MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
INGIN BICARA SESUATU


__ADS_3

Anetha berlari ke arah Panji dan memegang erat lelaki itu agar tidak pergi.


"Mas Panji!!" teriak Anetha yang terus berjalan mengikuti Panji yang tak peduli dengan Anetha.


Rey sebenarnya tampak kasihan pada Anetha. Gadis secantik itu benar -benar di abaikan dan tak sama sekali di lirik oleh Panji.


"Sudah Mbak Anetha. Mas Panji sedang tak ingin bicara," ucap Rey pelan.


Anetha menatap tajam dengan wajah tak suka kepada Rey. Anetha selalu berpikir, kalau Panji itu sering di racuni pikirannya olh Rey. Lelaki tampan itu sekarang berubah drastis. Dulu begitu baik, lembut dan bucin. Panji sering mengalah demi Anetha, tapi beebrapa bulan terakhir ini lelaki itu berubah, ketus, cuek, dingin, galak dan kasar secara ucapan.


"Diam kamu, Rey!! Jangan ikut campur," ucap Anetha galak.


Rey hanya menarik napas dalam. Lebih baik ia diam dan memang tak bicara. Dari pada di marahi oleh nenek lampir.


Pintu lift terbuka, Rey dan Panji sudah masuk ke dalam. Anetha sengaja berdiri di antara pitu dan masih memegang erat lengan Panji.


"Lepas? Atau Masuk? Atau pergi? Atau mau ku dorong?" tanya Panji dengan mimik wajah yang sudah kesal.


"Kau ini kenapa Mas? Tiba -tiba berubah seperti ini?" tanay Anetha memelankan suaranya.


"Aku sedang tidak ingin berdebat. lakukanlah apa yang menurut kamu baik. Aku ingin istirahat," ucap Panjiketus.


Dengan kasar Panji melepaskan paksa tangan Anetha yang sejak tadi memegang erat lengannya. Pelan ia mendorong Anetha hingga terdorong mundur dan pintu lift itu tertutup dengan cepat.


Baru juga Rey membuka mulutnya dan sepertinya akan menanyakan sesuatu yang menurutnya sedikit penting karena penasaran.


"Tutup mulutmu. Tak usah kau tanyakan sekarang. Antar aku ke apartemen. Aku rindu Maura," cicitnya sendu.


Rey hanya pasrah dan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Majikannya sekaligus sahabatnya ini benar -benar sedang bucin pada Maura.


Sesuai perintah Panji, Rey tak berani menjawab dan berkomentar. Ia cukup mendengarkan apa yang di ucapkan Panji barusan.


Di dalam mobil, Rey fokus menyetir dan Panji dengan tenang memejamkan kedua matanya dnegan jok mobil yang di rendahkan agar tubuhnya disa rebahan meluruskan urat -urat yang tegang tadi.


Panji memakai kaca mata hitam. Kedua matanya sebenarnya tak terpejam tapi ia sedang mencari solusi. Pikirannya tertuju pada perusahaannya yang memang sedang di ambang kehancuran gara- gara Brian.


Tiba -tiba Panji terduduk dan memajukan jok mobilnya seolah mendapatkan sebuah ide yang brilian.


"Rey ...." panggil Panji pelan sambil menatap ke arah depan. Kaca mata hitamnya ia naikka di sangkutkan di kepalanya.


Rey tetap diam. Ia masih kokoh tidak menjawab karena permintaan Panji tadi.


"Hei ... Minta di pecat kamu? Berani tak menjawab panggilan aku?" tanya Panji dnegan suara keras.


Rey melirik ke arah Panji dengan bingung.


"Bukankah tadi di suruh diam. Kenapa malah di salahkan?" jawab Rey spontan.


"Dasar bodoh. Sepertinya aku harsu mengganti asisten," ucap Panji sambil membuang tatapannya ke arah samping.

__ADS_1


"Eitss ... Jangan begitu dong, Nji. Kamu gak akan dapatin asisten se -baik aku," ucap Rey dengan bangga.


"Masa? Kalau boleh milih. Punya Maura sudah cukup bagiku, tanpa harus membuang uang memiliki kamu," ucap Panji ketus.


"Maura itu adikku. Kalau kau menyakiti dia, kau akan berhadapan dengan aku," tegas Rey mengingatkan.


Ucapannya memang terdengar bercanda tapi kali ini Rey sangat serius.


"Huftt ... Mau duel dneganku?" tantang Panji kepada Rey.


"Gak. Kecuali kau menyakiti dia. Aku tak mau kita bermasalah, tapi seharusnya kamu bisa mengambil sikap. Adikku itu perempuan jangan kau jadikan pelampiasan," ucap Rey tegas.


"Bodoh!! Kalau aku jadikan pelampiasan saja, aku tidak akan pulang setiap malam ke apartemen. Anetha juga perempuan, tapi aku tak suka. Aku lebih pilih Maura, terlebih dia selalu memberikan pelayanan yang sangat bk sekali," ucap PAnji sambil menggigit bibirnya. Ia selalu teringat senyum Maura, saat berkuda seperti tadi pagi.


Rey hanya tersenyum kecut.


"Terserah. Searang apa yang ingin kau lakukan Nji. Kau sudah mengundurkan diri dari perusahaan," tanya Rey pelan.


"Aku belum kepikiran apa -apa," jawab Panji pelan.


"Buka usaha?" tanya Rey pelan menyarankan.


"Usaha apa? Uang tabunganku tidak banyak Rey," ucap Panji pelan.


Keduanya terdiam. Mereka sama -sama sedang berpikir mencari solusi untuk bertahan hidup. Belum lagi mereka sedang mencari cara untuk mengumpulkan semua bukti kelicikan Brian.


