MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
APA? HAMIL


__ADS_3

Malam itu hujan deras mengguyur tubuhku yang sudah terasa mendingin. Aku tak tahu harus berlari kemana lagi untuk melepaskan kekasih yang sudah dua tahun ini aku pacari.


Aku berlari sekuat tenaga, dengan serai air mata yang tak henti. Sekilas aku melihat Pandu terus mengejarku sambil berteriak memanggil -manggil namaku.


"Dira ... Nadira Azam, berhenti kataku," teriak Pandu yang terus ikut mengejar Nadira.


Kepalaku sakit, pandanganku berkunang -kunang dan aku tak bisa melihat lagi.


Tanganku bergerak pelan. Kedua mataku pun membuka perlahan. Seberkas sinar masuk ke dalam retina mataku. Aku tidak buta. Aku masih bisa melihat.


"Dira ...." panggil Pandu pelan sambil menggenggam tanganku.


Ya, suara lembut itu. Dia Pandu, kekasihku. Sudah tiga tahun aku menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Tapi, aku baru tahu, ia sudah memiliki anak dan istri tepat di mana aku meminta kepastian tentang hubungan yang sedang kita jalani.


Pandu mengakui semuanya. Ia sudah menikah dan memiliki tiga orang anak.


Kedua mataku terbuka perlahan. Semua yang ku lihat berwarna putih. Pandanganku mengedar ke seluruh ruangan. Aku sendiri tidak tahu dimana aku berada.


"Dira ...." namaku di panggil dengan lembut. Suara itu adalah suara yang sering aku dengar setiap hari. Suara yang selalu membuatku nyaman.


Tatapanku beralih ke arah asal suara. Pandu, ia masih setia menemaniku sambil menggenggam erat tanganku.


"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Pandu lirih.


Wajahnya jelas nampak gelisah dan khawatir.


"Sadar? Memang aku pingsan?" tanyaku pelan.

__ADS_1


"Ya. Sudah tiga jam kamu tak sadarkan diri," jawab Pandu pelan.


Akuhanya terdiam. Mengingat kembali kejadian tadi. Aku kecewa, aku sakit hati dnegan kejujuran Pandu.


"Dira ... Maafkan Mas," ucap Pandu lirih. Kedua sorot matanya terlihat sangat sedih dan penuh penyesalan.


Aku memilih memejamkan kedua mataku. Rasa sakitnya kembali lagi mengisi relung hati yang paling dalam. Sesak sekali rasanya.


Tiga tahun masa penantian dan menggantungkan harapan pada pria yang aku cinta. Tapi berujung masalah besar.


"Mas tetap mau berjuang untuk hubungan ini. Mas sudah terlanjur sayang dan cinta sama kamu. Tapi ...." ucapan Pandu terhenti. Sulit sekali rasanya mengatakan hal yang memang tidak ingin ia ungkapkan saat ini. Pandu hanya takut Nadira pergi meninggalkannya.


Nadira membuka matanya dan menatap tajam ke arah pandu yang tak menyelesaikan kalimatnya hingga membuatnya penasaran.


"Ada tapinya? Tapi apa? Mas juga mencintai Meka? Istri Mas? Wanita hebat yang mAs nikahi belasan tahun lalu dan sudah memberikan tiga anak kepada Mas. Wajar kan? Lebih baik Mas kembali pada istri Mas dan anak -anak Mas. Aku baik -baik saja kok. Jadi jangan pedulikan aku lagi," ucap Nadira ketus dengan nada sedikit lantang.


Suaranya jelas bergetar dan sedang menahan isak tangisnya yang lagi -lagi melukai hatinya.


"Mas mencintaimu Nadira. Apa kau berpikir mas hanya bermain -main denganmu? Kalau Mas hanya bermain - main, mungkin Mas tidak akan se -sakit ini melihat kamu menangis Nadira. Kalau Mas tidak ingin serius dengan kamu, mungkin Mas tidak mau meluangkan waktu Mas untuk pertemuan kita, obrolan kita, dan semuanya tntang kita dan apa yang telah kita lewati bersama," ucappandu pelan menjelaskan.


Pandu hanya ingin Nadira tahu dan yakin, bahwa ia benar dan tulus mencintainya. Cintanya sama besar untuk Nadira dan untuk istrinya, Meka.


