
"Selamat Malam ... Permisi," ucap Rara dari arah luar rumah utama Baihaqi.
"Saya buka pintu dulu ya," ucap Emak Warti pelan.
Emak Warti berjalan menuju arah depan dan membuka pintu. Sosok Rara yang cantik sudah berdiri dengan anggun menampilkan senyum manis hingga giginya yang putih terlihat rapi.
"Emak Warti?" sapa Rara pelan.
"Masuk Non Rara," ucap Emak Warti dengan lembut.
"Terima kasih," jawab Rara pelan.
Rara pun masuk ke dalam rumah utama itu dan mauk menuju ruang tengah sesuai arahan Emak Warti. Ketiga anak Baihaqi masih duduk di sofa deagn kepala menunduk.
Rara menatap sekilas ke arah ketiga anak itu dan tersenyum menyapa.
"Hai, Aku Rara, nama kalian siapa?" tanya Rara pelan lalu mengampiri ketiga anak Baihaqi.
Ketiga anak Baihaqi pun mendongakkan keplanyasecara bersamaan dan menatap ke arah sosok makhluk cantik dan anggun seperti bidadari.
Fathur berbisik ke arah Putri sambil menatap Rara dengan penasaran.
"Ada apa berbisik? Tidak ada yang mau memperkenalkan diri?" tanya Rara pelan sambilm tersenyum ramah.
"Rara!! Dengan siapa kamu kesini?" tanya Baihaqi dengan suara agak keras sambil menatap lekat ke arah Rara yang terlihat cantik mempesona.
Baihaqi ke luar dari arah ruang makan menuju ruang tengah. Hatinya berdebar mendengar suara Rara yang terdengar semakin mendekat menyapa ketiga anaknya.
"Mas Bai. Aku berjalan sendiri. Ini ketiga anakmu, mereka cantik dan tampan," ucap Rara dengan suara pelan.
"Iya mereka anakku, Putri, Fathur dan Fatih," ucap Baihaqi pelan memperkenalkan ketiga anaknya sambil menghampiri anak-anaknya untuk memberikan salam kepada Rara.
"Wanita ini siapa Abi? Wajahnya cantik seperti bidadari," ucap Putri pelan tertuju kepada Abinya yang juga menghampiri ketia anaknya.
"Namanya Rara, panggil Tante Rara. Berikan salam kepadanya, ayo Putri, Fathur, Fatih," titah Baihaqi kepada ketiga anaknya.
__ADS_1
Ketiga anak itu langsung bangkit berdiri dan menghampiri Rara. Mereka menyalami Rara dengan mencium punggung tangan kanan Rara dengan hormat seperti yang diajarkan Abinya.
"Apakah Tante Rara akan menjadi Umi baru kita," celetuk Fatih, ana bungsu Baihaqi dengan wajah polos menatap Rara.
Baihaqi terkekeh saat mendengar ucapan jujur dan polos Fatih.
"Fatih ingin punya Umi?" tanya Baihaqi pelan bertanya kepada anak bungsunya itu.
Fatih mengangguk dengan polosnya. Sejak kecil, Fatih tidak merasakaan kasih sayang seorang Ibu. Fatih hanya diasuh oleh Abinya atau Emak Warti yang bekerja di rumah itu.
"Fathur tidak mau Umi baru. Seorang Umi itu harus memakai jilbab, dan Tante Rara malah rambut indahnya tergerai. Memang sedang iklan shampo," ucapan nyinyir Fathur membuat Rara sesak di bagian dadanya.
Putri berjalan menghampiri Rara dan memegang perut Rara yang membuncit.
"Kenapa perut ini besar dan keras? Sama seperti perut Umi saat Fatih ada di dalamnya. Apakah di perut ini juga ada boneka hidup, yang nantinya akan ada anak seperti Fatih?" tanya Putri yang penasaran dan bingung.
Rara hanya berusaha tersenyum tanpa menjawab satu pun pertanyaan polos ketiga anak Baihaqi.
"Sudah. Jangan banyak bertanya. Tante Rara ini teman Abi. Tante Rara, Abi undng untuk makan malam bersama. Mari kita langsung ke ruang makan, setelah ini kalian mengerjakan PR kalian," ucap Baihaqi pelan.
Semua menurut dan berjalan menuju ruang makan. Semua duduk di kursinya masing-maasing, dan Rara duduk tepat berhadapan dengan Baihaqi.
