
Rey menghampiri Panji. Lia juga keluar dari mobilnya. Maura tetap berjalan ke arah bangunan ruko itu. panji menatap tajam ke arah Maura yang tak peduli sama sekali.
"Nji ... Kamu kenapa?" tanya Rey dengan suara pelan.
"Siapa yang membuka rahasia pernikahan aku?" tanya Panji kesal.
Lia berjalan ke arah Rey dan Panji.
"Bukan aku. Aku sama sekali tak bicara apapun dengan Maura," ucap Lia membela diri. Karena posisi yang paling mudah di salahkan adalah Lia. Lia adalah orang terakhir yang bersama maura di dalam mobil, jadi Panji berasumsi bahwa Lia yang membocorkan rahasiany itu.
Panji menatap Lia dengan tajam.
"Kalau bukan kau? Tersu sipa lagi. Kita hanya bertiiga di sini?" teriak Panji dengan geram.
Panji melangkah ke arah Lia. Ingin rasanya mencekik perempuan itu hingga lemas.
"Nji. Dia perempuanku. Lia sudah jujur. Coba kau tanya Maura, dari mana ia tahu hal ini?" titah Rey pelan.
Tangan Panji sudah akna mencekik leher Lia. Lia sudah pasrah, begitu juga dengan Rey yang tidak bi aberbuat apa -apa. Rey juga tidak tahu, letak kesalahan ada di mana.
Panji menurunkan tangannya dan menoleh ke arah Rey.
"Kalau sampai aku tahu di antara kalian berdua ada yang berkhianat. Maka aku tak segan -segan membunuh kalian," ucap Panji tegas.
Panji setengah berlari mengejar Maura yang sudah lebih dulu berada di depan bangunan yang akan mereka sewa untuk usaha baru.
"Maura ... Maura sayang ...." Panji memanggil Maura dengan sangat lembut.
Maura tak menjawab dan tak menoleh sedikit pun kepada Panji.
Tangan Maura di gapai dan di genggam erat oleh Panji. Panji berusaha memperbaiki hubungannya dengan Maura.
"Kamu tahu dari mana masalah itu?" tanya Panji pelan.
Maura tetap diam dan tak mau membahas masalah itu lagi.
"Kak Rey ... Sepertinya Maura cocok dengan tempat ini. Bisa kita sewa?" tanya Maura pelan.
__ADS_1
Rey nampak kebingungan. Keputusan itu tentu ada pada Panji bukan dirinya.
"Jangan bicara apapun dengan Maura kecuali urusan pribadi kamu, Lia. Kau tahu Panji itu lelaki dingin dan nekat," tith Rey menasehati.
Lia hanya mengangguk pelan. Ia paham dengan semua nasihat Rey dari kemarin.
Rey berjalan menghampiri Maura.
"Kau tanya pada Panji." jawab Rey singkat. Rey tidak mau bersikap manis dan terlalu lembut pada adik perempuannya. Bisa -bisa ia mati terbunuh sia -sia hanya karena masalah begini.
Maura hanya berdecih lalu berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam. Maura kembali mengambil toples cokelat dan mulai menikmatinya untuk meredam emosinya.
Panji menatap Rey dengan sengit.
"Kita cari hotel dekat sini. Lalu bayar sewa tempat ini selama dua tahun. Nant malam kita bicarkan tentang usahanya. Sepertinya Maura harus di ryu di tempat tidur," ucap Panji senyum smirk.
Rey hanya menarik napas dalam. Rey tidak bisa mencegah Panji. Walaupun ia tahu perbuatan itu adalah perbuatan yang salah.
Panji pergi dari tempat itu menuju mobil. Rey pun hanya bisa pasrah dan menurut semua keinginan Panji.
Rey mulai menyalakan mobilnya dan mejalankannya menuju hotel yang ada di sekitar tempat itu.
Sontak ucapan Maura membut Panji menoleh ke arahnya dan menatap gadis cantik itu dengan bingung.
"Ada apa Maura. Bukankah kau bilang suka dengan apartemen itu?" tanya Panji pelan.
"Itu dulu. Sekarang tidak sama sekali." jawab Maura ketus.
Rey masuk ke salah satu halaman hotel berbintang lima. Ia langsung turun dan memesan dua kamar. Satu kamar deluxe untuk Panji dan Maura, dan satu lagi kamar standart untuk Lia dan Rey.