Nadira tertawa dalam tangis. Tawanya terdengar kaku dan mengejek.


"Laki -laki itu mudah mengungkap kata sayang, kata cinta. Beribu kata manis akan ia lontarkan pada wanitanya jika lelaki itu mash penasaran dan belum mendapatkan wanitanya. Aku tidak menyesal telah mengenalmu, menghabiskan waktu bersama kamu, Mas. Tapi, aku menyesal jika hubungan ini terus di lanjutkan. Aku sudah tahu hubungan ini terlarang dan salah. Aku korban Mas!! Kamu itu jahat!! Jahat banget," ucap Nadira kesal. Amarahnya memuncak dan tak bisa di bendung lagi.


Hari ini adalah hari terburuk bagi Nadira. Rencananya hari ini nadira ingin membuat surprise untuk Pandu, karena ia berulang tahun hari ini. Tapi, bukan surprise yang ia berikan pada Pandu. Namun, kejadiannya malah sebaliknya.

__ADS_1


"Mbak Dira?" panggil seorang wanita dengan senyum kecut.


Nadira menatap wanita yang ada di depannya. Ya, dia adalah istri Pandu yang bernama Meka.


"Bun ... Kenapa ke sini?" tanya Pandu pelan. Ia tahu persis apa yang akan di lakukan Meka, istrinya terhadap Nadira.


"Bunda hanya ingin memastikan kalian ingin bersama atau kalian ingin berpisah. Kalau kalian ingin bersama, maka saat ini juga Bunda minta talak dari kamu, Mas. Tapi, jika memang kalian mengakhiri hubungan kalian, Bunda masih mau memaafkan kamu Mas," ucap Meka dengan suara lantang.


"Mbak Meka. Maaf. Dira yang akan pergi. Hubungan ini salah. Kalau saja, aku tahu, Mas Pandu sudah berkeluarga sejak awal. Aku pasti mundur," jawab Nadira dengan tegas. Kedua matanya memang berkaca -kaca. Ia tidak tahan menahan dadanya yang esak dan tidak bisa menyembunyikan air matanya.


"Huft ... Saya sudah tidak bisa mempercayai kalian berdua lagi. Kamu tidak pernah mengenal siapa suami saya. Kalau kalian ingin bersama, biar Mas Pandu segera menalak saya," ucap Meka dengan suara tegas dan lantang.


Meka berusaha kuat tapi sejatinya ia juga rapuh melihat perselingkuhan suaminya di depan matanya sendiri.


"Tidak Mbak Meka. Saya yang pergi, saya sadar diri. Semua salah saya," ucap Dira melemah.


"Mudah bilang mau pergi, nanti bersama lagi. Kamu juga Mas Pandu, ingat anakmu di rumah itu tiga. Jangan mencari kekurangan istri dengan mencari perempuan lain," ucap Meka kesal.


"Kamu salah paham Bun. Sejak awal, Mas dan Nadira ingin serius, bukan hanya bucinan tanpa arah. Jujur, Mas gak bisa memilih kalian. Karena kalian berdua bukan pilihan, tapi kalian berdua Mas pilih untuk bersama menjadi satu keluarga yang utuh," ucap Pandu menegaskan.


"Apa maksudmu Mas?" tanya Meka tak mengerti.


"Mas minta ijin untuk menikahi Nadira dan menjadikan Nadira yang kedua," ucap Pandu tegas.


Suara itu tetu membuat kedua wanita itu memberikan respon yang berbeda. Meka melotot, napasnya memburu kesal menahan amarah.


Nadira hanya menatap Pandu dengan tak percaya. Semudah itu lelaki yang ia cintai ingin menikahinya. Tak pernah terbesit dalam pikiran Nadira untuk menjadi yang kedua. Sama sekali tidak.

__ADS_1


"Kau gila Mas?" teriak Meka tak terima. Meka pergi dari ruangan itu dan memukul dada Pandu dengan keras. Meka kesal dan benci pada sikap suaminya.


Selama ini, ia memang memiliki salah pada suaminya. Tapi, bukan ini cara membalas Meka. Ternyata sakit mengetahui di duakan itu.


__ADS_2