
Satu menit, dua menit, suara Panji menghilang. Namun dekapannya masih sangat erat dan terasa sulit untuk di lepaskan.
Tubuh maura mulai terasa pegal dan tak nyaman di posisi seperti ini. Degup jantungnya juga tidak sedang baik -baik saja. Detakannya makin lama makin kencang. Belum lagi aliran darahnya terus naik ke atas hingga terasa di ubun -ubun.
Tiba -tiba ... Panji pun memutar tubuhnya ke arah samping dan Maura pun ikut terbalik ikut ke arah sampina dan satu kaki Panji pun memeluk tubuh Mauraseperti guling yang nyaman untuk di dekap.
Suhu tubuh lelaki itu masih sangat panas. Bibirnya terdengar sangat bergetar.
"Tuan ... Tuan Panji," panggil maura lembut.
Maura mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah wajah Panji yang memerah. Panji seperti orang yang tak sadarkan diir.
Perlahan, Maura menyibakkan kaki Panji dan turun dari ranjang. Maura membernarkan tidur Panji dan mengompres ulang dahi lelaki itu dengan kain handuk.
Maura setia duduk di pinggir ranjang dan terus memegang tangan Panji untuk mengetahui kondisi Panji. Bukan hanya suhu tubuhnya tapi juga denyut nadinya.
Sesekali memang lelaki itu masih saja mengigau dengan keras sekali. Entah apa yang di ucapkan Panji, sama sekali tak bisa di mengerti oleh Maura.
Ponsel Panji berdering dengan sangat nyaring. Nama Rey terpampang di layar ponsel itu. Maura bingung, mau di angkat takut di kira ngelunjak, tapi kalau tidak di angkat, ia butuh bantuan untuk Panji.
"Halloo ... kak Rey. Tuan Panji sakit, badannya panas sekali," ucap Maura dengan cepat saat emngangkat ponsel itu.
"Maura? Tapi bagaimana keadaannya? Perlu ku panggilkan dokter?" tanya Rey yang ikut panik juga.
"Dokter?" ucap Maura lirih.
Seketika, Panji melambaikan tangannya dan mengeglengkan kepalanya dengan cepat.
"Tuan Panji? Anda sudah sadar?" senyum Maura langsung terbit. Ia benar -benar di buat pusing tujuh keliling tadi saat Panji sakit.
"Haloo ... Halooo Maura?" panggil Rey dengan suara keras. Maura lupa ia sedang menelepon dengan Rey, Kakaknya.
Ponsel itu di letakkan begitu saja di nakas dekat ranjang Pnaji tanpa di matikan. Maura memegang Panji dan mengusap pelan tangan Panji.
__ADS_1
"Kau cemas?" tanya Panji menatap Maura yang menitikkan air matanya karena sedih.
Maura hanya mengangguk pasrah. Karena memang itu yang ia rasakan tadi. Pikirannya kacar, jantungnya lari -lari gak jelas.
"Apa yang kau cemaskan?" tanya panji pelan. Senyumnya terlihat jika Panji sennag di cemaskan oleh Maura.
"Aku takut tuan meninggal? Secara tuan masih muda dan tampan, sepertinya akan sangat di sayangkan sekali kalau tuan meninggal begitu cepat," cicit Maura dengan wajah sendu.
Sontak ucapan Maura itu membuat Panji tertawa geli. Bisa -bisanya Maura berpikir tuannya akan mati konyol.
"Kalau aku mati? Lalu kau akan bersama siapa?" tanya Panji tersenyum.
"Bersama siapa? Maksudnya?" tanya Maura tak paham.
"Ingat baik -baik. Kau sekarang milikku Maura dan akan selamanya menjadi milikku. Dan aku tidak akan bisa menerima, jika kau di sentuh oleh pria lain, termasuk Rey, Kakak kamu," tita Panji tegas.
"Hah? Itu aturan dari mana tuan?" tanya Maura bingung.
"STOP panggil aku tuan. Panggil aku yang lebih manusiawi sedikit," pinta Panji pelan sambil mengecup punggung tangan Maura dengan sangat mesra.
Enah ia harus senag atau guling -guling di depan Panji mendengar permintaan Panji.
