
Sesuai janji Rara tadi kepada Putri. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Rara pun duduk di sofa ruang tengah. Putri sudah menunggu dengan membawa buku PR dan alat tulisnya.
"Tante Rara, susunya tidak diminum?" tanya Putri pelan saat melihat gelas kaca berisi susu putih yang masih utuh dan belum tersentuh sedikit pun.
"Nanti saja. Kamu mau diajari PR pelajaran apa?" tanya Rara pelan.
"Matematika," jawab Putri singkat.
"Oh Matematika, sini, Tante Rara lihat soalnya boleh?" tanya Rara pelan.
"Ini," ucap Putri sambil memberikan buku paketnya yang berisi soal-soal matematika.
Rara mulai membaca dan membantu dengan suara lembut menjelaskan kepada Putri. Satu jam berlalu, tidak terasa semua PR Putri pun bisa diselesaikan dengan sangat baik.
Kedua anak laki-laki Baihaqi yang lain, sudah beradadi kamar. Fatih sedang bermain sedangkan Fathur sedang marah dan kesal karena tidak bisa mengerjakan PR yang di berikan oleh Ibu Gurunya.
"Sudah selesai. Sekarang sudah malam, sudah hampir jam sembilan malam. Tidur biar besok tidak bangun kesiangan," ucap Rara dengan lembut sambil membantu Putri membereskan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas sekolahnya.
"Tante Rara antar ke kamar yuk. Sekalian lihat kamar kita," ucap Putri plan. Putri sudah mulai bisa menerima kehadiran Rara dengan baik, walaupun Rara tidak memiliki hubungan khusus dengan Abinya. Menurut Putri, Rara lebih baik dibandingkan Ratna, wanita muda yang selama ini menjadi guru les mereka.
"Boleh. Kamarnya dimana?" tanya Rara pelan.
"Ada di lantai dua," jawab Putri pelan. Putri sudah berdiri dan membawa tas sekolahnya.
"Beneran Tante tidak apa-apa ke kamar kalian? Nanti kalau Abi marah bagaimana?" tanya Rara pelan kepada Putri yang menunggu Rara berdiri dan mengantarkannya ke lantai dua.
"Tidak apa-apa. Fatih akan terus menangis kalau tidak bisa tidur," ucap Putri pelan memberitahu.
"Oh, begitu. Lalu biasanya yang membantu menemani tidur, siapa?" tanya Rara lagi.
__ADS_1
"Emak. Cuma Emak yang kami punya," jawab Putri pelan. Tersirat dalam wajah Putri yang rindu kepada Uminya dan kaasaih sayang seorang Umi kepada dirinya.
"Emak Warti?" tanya Rara dengan tatapan lekat.
"Iya, Emak Warti," jawab Putri lebih menekankan.
"Iya Non Rara. Saya yang biasa menemani mereka hingga tertidur. Mungkin hari ini Putri ingin di temani oleh Non Rara. Itu juga alau Non Rara tidak keberatan," ucap Emak Warti pelan menanyakan kesediaan Rara.
"Tidak apa-apa. Saya akan menemani mereka. Tapi, nanti antarkan aku pulang ke rumah bambu," ucap Rara menitah.
"Siap Non Rara," ucap Emak Warti.
Rara berjalan mengikuti Putri ke lantai dua menuju kamar tidur ketiga anak Baihaqi. Putri membuka pintu kmaar tidur, masih terlihat Fatih yang sedang asyik bermain mobil-mobilan, dan Fathur nampak tertidur di kursi beljar dengan kepala yang diletakkan di meja belajar.
"Kalian tidur di masing-masing tempat tidur itu?" tanya Rara yang takjub melihat kamar yang begitu luas dengan tiga tempat tidur untuk masing-masing anak Baihaqi.
"Itu Fathur sudah tertidur?" ucap Rara pelan sambil menghampiri Fathur yang berada di kursi belajarnya.
Rara menatap lekat buku-buku yang berserakan di meja belajar itu. Ada sebuah buku terbuka dengan satu kata tulisan BENCI!! Entah tulisn itu di tujukan kepada siapa? Tapi Rara merasa kata-kata itu tertuju kepadanya.