"Seafood?" tanya Rara dengan wajah berbinar bahagia. Rara penyuka makanan seafood. Semua jenis seafood Rara sangat suka.
"Bukankah kamu suka seafood?" tanya Baihaqi dengan keragun. Melihat binar di wajah Rara, Baihaqi yakin Rara sangat menyukainya.
"Aku memang suka. Bahkan suka banget. Tapi, Mas tahu darimana aku suka seafood. Setahu aku, Mas tidak pernah tanya makanan kesukaanku," tanya Rara pelan menatap lekat Baihaqi dengan senyum merekah.
Mood Rara seketika menjadi bak, terkejut dengan masakan seafood yang sengaja dibuat untuk dirinya. Hampir semua makanan yang ada di meja itu, adalah seafood dengan bumbu favoritnya.
Lihat saja, ada cumi goreng tepung, udang saos padang, kepiting saos tiram, cah kangkung, lobster goreng mentega dan ikan gurame bakar kecap. Semua endolita dan terlihat nikmat.
"Tidak susah untuk mencari tahu tentang dirimu Ra. Kesukanmu, ketidaksukaan kamu, semua aku tahu," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.
Rara semakin tajam menatap Baihaqi.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Mas? Tidak susah mencari tahu tentang aku? Apa lagi yang kamu ketahui tentang aku?" tanya Rara dengan penasaran.
"Waktunya makan, Ra. Kasihan anak-anak sudah menunggu. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan ini," ucap Baihaqi pelan.
Rara hanya bisa mengangguk pasrah dengan permintaan baik Baihaqi.
Malam itu, semua diam. Tak ada satu pun anak-anak Baihaqi yang bicara saat makan. Semua menikmati makanan yang sudah disediakan tanpa berkomentar sedikitpun.
"Nambah Ra. Masih banyak," ucap Baihaqi pelan menasehati.
"Iya, Mas. Ini Emak Warti yang memasak semua masakan seafood? Rasanya luar biasa mirip restoran bintang lima," ucap Rara yang sungguh tulus memuji masakan Emak Warti.
"Iya, ini semua Emak Warti yang memasak. Beliau dulu koki di salah satu restoran berbintang lima di Jakarta," ucap Baihaqi menjelaskan.
"Aap itu restoran berbintang lima? Apakah ada bintangnya di atas genteng?" tanya Fatih pelan kepada Abinya. Mulutnya masih penuh dengan nasi dan udang yang dikunyah secara bersamaan.
Baihaqi menoleh ke arah Fatih yang duduk di sebelahnya dan tersenyum.
"Apa pesan Abi? Makan dulu, baru bicara. Kamu bis tersedak," ucap Abi Baihaqi pelan menasehati anak bungsunya.
Fatih hanya bisa mengagguk pasrah denagn rasa penasarannya.
Rara hanya menatap Fatih dengan iba. Usianya baru menginjak tiga tahun, tentu banyak hal yang ingin di keahuinya dnegan bertanya kepada orang tuanya. Waktu Baihaqi hany sedikit untuk anak-anaknya. Urusan anak di serahkan kepada Emak Warti dan Ratna sebagai guru lesnya. Baihaqi memang sedang mencari pengasuh yang bisa menemani ketiga anaknya dua puluh empat jam.
"Non Rara, ini susunya," ucap Emak Warti pelan sambil membawakan susu putih kepada Rara.
"Terima kasih. Tapi aku kenyang sekali ini. Perutku rasanya mau meledak," ucap Rara sambil tertawa pelan.
"Minumlah nanti. Setelah makanan itu turun," ucap baihaqi pelan.
Rara mengangguk dan tersenyum. Baihaqi memang begitu sempurna, walaupun seorang duda. Baik, perhatian, ramah, tulus dan terlihat sayang kepada Rar. Tapi itu semua tidak bisa membuat Rara bergetar dan berdesir saat pertama kali melihat Cantas yang wajahnya biasa saja.
"Tante Rara, bisa bantu Putri mengerjakan PR?" tanya Putri pelan saat sudah selesai makan malam.
Sesuai titah Abi Baihaqi, bicaralah setelah selesai makan.
__ADS_1
Rara menoleh ke arah Putri yang ada di sampingnya lalu tersenyum ramah.
"Oh ... tentu saja boleh. Dengan senang hati, tante akan bantu kamu. tapi, Tante habiskan makan malam ini dulu ya," ucap Rara pelan menjelaskan.