Mobil Rey sudah masuk ke dalam bangunan apartemen dan parkir di salah satu sudut halaman. Panji sudah turun terlebih dahulu dan di ikuti oleh di belakangnya sambil menegunci mobil itu dengan remote.


"Kau turun juga?" tanay Panji dengan alis yang salong tertaut.


Rey menatap lekat dan mengangguk kecil.


"Apa aku salah? Ikut denagnmu?" tanya Rey ragu.


"Salah. Aku ingin bercinta dengan Maura agar pusing ku hilang," ucap Panji jujur.


"Apa? kau gila? Ini siang bolong. Aku butuh makan siang," ucap Rey tak kalah kesal.


"Makan siangku harus memakan Maura, baru menikmati maskaannya," ucap Panji menjelaskan.


"Bedebah!! aku inginikut. Terserah kau ingin apa!! Kau pikir aku tidak tahu tadi pagi kau juga memintajatah pada Maura lan? Ka ini benar -benar tidak wars," ucap Rey menutup pintu lift menuju lantai kamar Panji.


Panji melotot ke arah Rey.


"Kau mendengarnya?" tanya Panji kesal.


"Kau yang tak matikan ponselnya. AKu dengar semuanya," ucap rey lirih. Panji tidak tahu, saat itu Rey pun menahan hasratnya yang tiba -tiba muncul di benakknya. Maklum laki -laki normal aka mudah terangsang hanya dengan mendengar.


"Brengsek kau Rey. Harusnya kau matikan," ucap Panji emosi.

__ADS_1


Rey hanya tertawa. Lucu juga majikannya jika sedang malu.


"Tak perlu malu," ucap Rey lirih. Ia tahu Panji sedang merasa tak enak pada Rey.


"Cih ...." ucap Panji berdecih.


Panji keluar dari lift dan Rey berjalan di belakangnya. Panji membuka kamar apartemennya dengan kunci duplikat.


Pintu kamar itu terbuka lebar dan beberapa makanan sudah siap di meja makan untuk makan siang. Maura langsung melirik ke arah pintu dan melihat Panji yang tersenyum manis pada Maura.


Status hubungannya kini mungkin bukan sekadar majikan dan pelayannya. Bisa jadi wanita simpanan atau kekasih gelap?


"Mas Panji ...." ucap Maura sambil berlari kecil dan mengecup pipi panji dnegan lembut.


"Ra?" panggil Rey yang muncul dari arah depan dan sontak membuat Maura mendelik kaget dan menjadi keki. Ia malu telah bemanis -manis pada Panji dan di ketahui oleh orang lain, walaupun dengan kakak kandungnya sendiri.


"Ada Rey, sayang," jawab panji tersenyum dan mencium pipi Maura dengan gemas.


"Kok gak bilang kalau ada Kak Rey? Maura kan malu," cicit Maura sendu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus yang sudah matang.


Panji mengacak rambut Maura dengan lembut dan penuh kash sayang.


"Biarkan saja, Sayang. Anggap saj tak terlihat," ucap Panji pelan lalu mengecup bibir mungil Maura dengan lembut.


maura hanya tersenyum kecut dan di paksakan. Tetap sja rasanya malu sekali.


"Hei ... Itu masakan kamu, bisa gosong," titah Panji pelan.


"Ah iya ..." teriak MAura panik. Ia bergegas berlari ke dapur dan mengangkat tahu pocong yang sedikit kecoklatan.


Panji dan Rey masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kamar itu lalu mereka duduk di meja makan. Perut mereka sudah sangat lapar sekali, dan kebetulan sudah ada makanan.


"Ayo makan duluan. Maura lagi buah es buah sebentar," ucap Maura pelan dan menuangkan beberapa potongan buah yang sudah di siapkan. Menambahkan sirup, susu dan es batu.


Kedua lelaki itu saling diam dan fokus pada pilihan makanannya masing -masing.


"Kenapa suasananya jadi hening. Ada apa?" tanya Maura pelan sambil meletakkan tiga es buah di atas meja.


"Tidak apa -apa, Ra. Nanti Lia ku bawa kesini. Tolong ajarkan dia masak, biar aku juga setiap hari bisa makan makanan sehat dan enak seperti ini. Aku iri sama kamu, Nji," ucap Rey pelan.


Bahasa tubuh Panji dan Maura memang berbeda. Mereka berdua nampak saling tulus mencintai dan menyayangi. Hanya saja masih ada pembatas di antara mereka. Maura yang juga sedikit hati -hati dan mungkin tak berharap banyak karena perbedaan kasta, sedangkan Panji yang sudah sangat ingin memiliki Maura, tapi statusnya kini telah menjadi suami orang dan belum bercerai walaupun sudah menalak Anetha.


"Bawalah. Ekhemmm ... Boleh Maura bicara. Mungkin bukan waktu yang tepat tapi Maura mau melakukan ini," ucap Maura pelan menatap Panji dan emmegang tangan kiri lelakiitu.


Panji menguyah makanannya dan membalas genggaman tangan Maura dnegan senyum manisnya.


"Apa sayang? Kamu ingin bicara apa? Aku dengarkan." ucap Panji pelan.


Kedua mata Maura nampak sedang bimbang untuk meluapkan semua keinginan yang ada di hatinya.

__ADS_1


"Maura mau buka warung makan kecil -kecilan. Menurut kalian bagaimana?" tanya Maura dengan senyum tetahan. Ia tahu pasti ini tidak akan di perbolehkan.


Panji tersedak, begitu juga dengan Rey yang kaget dan keduanya saling berpandangan.


__ADS_2