MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
29


__ADS_3

"Terima kasih ya, Dy. Kamu memang sahabat terbaik. Aku gak tahu lagi, jika tidak ada kamu, aku akan seperti apa?" ucap Rara pelan.


"Sama-sama, Ra. Kamu jadi pulang kampung kan?" tanya Dyah pelan.


"Jadi, Dy, di antar sama Mas Baihaqi. Sebenarnya aku cukup keberatan. Aku takut ada hal-hal yang tidak diinginkan," lirih Rara.


Kedua sahabat itu sudah berada di teras rumah bambu.


"Dyah? Hendra tidak ikut?" tanya Baihaqi saat melihat Dyah dan Rara sudah berjalan berdampingan menuju rumah bambu.


Dyah menoleh ke arah baihaqi yang keluar drai dalam rumah bambu itu. Dyah cukup kaget dengan suara bariton itu tiba-tiba bertanya kepadanya.


"Eh, Mas Baihaqi ... Mas Hendra dalam perjalanan sedang menyusul kemari," ucap Dyah pelan menjawab pertanyaan Baihaqi.


"Masuklah Dy, anggap saja rumahmu sendiri. kamu sudah makan? Emak Warti sedang memasak untuk kita<" ucap Baihaqi pelan menjelaskan.


Dyah hanya bisa mengangguk pasrah.


"Kamu satu rumah dengan Mas Baihaqi? Klaian satu atap?" tanya Dyah menatap lekat ke arah Rara yang berada di sampingnya setngah berbisik.


"Jaga bicaramu, Dyah. Jangan membut Mas Baihaqi tersinggung, apalagi itu fitnah," jawab Rara menjelaskan.


"Maafkan aku, Ra," ucap Dyah singkat.


Rara sudag berjalan lebih dulu berada di depan Dyah untuk masuk ke dalam rumah bambu.


"Ra ... Ini ponselmu sejak tadi berbunyi. Dari Rumah sepertinya, angkatlah mungkin ada yang penting," ucap Baihaqi sambil memeberikan ponsel Rara yang sengaja di tinggalkan di meja makan sejak selesai berkomunikasi dengan Dyah hampir setengah jam yang lalu, sebelum menjemput Dyah di depan jalan besar.


Rara menerima ponsel dari Baihaqi dan menatap layar ponsel itu. Lebih dari sepuluh panggilan tidak terjawab. Ada perasaan tidak nyaman di dalam hati Rara, jantungnya pun berdegub dengan sangat kencang.


"Kenapa? Wajahmu teba-tiba berubah dan terlihat pucat? Apa perutmu keram lagi?" tanya Baihaqi pelan kepada Rara. Baihaqi melihat gelagat aneh dari Rara.


Rara hanya mneggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Ra? Kamu tidak apa-apa kan? Mama atau Bapak? Mungkin ada hal penting, coba telepon balik," ucap Dyah pelan.


Dyah pernah satu kali ikut Rara pulang ke kampungnya. Saat itu mereka mengambil jatah cuti di akhir tahun dan berlibur selama tiga hari. Dyah cukup mengenal keluarga Rara dengan sangat baik. Kedua orang tua Rara sangatlah baik, begitu juga keluarga besarnya.


"Aku takut Dy," lirih Rara sambil meremas ponselnya. Wajah Rara terlihat sedikit pucat.


"Ayok duduk dulu. Jangan panik," ucap Dyah sedikit menenangkan Rara.


Rara menurut dan duduk di sofa ruang tamu. Baihaqi dan Dyah pun ikut duduk disana memperhatikan Rara yang terus memandangi ponselnya. Entah ada kabar berita yang membuat waniya hamil itu terlihat seperti tertekan dan ada ketakuan tersendiri.


"Cerita Ra? Ada apa?" ucap Baihaqi lembut menatap lekat wajah Rara.


"Kita pulang sekarang saja, bisa Mas Baihaqi? Ada hal yang harus aku selesaikan saat ini juga," ucap Rara pelan dan berusaha menutupi apa yang sedang terjadi.


Baihaqi yang nampak terkejut berusaha menanggapinya dengan santai.


"Mau berangkat sekarang? Aku sip kapan saja," ucap Baihaqi menanggapi Rara.


"Cantas datang ke rumah dan mengembalikan cincin pertunangan kita kepada orang tuaku tanpa memebrikan alasan," ucap Rara pelan.


Pesan singkat yang berisi tentang kabar terbaru Cantas yang dengan percaya dirinya datang menemui kedua orang tua Rara dan mengembalikan cincin pertunangan. Cantas hanya berucap kata maaf tidak bisa melanjutkan hubungan ini ke arah yang lebih serius tanpa memberikan alasan yang jelas.


