MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
15


__ADS_3

Pagi ini, kondisi Rara sudah lebih baik lagi. Nanti siang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang memeriksanya tadi pagi.


Wajah Rara sudah tidak pucat lagi. Tubuhnya juga sudah tidak selemas tadi. Sejak pembicaraanya tadi malam dengan Baihaqi, Rara sebenarnya tidak bisa memejamkan kedua mtanya lagi untuk beristirahat. Kata-kata Baihaqi begitu terngiang-ngiang di kepala Rara.


Sekelebat memang ada kebahagiaan tersendiri bagi Rara. Dirinya bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dan perhatian pada dirinya.


"Kamu mau sarapan apa Ra? Itu obat harus diminum sebelum jam tujuh pagi," ucap Baihaqi pelan mengingatkan.


Pagi ini wajah Baihaqi nampak bersinar, seperti ada pancaran cahaya di seluruh wajah Baihaqi.


"Rara mau bubur ayam pake emping dan sate telur," ucap Rara dengan nada sedikit manja.


Entah karena sudah terbiasa atau Baihaqi sudah dianggap seseorang yang spesial.


"Cuma itu, apa ada yang lain? Biar sekalian keluar?" tanya Baihaqi pelan dan lembut. Bagi Baihaqi ini kesempatan langka untuknya. Kapan lagi Baihaqi bisa dekat dengan Rara seperti ini. Mungkin setelah ini pun, mereka berdua akan saling mengenal melalui komunikasi dunia maya.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Itu saja sepertinya," ucap Rara pelan sambil berpikir apa lagi yang diinginkan dirinya pagi ini.


"Yakin? Susu? Roti? Gorengan? Sosis? Nuget?" ucap Baihaqi menaynyakan kembali sambil menyebutkan beberapa makanan yang sempat di baca di menu saat malm membeli mie rebus di Kantin.


"Hemm... Rara tambah sosis bakar dengan kecap, saos dan mayonise sepuluh biji, nugget goreng dengan saos mayonise saja sepuluh biji, tahu isi dengan irisan cabe rawit speuluh biji. Ingat jumlahnya jangan kurang dan jangan lebih, kalau tidak dapat, berarti Mas Baihaqi yang harus menghabiskan semuanya. Sama susu kedelai hangat ya. Ingat hangat, bukan panas atau dingin," ucap Rara meminta permintaan yang tidak biasa.


Baihaqi hanya mengangguk pelan dan berusaha mengingat kembali semua pesanan ibu hamil yang kadang tidak wajar.


"Iya, paham. Aku pergi dulu untuk membeli pesananmu, Ra," ucap baihaqi pelan dan tersenyum.


Kedua kakinya melangkah ke arah pintu kleuar ruang rawat inap. Dengan lantang Rara berteriak.


"Good luck, semoga pesanannya benar semua. Kalau ada yang salah, siap-siap habiskan semua makanan yang kamu beli. Ini permintaan si jabang bayi," ucap Rara setengah berteriak.


Baihaqi cukup jelas mendengar. Baihaqi tersenyum lebar. Dirinya pun bahagia sekali, seolah kehadirannya bisa di terima baik oleh Rara. Baihaqi menoleh ke arah Rara dan melambaikan satu tangannya kepada Rara yang ikut tersenyum geli.

__ADS_1


"Jaga dirimu selama aku pergi," ucap Baihaqi sambil terkekeh dan menutup kembali pintu keluar itu.


Rara tersenyum sendiri. Ini memang benar-benar aneh. 'Aku merasa Mas Baihaqi seperti sudah lama kenal, tidak ada rasa canggung sejak semalam. Walaupun awalnya aku canggung dan sedikit gugup bila menatap dan berbicara dengannya. Tapi kini kita berdua seperti kakak dan adik yang tidak bisa dipisahkan,' batin Rara di dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.


Rara merebahkan tubuhnya lagi di ranjang rawat inap itu. Ingat betul semalam, Mas Baihaqi hanya terlelap sebentar dan tidak lama menengok kembali ke arah Rara, untik memastikan keadaan Rara.


Tidak lama Baihaqi nampak ke kamar mandi, sepertinya sedang berwudhu dan melaksanakan sholat malam dengan begitu khusyuk.


Lamunannya begitu terbang jauh saat malam tadi hingga Rara terkejut dengan suara bariton yang memanggil namanya.