"Panggil aku dengan sebutan sayang. Biar tambah mesra," ucap Panji pelan.
Kedua mata Maura memutar. Ia tak percaya dengan permintaan Panji.
Panji pun menarik tangan maura hingga tubuh Maura tertarik lagi ke atas tubuhnya yang masih panas. Bibir keduanya saling menempel tak sengaja. Maura melotot, tapi kedua tangan Panji berhasl mendekap erat tubuh itu.
"Tuan?" panggil Maura lirih.
"Sayang? Coba?" ucap PAnji membenarkan.
Maura terdiam. Ia belum bisa menyebut kata -kata itu.
__ADS_1
"Sayang ... Maura mau pipis," ucap Maur beralasan.
"Hemmm ... Mau pipis?' tanya Panji menggoda.
"Ya, pipis," jawab Maura ragu.
"Kau ingin aku sembuh sayang? AGar kau tak cemas lagi? Dan tidak akan mengira aku mati konyol hanya dnegan gara -gara suhu tubuhku memanas?" tanya Panji pelan.
"Hah ... Mau. Maura harus beli obat apa, Sayang?" ucapan Maura terbata dan gugup sekali.
"Aku hanya butuh kamu, sayang. Obatnya hanya ada di kamu," ucap Panji pelan sambil menampilkan senyum termanisnya.
"Maura?" tanya Maura lirih.
Tanpa basa basi dan jawaban yang lebih harus di perjelas. Panji pun membalikkan tubuh Maura. Dan posisi mereka berganti. Panji di atas dan Maura di bawah kungkungan tubuh kekar itu.
Dengan sangat rakus Panji pun mulai mencium Maura, mleumat bibir mungil gadis itu hingga lidahnya pn ikut bermain di dalam mulut Maura.
Tangan Maura erat di pegang oleh Panji dan Panji bebas bergerilya di sekitar wajah dan leher Maura.
Tidak hanya *******, teriakan kecil yang manja, tapi juga decitan dari tautan bibir dan lidah membuat seseorang yang iku mendengarkan dari sambungan telepon dari ponsel Panji pun mengumpat kesal.
Bisa -bisanya Panji melakukan hal itu di saat ia sedang sakit. Se -bucin apa, Panji pada Maura, sampai tak mau melepaskan Maura yang hanya seorang wanita malam.
"Aku ingin kamu menikmatinya seperti amlam itu. Tubuhmu yang seksi membuatku tak bisa tidur nyenyak hingga kini. Aku hanya ingin kamu, ingin tubhmu, dan satu hal lagi, aku akan bersamu tanpa harus emninggalkanmu. Asal kau tak pernah membuatku kecewa, kau tak pernah berbohong padku, dan kau tak membuatku sakit hati," tegas Panji. Ucapan itu membuat Maura meenlan dalam air liuranya. Suara itu jelas mengancam dan mengintimidasi tetapi untuk hal kebaikan bukan untuk saling menyakiti.
Panji memegang bibir Maura dengan jari -jarinya. Kepalanya muali di tenggelamkan ke arah dada Maura hingga membuat gadis itu bergelinjang hebat karena kegelian.
Entah kapan pakaian Maura sudah terlepas begitu saja dari tubuhnya. Atau saking ia menikmati hingga tak sadar tubuhnya sudah polos dan siap bermain biliard bersama.
Tubuh keduanya sudah berkeringat. Keintiman sudah menjadi candu bagi keduanya. Napas Maura juga memburu kala stik biliar itu mulai di ayunkan dan mulai di sodokkan dan mengenai sasarannya dengan tepat.
"Mau lebih cepat? Atau mau lebih almabat?" tanya Panji pelan. Tapi, Panji sendiri sudah tak tahan dengan permainan panas ini. Semuanya sudah harus di seelsaiakn dulu, baru nanti di lanjutkan kembali.
__ADS_1
"Argh ...." suara itu sangat enak di dengar di telinga. ******* bercampur kepuasan dan kenikmatan semua menjadi satu rasa. Tapi ... permainan ini tak berhenti di sini. Ronde kedua, ketiga, dan selanjutnya masih menunggu pertempuran yang lebih dahsyat lagi.