"Lalu?! Mama tidak bertanya kenapa?" tanya Dyah yang sedikit kepo.


"Entahlah Dy. Aku hanya tidak ingin kedua orang tuaku berpikir berat tentang masalah ini hingga membebani merea," jawab Rara pela.


"Kalau kedua orang tuamu bijak, mereka akan memberikan solusi terbaik. Bukan malah menyudutkanmu," ucap Baihaqi pelan menyimpulkan.


Rara mengangguk pelan.


"Bagaimana perasaamu sekarang, Ra?" tanya Dyah pelan.


"Perasaan apa?" tanya Rara pelan menatap Dyah.

__ADS_1


"Perasaanmu kepada Cantas? Apakah kamu masih berharap atau sakit hati?" tanya Dyah dengan ragu. Dyah takut menyinggung persaan Rara, apalagi wanita hamil itu akan lebih sensitif pada setiap pertanyaan yang berhubungan dengan masalahnnya.


Rara menggelengkan kepalanya dengan mantap lalu tersenyum simpul.


"Aku sudah ikhlas. Tidak sedikit pun aku sakit hati atau maih berharap pada buaya profesional itu. Satu yang aku hadapi saat ini. perasaan orang tuaku jika melihat perutku yang sudah membuncit ini," ucap Rara dengan sangat lirih.


Ada perasaan sesak di hati Rara, perasaan takut mengecewakan dan perasaan takut menyakiti hingga berujung penyesalan.


"Bibirmu bisa berucap ikhlas, tapi hatimu tidak, Ra," ucap Baihaqi ikut menjawab. Tatapannya tidak lepas pada Rara sejak tadi.


Wanita hamil itu memang berusaha untuk tidak menampakkan kegelisahannya, ketakutannya yang sebenarnya muncul di wajahnya.


Rara menatap lekat ke arah Baihaqi.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Aku sudah ikhlas dan aku sudah lupa dengan Cantas. Bukankah sesuatu yang buruk tidak perlu kita ingat lagi," ucap Rara dengan sinis.


"Aku hanya bicara dari tatapan kedua matamu. Aku bukan seorang dukun ataupun indigi yang bisa membaca pikiran dan permasalahan seseorang. tapi aku hanya melihat sinar matamu yang redup, tidah cerah, seperti ada kemelut, ada kabut gelap menutupi hatimu sebenarnya," ucap baihaqi pelan menjelaskan.


"Sudah. Kita mau pulang kampung? Aku mau ikut," ucap Dyah lantang.


"Cantika? Kamu mau meninggalkan Cantika?" tanya Rara pelan smbil menggelengkan kepalanya.


Rara tidak mau masalahnya malah membuat Dyah juga mengabaikan keluarganya sendiri.


"Ada pengasuh, Ra. Aku hanya ingin memastikan kamu sampai disana baik-baik sja. Lalu, kondisimu saat ini bisa di terima baik oleh kleuargamu tanpa ada permasalahn baru yang muncul," ucap Dyah dengan bijak.


"Aku setuju dengan usul Dyah. Kami smeua ada untuk membantumu bukan rasa kasiha atau menghina. Ini semua karena kita peduli dan ingin segera permasalahnmu itu selesai tanpa menimbulkan masalah baru, Ra," ucap Baihaqi ikut menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Aku baik-baik saja kok. Keluargaku juga pasti baik-baik saja. Selama ini, aku menjadi tulang punggung di keluarga, masa iya, sekarang aku ada masalah mereka akan meninggalkanku tanpa memegang tanganku untuk meberikan bantuan secara spritual," ucap Rara pelan sambil terkekeh.


"Semoga saja benar, Ra. Aku hanya antisipasi saja. Banyak kejadian sama yang aku baca di beberapa majalah, kasusnya sama seperti kamu, Ra. Tapi apa, keluarganya tidak menganggapnya ada dan ia di usir dari rumah keluarganya," ucap Dyah pelan.


Tatapan Rara semakin tajam ke arah Dyah. Hatinya berdesir, ada ketakutan tersendiri. Bila kejadian itu pun juga akan sama terjadi pada dirinya.

__ADS_1


"Aku siap. Apapun resikonya. Aku akan menanggung semuanya," ucap Rara lantang.


Tenggorokannya mengering, lidahnya tercekat saat bicara hal yang belum bisa di prediksi dengan baik. Rara juga belum bisa meraba-raba, bagaimana sikap kedua orang tuanya nanti.


__ADS_2