"Ra ..." panggil Baihaqi pelan.


Tidak ada respon, bahkan tidak ada pergerakkan sama sekali dari Rara. Padahal kedua matanya terbuka dan menatap lurus ke arah depan.


"Ra ..." panggil Baihaqi sekali lagi sambil meletakkan satu kantung plastik pesanan Rara.


Rara tidak bergeming sedikitpun. Dia hanya terdiam tanpa berkedip.


Baihaqi menoleh ke arah Rara yang terdiam. Mencoba mengibaskan satu tangannya di depan wajah Rara.


"Mas sudah datang sejak tadi, Ra. Memangnya kamu tidak melihat?" tanya Baihaqi pelan lalu mengambil kotak makanan berisi bubur ayam lengkap dengan emping dan sate telur persis sama dengan pesanan Rara yang sedang mengidam.


"Tapi aku tidak melihatmu, Mas? Kamu lewat mana?" tanya Rara dengan polosnya.


"Kamu mau tahu, aku lewat mana?" tanya Baihaqi pelan.


Rara mengangguk pelan.


Baihaqi menyodorkan kotak makanan itu kepada Rara.


"Iya aku mau tahu?" ucap Rara pelan.


"Aku suapin ya?" tanya Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Lewat mana tadi? Jawab dulu?" ucap Rara kesal seperti dipermainkan.


"Lewat hatimu. Makanya kamu tidak bisa melihat," ucap Baihaqi pelan sambil menyodorkan satu sendok bubur ke arah mulut Rara.


Wajah Rara cemberut karena kesal. Bibirnya mengatup rapat, tidak mau menerima suapan itu.


"Makan. Gak kasihan sama anakmu? Dia lapar, menunggu Ibunya makan, agar dia mendapatkan sari makanan yang bergizi untuk pertumbuhannya. Jangan egois," ucap Baihaqi pelan menasehati.


Baihaqi sudah berpengalaman tentu saja akan paham dengan hal-hal sekecil ini. Memperhatikan wanita kesayangannya itu adalah prioritas bagi dirinya.


Rara mengalah dan menerima suapan itu lalu mengunyah lembut hingga supan kedua pun berlanjut.


"Assalamualaikum ..." teriak Dyah dengan suara keras saat membuka pintu kamar rawat inap itu hingga mengejutkan Rara dan Baihaqi yang sedang berbincang.


"Waalaikumsalam, Dy. Hendra mana?" tanya Baihaqi saat melihatDyah masuk ke dalam smbil membawa kantung plastik.


"Lagi parkir mobil. Kayaknya aku telat bawa sarapan ni. Terus, kayaknya aku sudah tidak dibutuhkan lagi disini?" ucap Dyah berpura-pura kesal.


"Apa sih Dy. Aku harus minum obat sebelum jam tujuh pagi. jadi harus makan dari sekarang. Aku pikir kamu tidak akan datang dan masih menemani Cantika," ucap Rara pelan menjelaskan.


"Alhamdulillah Cantika sudah sembuh. Hari ini aku mau urus surat resign kamu, Ra. Sudah bulat? Atau mau berubah pikiran?" tanya Dyah kepada Rara untuk memikirkan kembali keputusan yang di buatnya.


"Sudah bulat keputusanku Dy. Setelah ini aku akan kembali ke kampung. Tapi aku takut. Takut aku dan anakku tidak bisa diterim di keluarga, takut dianggap pembawa sial karena aib ini," ucap Rara lirih.


"Jangan takut. Belum dicoba kan?" ucap Dyah menenangkan Rara.


"Tapi setidaknya aku harus siap jika kedu orang tuaku mengusirku. Aku harus tinggal dimana, untuk mencari ketenangan," ucap Rara pelan menjelaskan keluh kesahnya.


"Tinggal saja di Bogor. Aku akan membantumu, Ra," ucap Baihaqi menyela.


Rara menatap Baihaqi lekat, lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin berusaha sendiri. Tanpa ada campur tangan orang lain," ucap Rara dengan tegas.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membantumu saja. Tidak ada harapan dan maksud lain," ucap Baihaqi pelan menejlaskan.Baihaqi paham dengan kekhawatiran Rara. Rara tidak ingin berhutang budi yang nantinya malah memberatkan hidupnya dalam membuat pilihan


__ADS_2