
Moment yang paling di tunggu adalah hari ini. Hari pembukaan Cafe Jira dam pengguntingan pita sebagai tanda peresmian Cafe tersebut.
Maura sudah rapi dengan pakaian seragam pun sudah siap berada di depan ruko Cafe tersebut. Panji sendiri sejak pagi sibuk bertelepon entah dengan siapa.
Lia dan Rey masi sibuk memberika briefing kepada karyawan baru. Mereka ada Doni, Raka, Dewi dan Mala. Mereka sudah paham dengan tugasnya masing -masing.
Maura duduk di kursi besi yang di jadikan sebagai kursi tunggu yang ada di depan Cafe Jira. Seperti biasa jika Maura panik dan sedang cemas, ia akan mengunyah cokelat yang selalu ada di dalam tasnya sebagai persediaan.
"Hei ... Kamu kenapa?" tanya Raka pelan menatap Maura.
Hubungan Maura dan Panji memang tidak di publikasikan atas kemauan Maura sendiri. Alasannya mereka harus profesional dengan pekerjaannya sehingga hasilnya bisa totalitas.
Maura mendongakkan kepalanya sambil menggigit cokelat yang ada di tangannya.
"Kau bicara padaku?" tanya Maura pelan.
"Aku di depan kamu. Tentu aku bicara padamu," ucap Raka pelan.
"Namamu Maura. Kamu yang dulu sempat memenangkan kompetisi membuat kue unryk pernikahan terbaik dengan lima tingkat? Tema princes?" tanya Raka dengan percaya diri.
Keduanya satu angkatan hanya berbeda sekolah dan selalu di ajukan sekolah untuk mengikuti kompetisi yang sering di adakan di setiap tiga bulan sekali.
Maura hanya mengangguk kecil. Ia sedang malas di ajak bicara oleh orang lain apalagi Panji ada di seberang. Kalau melihat Maura berinteraksi dengan lelaki lain tentu Panji akan marah besar.
"Ekhemm ... Kau juga chef di sini? Tentu kau adalah wanita beruntung di rekomendasikan oleh Pak Panji. Beliau itu terkenal sekali di kota ini," ucap Raka antusias dan jujur.
Maura melotot. Maura yang selalu bersama Panji pun malah tidak tahu kalau Panji se -terkenal itu. Maura hanya tahu, setiap pergi dengan Panji selalu ada yang menyapanya dengan rasa hormat.
"Bukan urusanku." Maura begitu ketus dan melanjutkan menikmati cokelatnya.
Raka semakin mendekat dan kini malah duduk di samping Maura.
Panji dari seberang jalan mulai tidak fokus berbicara melalui telepon dengan rekannya. Kedua matanya terus mengekor Maura yang nampak biasa saja di dekati oleh lelaki lain
Tangannya mulai mengepal erat dan emosinya tak tertahankan.
__ADS_1
"Kita lanjutkan nanti. Acaranya sudah mau di mulai. Bilang pada Papah, Panji akan buktikan," tegas Panji dengan suara lantang dan menutup teleponnya sepihak.
Langkah kakinya begitu lebar dan berlari menuju Maura duduk sambil menikmaàti cokelatnya.
"Maura?" suara keras Panji tidak lagi membuat Maura kaget. Maura hanya menoleh dan mengangguk kecil.
Maura hanya memberikan kode keras agar Panji tak lupa dengan komitmennya untuk bersikap biasa saja di depan orang banyak.
"Maura!!" panggil panji dengan suara lebih keras dan lebih tegas lagi.
Suara itu terdengar menyentak dan harus di turuti. Perintah tuan besar tidak boleh di abaikan, bukan?
"Itu kamu di panggil sama Bos," ucap Raka pelan sambil melirik ke arah Panji yang juga menatap tajam ke arah Raka.
"Biarkan saja. Kerja saja belum mulai sudah panggil -panggil," ucap Maura santai. Telinganya di biarkan mendengar tapi pura -pura tak peduli. Maura malah asyik menikmati cokelat batangan itu hingga akhirnya habis.
Dengan garang dan kesal. Panji pun menghampiri Maura. Karena Maura telah mengabaikannya.
"Kau sengaja tuli? Sengaja ingin membuatku setiap hari berteriak keras?" tegas Panji dengan suara terus menyentak galak.
