Ada beberapa yang puas dengan semua penjeasan beserta bukti yang diberikan oleh Baihaqi tetapi ada juga yang masih penasaran dan bertanya-tanya tentang hubungan keduanya yang terlihat setingan saja.
__ADS_1
"Sudah jelas!! Sudah saya buktikan juga!! Jadi, saat ini semuanya bubar, jangan pernah ganggu Rara, istriku!! Paham!!" ucap baihaqi tegas dan latang. Tatapan Baihaqi lekat dan tajam kepada setiap orang yang ada di depannya.
"Baiklah kami kembali pulang. Kami mohon maaf atas keributan di pagi hari ini. Tolong kalian berdua segera mengesahkan pernikahan siri kalian agar sah di mata hukum dan negara, agar tidak terkesan sedang bermain-main," ucap Pak RT.
"Baiklah akan saya atur waktunya untuk mengesahkan pernikahn kami. Sementara kami akan tinggala disini dahulu, sebelum pindah ke Ponpes asuhan saya ynag berada di Bogor. Untuk kalian semua yang ingin memasukkan anak-anak kalian ke Pesantren silahkan hubungi saya, dan masuk ke Ponpes asuhan saya di daerah Bogor. Semuanya gratis," ucap baihaqi tegas.
"Anda seorang Kiyai?" tanya Pak RT pelan sambil menatap baihaqi dengan kagum.
"Ya," singkat jawab Baihaqi.
"Baiklah Pak Kiyai. Nanti kami akan mengabari Anda kembali, bila ada aak-anak kami yang ingin masuk dan bersekolah di Pesantren," ucap Pak RT pelan.
"Saya tunggu kabar baiknya," jawab Baihaqi pelan.
Semua orang sudah bubar atas perintah Pak RT. satu per satu orang-orang yang mengepun rumah kontrakan Rara pun pulang ke rumah merekamasing-masing.
Rara memeluk bantalnya dengan erat, rasa cemas dan panik bercampur menjadi satu. Rasa kekhawatiran akan di usir drai rumah kontrakan itu pun aman terkendali, walaupun alasan baru yang muncul malah akan membuat masalah baru bagi keduanya.
"Kamu mennagis?" tanya Baihaqi pelan kepada Rara.
Kedua matanya sudah basah, sejak tadi batinnya ikut berperang sendiri. Rasanya sakit sekali, di hujat, di hina, di bully, di fitnah dengan hal-hal yang tidak benar.
Rara menunduk dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal yang di peluknya itu.
"Hei, Jangan menangis. Masalahmu sudah selesai. Lebih baik kamu pindah kontrakan. Ada aku yang selalu ada buat kamu, Ra," ucap Baihaqi pelan berusaha menenangkan batin Rara yang kembali terguncang atas gosip dan nyinyiran tetangga.
__ADS_1
"Kenapa tidak pernah selesai masalah ini. mau sampai kapan, malah aku menyusahkan kamu,mas," ucap Rara pelan.
"Aku tidak merasa kamu susahkan? Aku malah senang kamu libatkan dalam hal ini dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kamu, Ra," ucap Baihaqi pelan dengan penuh ketulusan.
"Aku haus pindah kemana? Aku ingin pulang juga ke kampung. Ya Tuhan, kenapa begitu berat cobaan ini," lirih Rara dengan wajah sendunya.
"Kamu fokus dengan kepulanganmu dulu. Malam ini aku antar kamu untuk pulang ke kampung," ucap Baihaqi pelan dan memebreskan piring-piring bekas sarapan tadi dan membiarkan Rara merebahkan tubuhnya yang mungkin perlu istirahat.
"Aku lelah Mas. Aku tidak bisa berpikir jernih," ucap Rara lirih, mencoba memejamkan kedua matanya. Perutnya terasa sangat sakit dan keram.
"Istirahatlah Ra. Aku akan menemanimu. tapi kalau tidak mau ditemani, aku akan pergi," ucap Baihaqi pelan. Kini Baihaqi ikut membantu merapikan pakaian Rara ke dalam koper besar itu.
"Tidak apa-apa. Maaf kalau aku itirahat. Perutku keram, Mas," lirih Rara.
"Perutmu sakit, kita ke rumah sakit. Aku takut tejadi apa-apa dengan kandunganmu," ucap Baihaqi yang ikut panik saat Rara mengatakan perutnya keram.
"Istirahat saja Mas. Tidak perlu k rumah sakit. Mungkin aku terlalu memikirkan masalah tadi hingga berefek pada kandunganku," ucap Rara pelan.
Baihaqi mengangguk pelan. Tubuh Rara ditutupi selimut, dan Baihaqi mulai membantu membereskan semua barang-barang Rara.
Menurut Baihaqi. Tempat ini sudah tidak nyama untuk Rara. Lebih baik Rara, tinggal di kompleks atau di apartemen. Lebih baik lagi jika mau tinggal di Ponpes. Mungkin akan banyak kegiatan positif yang bisa membantu Rara melupakan semua masalah yang sedang dihadapinya.
Rara yang sudah memejamkan kedua matanya pun tidak bisa tidur. Telinganya tajam mendengar suara pelan Baihaqi yang sedang membereskan barang-brang Rara.
Rara sudah tidak peduli, moodnya benar-benar sedang tidak baik sejak kejadian tadi.
__ADS_1
Satu hari ini, Baihaqi benar-benar menemani Rara. Akhirnya Rara pun tertidur pulas dan sedkit mendengkur halus karena lelah.
Ibu hamil memang seperti itu, dia akan mendengkur saat tertidur pulas karena ada tekanan bayi yang ada di dalam perutnya.