Rara cukup peka untuk hal se-sensitif ini. Banyak suatu hubungan selesai karena anak-anak tidak bisa menerima teman baru kedua orang tuanya.
"Tante Rara, mau temani Putri dan Fatih tidur kan?" tanya Putri dengan suara sedikit manja.
"Oh, Iya, mari tidur. Fatih sayang, yuk kita bereskan dan kita tidur sekarang, mainnya kita lanjutkan besok lagi ya," ucap Rara dengan lembut. Rara membantu Fatih membereskan bberapa mainan mobil-mobilannya ke atas rak untuk menyimpan beberapa mainan koleksi Fatih. Lalu, menggendong batita itu ke dalam pelukannya dan merebahkannya di tempat tidur yang sangat empuk. Satu selimut bergambar senada dengan tempat tidurnya pun sudah terbentang di tubuh Ftaih menutupi tubuhnya hingga ke bagian dada.
Fatih begitu menurut dan mulai memejamkan kedua matanya saat Rara menepuk-nepuk paha batita itu dengan pelan. satu tangganya lagi mengusap rambut serta kepala Fatih dengan sangat lembut.
"Tante Rara, temani Putri disini.," panggil Putri yang mulai nyaman denagn Rara.
__ADS_1
Rara tersenyum dan menatap lalu mencium keninga Fatih yang sudah tertidur pulas. Fathur masih di temapt yang sama, Rara harus menunggu Baihaqi datang untuk memindahkan posisi Fathur.
"Ada apa?' tanya Rara pelan lalu duduk di tepi ranjang menatap Putri yang sudah berbaring di tempat tidurnya.
"Apa benar, Tante Rara akan menjadi Umi baru bagi kami bertiga. Soalnya guru kami pernah bilang. Jika salah satu orang tua kita meniggal, maka Abi atau Umi berhak mencari pengganti atau mencari Abi dan Umi yang baru," ucap Putri pelan mengikuti ucapan gurunya di sekolah.
"Menurut Putri? Tante Rara sudah pantas belum menjadi Umi kalian?' goda Rara kepada Putri.
Melihat kebahagiaan anak-anak itu membuat hati Rara enggan untuk berkata tidak atau menolak Baihaqi.
"Tante Rara cantik sekali. Kenapa Tante Rara tidak menggunakan jilbab seperti Umi kami yang sudah berada di surga?" tanya Putri dnegan penasaran.
Rara hanya tersenyum. Rara sendiri bingn harus menjawab apa.
"Putri, kamu sekarang istirahat. Tante Rara akan menemani kalian," ucap Rara pelan dan mengecup kening Putri.
Lampu kamar tidur anak-anak sudah padam dan itu tandanya ketiga anaknya sudah tertidur atau akan tidur.
Rara kembali ke meja belajar Fathur. Mengambil beberapa buku yang tertindih oleh kepalanya. Satu per satu buku dibuka dan di baca oleh Rara. Banyak tulisan dan coretan serta gambar yang mengisyaratkan sebuah kesedihan dan kepiluan.
Sesekali Rara membaca tulisan Fathur dan menatap Fathur yang sedang mencari jati dirinya dan kurang kasih sayang dari Abi dan Uminya.
Satu tulisan dengan gambar sebuah keluarga kecil. Ada Abi, ada Umi, ada Putri, ada Fathur dan ada Fatih. Persisi sebuah potret keluarga, namun wajah orang-orang yang ada di dalam gambar tampak sedih dan tidak hidup.
'Sepertinya memang Fathur membutuhkan sosok Ibu yang sayang dan begitu perhatian kepada dirinya. Aku akan mencoba menjadi seorang teman sekaligus Kakak bagi Fathur,' batin Rara di dalam hatinya.
Rara mencoba membantu mengisi soal-soal yang ada di buku PR Fathur. Minimal membantu Fathur, agar tetap mengerjakan PRnya dan tidak dimarahi oleh Ibu Gurunya.
"Ra?!" panggil Baihaqi pelan setengah berbisik saat membuka pintu kamar tidur anaknya.
__ADS_1