Maura menatap Panji. Pagi ini Maura tidak mau berdebat. Kecemburuan Panji terlalu berlebihan. Sikap Panji terlalu posesif kepada Maura. Apapun sudah di berikan oleh Maura termasuk jatah shubuh dan jatah pagi bahkan sebelum berangkat ke ruko pun sempat -sempatnya Panji meminta jatah kembali di sofa.
"Nanti gunting pita bersamaki," ucap Panji tegas.
Maura hanya mengangguk kecil. Panji pun pergi lagi dari hadapan Maura. Kali ini ia berdiri di dekat Rey dan Lia. Lia sudah membawa satu nampan berisi gunting untuk menggunting pita di waktu yang telah di sepakati.
"Kau berani dengan Bos? Atau sudah kenal sebelumnya?" tanya Raka merasa aneh.
"Kenal di restauran dulu. Bukannya dia orang kaya dan bangak memiliki usaha?" pancing Maura pelan.
"Oh begitu. Kamu tinggal dimana?" tanya Raka pelan.
"Gak jauh dari sini." jawab Maura pelan.
Maura mulai malas dengan pertanyaan yang sudah mulai mengarah pada pertanyaan seputar pribadinya.
__ADS_1
"Maura mau kesana dulu." pamit Maura langsung pergi begitu saja meninggalkan Raka.
Maura mulai tak nyaman. Panji sejak tadi menatap tajam ke arahnya. Bisa -bisa Panji murka dan marah besar dan membuat suasana jadi tak nyaman.
"Kak Rey. Di mulai saja sekarang. Lihat sudah banyak orang," ucap maura memberikan saran.
"Gimana Nji? Mau kita buka sekarang acaranya?" tanya Rey meminta keputusan pada Panji.
"Sudah malas sebenernya," jawab Panji ketus.
Maura menatap Panji.
"Kita harus profesional, Sayang. Kamu harus siap dengan keadaan yang setiap hari akan seperti ini," jelas Maura lembut.
"Tapi tidak dengan berdekatan seperti tadi. Panas rasanya. Sesek tahu!!" ucap Panji kasar.
"Ya sudah kalau gak mau buka. Gak usah lanjutkan usaha ini," tegas Maura kesal.
"Maura!!" panggil Rey dengan cepat saat melihat Maura bergegas pergi dari tempat itu.
Rey berusaha menarik tangan Maura untuk tetap diam dan tak kemana -mana.
"Maura. Sudahlah kamu mengalah saja. Kamu tahu, Panji cemburuan da tak ingin kamu di dekati dengan siapa pun. Termasuk aku? Kamu tahu kita kakak beradik kandung, ia juga tega memukul aku kalau rasa cemburunya sudah di ubun -ubun," ucap Rey mencoba membuat Maura luluh.
"Maura capek di giniin terus Kak. Sedangkan Mas Panji itu sudah punya istri. Maura mau lepas, mau punya hidup normal, punya teman banyak," ucap Maura mulai measakan tak nyaman dam hubungannya denga Panji.
"Maafkan Kakak. Kakak tidak bisa membantumu kalau masalah ini. Kakak hanya bisa ngasih penjelasan jujur. Panji itu sangat mencintai kamu. Anetha memang istrinya. Mereka di jodohkan. Dulu Panji sangat mencintai Anetha, sampai akhirnya Anetha dan Brian, sahabatnya terlibat skandal mesum," jelas Rey pelan.
"Brian?" ucap Maura pelan. Ia ingat dengan nama Brian. Nama yang di baca Maura di atas kantong baju kemeja. Name tag itu jelas Brian. Lelaki itu ....
"Hei ... Kenapa kamu, Ra? Kok malah melamun?" panggil Rey lembut sambil mengibaskan tangannya di depan mata Maura.
"Ah ... Gak apa -apa, Kak. Cuma gak asing aja denger nama Brian," ucap Maura pelan.
"Brian? Bukankah dia yang membayarmu?" tanya Rey memastikan.
__ADS_1
"maura tidak thau masalah itu. Itu kan Ayah Tito yang melakukannya. Maura hanya di suruh datang ke kamar itu," jawab Maura lirih.
Maura mersa takdirnya menjadi tak baik. Walaupun Panji adalah orang baik. tapi cara pertemuannya tidak bisa di luakan Maura seumur hidup.