MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
TAK ADA KABAR


__ADS_3

Beberapa hari ini, Maura nampak murung. Ia sama sekali tak mnedapatkan kabar Panji. Rey pun bungkam dengan masalah ini. Tak ada satu pun orang yang membuka mulut perihal Panji.


"Ra ... Kamu sehat? Kamu terlihat pucat beberapa hari ini?" tanya Rey pelan. Akhir - akhir ini, Maura terlihat mudah lelah dan capek. Padahal ia hanya bertugas mencicipi dan memberikan resep finishing sebelum sajian di berikan kepada pelanggannya.


Maura menileh ke arah Rey yang mengajaknya bicara.


"Maura sehat kok. Lagi malas aja," jawab Maura santai.


Maura sengaja meninggalkan Rey yang tak bertanya lagi. Hawanya sedang malas da inginnya tiduran saja di kasur.


Rey pun kembali ke ruangannya di lantai dua. Ia mencri tahu keberadaan Panji yang sudah di pastikan kembali ke rumah orang tuanya.


Rey hanya ingin tahu alasan Panji yang pergi begitu saja tanpa berpamitan atau memberikan kabar. udah lebih dari satu bulan ini, Panji sama sekali tak memberikan kabar apa -apa. Terpaksa Rey mencari tahu dari beberapa temannyaa yang bekerja di perusahaan Papa Panji.


Maura berulang kali bolak balik ke kamar mandi. Tubuhnya mulai lemas seolah dehidrasi akut. Sesekali kepalanya pening dan berputar dan pandangannya pun menggelap hingga Maura pun terjatuh di lantai dapur.

__ADS_1


"Ra ... Maura ...." panggil Raka kepada Maura yanag sudah tergeletak dan terkulai lemas di lantai.


Dengan cepat Raka pun membawa Maura ke ruangan yang sering di pakai untuk menyimpan barang -barang pribadi karyawannya.


Rey yang mendapat kabara dari Lia bhawa Maura terjatuh dan tak sadarkan diri pun langsung datang ke ruangan sempit itu.


Di sana Maura sudah di rebahkan dengan alas seadangan dan tas sebagai bantalan kepala gadis cantik itu.


"Panggil dokter saja," ucap Rey panik.


"Hanya kelelahan. Itu wajar, Lia. Kenapa harus takut. Maurakan memang sibuk dan fokus di Cafe Jra, tentu ia lelah, dia hanya butuh istirahat beberapa hari untuk memulihkan tenagannya," ucap Rey santai.


"Bukan itu maksud aku, Rey. Beberapa hari ini, Maura sering ke kamar mandi dan sering muntah -muntah. Bahkan dia sudah tak mampu mencium masakan yang menyengat karena mual. Kamu paham kan, apa yang aku maksud Rey?" tanya Lia tajam menatap Rey.


Rey pun membalas tatapan tajam Lia. Ia mulai berpikir logis dan realistis.

__ADS_1


"Mak - maksud kamu? Maura hamil?" ucap Rey seidkit ragu.


Lia mengangguk kecil mengiyakan ucapan Rey.


"Bisa saja kan? Secara Maura dan Panji selalu bersama. Kalau Maura hamil itu adalah buah cinta mereka," ucap Lia tanpa menyudutkan.


"Cih ... Panji tuh saat ini lagi gak bisa di hubungi. Entah bagaimana caranya menghubungi Panji. Ponselnya mati tital, sepertinya ia ganti nomor," ucap Rey lirih.


Rey duduk di samping Maura yang terlihat pucat.


"Rey, kita bawa Mauara ke rumah sakit sekarang. Kasihan," titah Lia dengan cepat.


Rey pun mengangguk pasrah dan menggendong Maura ke mobilnya lalu membawa Maura ke rumah sakit.


Raka sejak tadi ada di sana. Memang tidak ikut dalam pembicaraan Lia dan Rey. Namun, telinganya cukup tajam mendengarkan semua rahasia besar Maura.

__ADS_1


"Jadi selama ini, Maura dan Pak Panji itu memiliki hubungan? Pantas saja, saat Maura aku dekati, Pak Panji begitu terlihat marah dan raut wajahnya berubah sangat sinis," ucapnya lirih.


__ADS_2