
Panji dan Maura sudah duduk bersebelahan di jok belakang. Sedangkan Rey dan Lia hanya bisa pasrha mengelus dada mereka masing -masing jika harus mendengar suara -suara yang tak asing dan membuat kedua orang yang duduk di depan bertahan untuk tidak menoleh ke belakang karena ingin tahu.
"Spion tengahnya naikkan." titah Panji ketus. Ia tahu Rey pasti akan melirik ke arah belakang melalui kaca spion tengah itu.
"Iya Nji," jawab Rey patuh.
Rey tak berani mengajak Panji bercanda di situasi yang sedang genting ini. Lia hanya melirik ke arah Rey dan melipat kedua tangannya santai di depan dada sambil membesarkan volume musik di mobil itu. Rey hanya bisa menghela napas panjang dan dalam. Ia tak tahu bagaimana garus bersikap. Panji memang seperti itu.
"Sini aku pangku," ucap Panji pelan dan lembut berbisik di telinga Maura.
Hari ini Maura terlihat sangat cantik seklai. Hanya memakai dres mini di atas lutut dengan lengan terbuka dan kancing di bagian depan. Warna pasta memang sangat cocok untuk Maura yang cantik dan berkulit mulus itu.
Maura hanya bisa menurut dan duduk di pangkuan Panji sehingga mereka berdua saling berhadapan. Maura membelakangi kedua orang yang berada di depannya.. Dengan cepat Panji menciumi bibir Maura hingga gadis itu kelabakan karena kekurangan oksigen. Serangan tiba -tiba itu membuat Maura sedikit gelagapan karena dalam kondisi tak siap mendapat serangan yang begitu bertubi -tubi.
Panji itu sosok lelaki yang nekat dan tak peduli dengan keadaandi sekitarnya. Dalam pangkuan Panji, Maura hanya bisa diam dan mengikuti alur nafsu Panji. Kalau hanya sekedar mencium, masih bisa di toleransi tapi kalau sudah lebih dari itu Maur apasti akan menghalanginya dan mencari tempat lain. Bisa gila kalau menuruti birahi Panji yang teus mneggebu jika melihatnya.
Gerakan Panji begitu cepat. Ia memajukan tubuh Maura dalam pangkuannya hingga tubuh keduanya menempel. Jelas sekali di bagian bawah ada yang terasa menonjol dan mulai mengganjal duduk Maura hingga membuatnya tak nyaman. Maura hanya menatap Panji yang terkekeh pelan.
"Sudah gak kuat," ucapnya pelan seolah mengerti dengan maksud Maura sambil mengedipkan satu matanya.
"Cih ... Ini di mobil," bisik Maura lirih berbisik.
"Terus?" tanya Panji yang sudah merah menahan hsratnya.
"Malu sama mereka," cicit Maura pelan sekali.
__ADS_1
"Mereka tidak akan berani melihat ke arah kita. Lagi pula tidak perlu kau buka semua pakaianmu itu. Posisi ini mudah tanpa harus melepas pakaian kita," bisik Panji lirih dan mulai nakal menggoda Maura yang tak pernah bisa menolak setiap keinginan Panji untuk di puaskan.
"Tapi nanti mereka dengar ******* kita," ucap Maura pelan.
"Kau yang mendesah , Maura. Bukan aku," ucap Panji terkekeh.
"Hah? Tidak. Maura tidak berani," jawab Maura lirih.
Tanpa aba -aba Panji mulai membuka kancing dres Maura yang berada di depan dan kedua gunung cantik itu sudah menyembul di sana. Birahinya semakin meningkat. Geloranya ingin bercinta dengan cepat dn singkat pun sudah tak tertahan. Sesekali perlu sesuatu yang instat tapi memuaskan dan membuat jantung terpacu karena keadaan yang kurang mendukung.
"Wahhh ... Kalau situasinya begini. Aku main memuncak," ucap Panji pelan.
"Ini di mobil Mas Panji," ucap Maura pelan mengingatkan.
"Mas Panji terlalu pintar. Sepertinya terlalu sering seperti ini dengan banyak wanita?" tanya Maura pelan.
