
Panji langsung memeluk tubuh Maura yang masih takjub di goda tadi. Panji mengecupi bibir Maura beberapa kali hingga basah.
"Kenapa? Kaget ya? Tahu gak, aku baru tahu kalau jengkol itu rasnya enak banget, malah tadi aku pikir itu daging, dan gak bau sama sekali. Kayaknya permintaan kamu kemarin bakal aku wujudkan deh. Tapi ...." ucapan Panji terhenti.
Mendengar akan di wujudkan permintaan Maura kemarin, senyum Maura pun terbit.
"Tapi apa?" tanya Maura lirih.
"Aku juga punya permintaan untukmu," ucap Panji pelan.
"Apa itu?" tanyamaura pelan.
"Kau yakin akan mewujudkannya seperti aku mewujudkan keinginan kamu, Maura?" tanya Panji pelan sambi memegang dagu Maura lembut.
Tatapan Panji selalu penuh damba ke arah Maura. Panji seperti tidak pernah puas menikmati Maura. Padahal mereka sudah tinggal satu rumah, selalu bersama setiap waktu dan tidak pernah berpisah dalam waktu lama, kecuali saat Panji menikah kemarin.
"Kau sebutkan saja dulu, sayang. Kalau aku bisa mewujudkannya aku pasti akan mewujudkannya," ucap Maura pelan.
"Jangan pernah tinggalkan aku, walau aku sudah tak berdaya dan tak emmiliki apa -apa," ucap Panji pelan dan mengecup pipi Maura pelan.
"Iya sayang. Maura pasti akan menemani kamu dalam suka dan duka," ucap Maura pelan.
"Jangan pernah mau di dekati lelaki lain dan hanya aku yang boleh mendekati kamu. Aku akan marah besra padamu, Maura," ucap Panji mengecup pipi Maura di sisi yang lain.
__ADS_1
Maura pun tersenyum lalu tertawa renyah sekali.
"Kau pikir Maura wanita seperti apa? Wanita yang suka keluyuran? Wanita yang butuh kasih sayang? Atau bagaimana?" tanya Maura pelan.
"Kau tahu? Hatiku sudah pasrah dan mentok hanya kepada dirimu. Aku tak tahu lagi, kemana harus mencari tukang masak se -pintar dirimu?" tawa Panji langsung menggelegar.
"Hah? Apa? Maura hanya di anggap tukang masak?" tanya Maura kesal. Bibirnya mengeucut.
"Monyong di gigit juga nih?" ucap Panji tertawa.
"Hemmm ...." Maura berdehem.
Pandangan Maura berpindah pada koran yang ada di meja makan. Tatapannya penuh tanya dan menatap kearah Panji.
"Cuma baca -baca saja," jawab panji terdengar lemas.
"Terus? Ini udah jam tujuh. Mas Panji gak berangkat ke kantor?" tanya Maura pelan.
"Hari ini aku akan libur dan mewujudkan semua keinginan kamu, Maura sayang," ucap Panji pelan.
Maura beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil kartu hitam milik Panji.
"Ini kartu milik kamu, Mas. Dan ini struk belanja kemarin," ucap Maura pelan.
__ADS_1
Panji menerima itu semua. Ia juga sedang membutuhkn isi uang dalam kartu itu untuk membuka usaha barunya.
"Ceritanya lagi laporan nih?" goda Panji pelan.
"Ya dong. Maura kan hanya pekerja di sini," ucap Maura pelan.
Reflek Panji pun menutup bibir Maura deegan tangannya.
"Jangan pernah bicara begitu. Aku mencintai kamu, Maura. Mungkin kmearin -kemarin aku memang menganggap kamu pelayan, tapi makin kita bersamasetiap hari. Aku ingin hubungan ini terus berjalan dengan adanya kejelasan." tegas Panji dengan suara lantang.
"Kejelasan? Arti cincin itu apa?" tanya Maura menunjuk pada cincin yang di pakai oleh Panji, tapi cincin itu sudah tidak ada.
"Cincin? Mana?" tanya Panji sambil menunjukkan jari -jarinya yang masih polos semua. Dalam hati Panji tertawa, untung saja cincin pernikahannya kemarin sudah di kembalikan, kalau tidak Maura akan bertanya terus -menerus.
"Kemarin sepertinya pakai cincin? Kenapa sekarang tidak?" tanya Maura sambil memegang jari -jari Panji pelan.
"Kau salah lihat sayang. aku tak pernah pakai cincin," ucap panji pelan.
"Ah ... Pakai kok," ucap Maura yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Sudah. Kita mandi. Kita cari tempat. Sebentar lagi Rey akan datang bersama Lina. Kamu mau restaurant itu di buka di mana?" tanya Panji pelan.
Senyum maura terbit dnegan manisnya.
__ADS_1
"Kamu serius, Sayang?" tanya maura pelan.