"Aku seperti ini hanya padamu, bahkan dengan Anetha pun tak pernah," ucap Panji pelan dan lolos begitu saja.
Maura melotot tajam ke arah Panji.
"Anetha? Siapa dia? Pacarmu?" tanya Maura mulai cemburu.
"Ohh ... Bukan. Dia mantan kekasihku dulu. Rey juga kenal. Aku tak pernah menyentuhnya sedikit pun," ucap Panji pelan menjelaskan.
Sambil bicra tangan Panji yang begitu ramah pun mulai bergerilya. Semenjak bersama Maura, tingkat nafsu dan kehaluannya begitu tinggi. Panji sellau ingin mencoba semua gaya bercinta yang sering ia tonton melalui youtube bersama Rey. Maklum laki --laki kan memiliki birahi dan gairah yang harus di lepaskan walauapun tanpa ada pasangan untuk bercinta, misalnya harus bersolo karir di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Maura sudah tak mood sejak Panji mengucapkan nama perempuan lain di depannya barusan.
"Sudah Mas. Maura sudah tak ingin lagi," ucap Maura lirih. Maura menutup kembali kancing bajunya dnegan rapat. Gunung yang masih rapat dan terlihat sekel itu belum sempat di cicipi oleh Panji.
"Kenapa di tutup? Tadi katanya mau menyusui bayi besar. Bayi besarnya sudah haus nih," ucap Panji dnegans uara bergetar. Panji benar -benar sedang menahan hasratnya. Bagian bawahnya semakin menegang dan keras membuat Maura sedikit mundur.
"Menyusiu bayi besar? Oke. Maura turun dulu, annti Maura susui," ucap Maura yang menahan kesalnya.
"Kau tega? Lihat ini," Panji berujar pelan dan menunjukkan bagian bawahnya yang sudah berontak ingin keluar dari persembunyiannya. Rasanya sesak dan terasa sangat sempit sekali.
"Bukan urusan Maura. Mas Panji minta selesaikan saja dengan Anetha," ucap Maura pelan dan turun begitu saja lalu duduk di sebelah Panji.
Moodny tiba -tib menghilang. Padahal tadi Maura sudah setuju untuk mencoba sensasi bercinta kilat dan cepat dengan keadaan yang tak mendukung. Maura juga ingin merasakan gelora jantung yang terpacu dan menahan desahannya agar semua orang tak mendengar. Maura ingin merasaan kepuasan yang begitu singkat dengan sensasi luar biasa.
Panji menatap Maura hingga gadis itu duduk dan emnatap ke arah depan. Tangan Maura di genggam Panji. I tahu kesalahannya menyebut nama perempuan itu adalah kesalahan fatal. Karean dalam perjanjian merekaberdua itu tidak bisa di ungkap dan ternyata di ungkap tidak sengaja juga meeiliki efek yang luar biasa.
"Maafkan aku," ucap Panji pelan.
Maura hanya diam dan menarik kembali tangannya. Ia merapikan pakaiannya dan mengambil satu toples berisi cokelat untuk di nikmati. Maura adalah gadis introvert, dia bisa menghilangkan rasa sakit hati dan rasa kecewanya hanya dengan menikmati satu toples cokelat.
Maura hanya menikmati coeklat itu stu per satu dan mengabaikan keadaan di sekelilingnya. Dia butuh waktu sendiri untuk mengontrol kembali emosi dan cemburunya.
'Apa aku mulai mnecintainya. Kenapa dadaku bergemuruh saat mas Panji mengucap nama wanita itu di depanku. Seolah Mas Panji dnegan Anetha bukanlah orang asing, mereka seperti sangat dekat. Karena kalau tidak dekat tidak mungkin nama itu lolos begitu saja sat sedang ingin bercinta denganku,' batin MAura di dalam hatinya.
Maura tidak menangis tapi Maura hanya kecewa. Maura hanya cemburu. Sama seperti Panji yang selalu mencemburui Maura walaupun itu hanya denga Rey, kakak kandung Maura.
__ADS_1