Maura hanya berjalan mengikuti Panji. Bagaimana tidak, tangannya di genggam erat oleh Panji. Sempat Panji berbisik, "Jika kau berani melepaskan genggaman ini, maka jari -jarimu aku patahkan satu per satu. Karena aku dan hanya aku yang boleh memiliki kamu, Maura."
Suara Panji begitu terdengar seram. Tubuh Maura pun bereaksi merinding. Sikap dingin, cuek dan posesif Panji bisa menunjukkan sikap arogan dan introvert.
Maura masuk ke adalam kamar hotel yang cukup luas. Kedua mata Maura pun menatap ke seluruh ruangan yang wangi dan remang serta elegan.
Hordeng hendela besar itu baru akan di buka Maura pun di hentikan oleh Panji yang sudah merangkul Maura dari arah belakang.
__ADS_1
"Jangan kau buka sayang. Biarkan remang -remang seperti ini. Aku suka yang seperti ini. Biar terasa lebih romantis," bisik Panji tepat di telinga Maura.
Kepala Panji mulai beraksi menciumi leher Maura dan meletakkan dagunya di bahu Maura. Maura mendesah kegelian. Perlakuan ini yang membuat Maura tak bisa menolak, birahinya selalu tergoda dengan sikap manis manja Panji kepada dirinya. Panji benar -benar memperlakukan Maura seperti putri raja yang harus di jaga.
"Ekhemm ... Maura mau mandi," ucap Maura berusaha melepaskan kedua tangan Panji yang melingkar ke depan perutnya.
"Mandi?" tanya Panji pelan sambil menyapu leher Maura dengan lidahnya.
"Iya mau mandi. Sudah dong tuan," ucap Maura sengaja.
Sapuan lidah itu terhenti. Dekapan Panji semakin erat di perut Maura hingga Maura tk bisa berkutik.
"Apa kau bilang? Tuan? Sekali katakan kata itu?" titah Panji setengah berteriak.
Maura diam.
"Aku tidak suka kau mengatakan itu maura. Sudah ku bilang berapa kali. Kau adalah wanita satu -satunya yang aku sayang, dan kau satu -satunya wanita yang aku tiduri dan kau wanita yang telah berhasil membuat aku jatuh cinta dan tak bisa melepaskan kamu. Kamu telah menjadi canduku," bisik Panji sedikit kejam.
"Sebelum kau mandi, kau harus mandi keringat denganku dulu. Aku sudah tak sabar ingin menerkam kamu sejak tadi. Kau pandai membuat aku kesal hingga gemas, dan ini adalah pelampiasan rasa kesal aku padamu," ucap Panji yang langsung mengangkat Maura dan mengankat gadis itu ke kasur.
Maura berontak. Ia tak mau lagi jadi bayang -bayang perempuan lain yang ada di hati Panji.
"Cukup Mas. Maura tidak mau seperti ini." ucap Maura berusaha melepaskan kedua tangannya yang di pegang erat oleh Panji.
"Kau menolakku, Maura? Aku begitu ingin dirimu saat ini," ucap Panji pelan sambil mengecupi wajah Maura seluruhnya.
MAura menggelengkan kepalanya pelan.
"Maura hanya ingin jadi diri Maura sendiri. Bukan jadi perempuan lain, untuk membantu memuaskan hasratmu," ucap Maura ketus.
"Kau bicara apa, Maura? Aku seperti ini hanya denganmu, tidak pernah ku lakukan dengan wanita lain," ucap Panji tegas.
"MAura tidak tahu banyak tentang Mas Panji. Bisa saja semua yang Mas Panji ucapkan hanya sebuah drama," ucap Maura menatap lekay ke arah Panji.
"Persetan. Kau malah membuatku gemas dan makin bergairah," ucap Panji kasra.
Panji langsung merobek baju Maura dengan satu tangannya. Mungkin kali ini memang sedikit lebih kasar karena Maura memberontak untuk melayani Panji.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat, Panji pun berhasil membuka semua pakaian Maura hingga tubuh mulus itu terpampang jelas di depan matanya.
Panji tak menyia -nyiakan waktu yang sudah ada. Ia menerjag Maura berkali -kali hingga Maura hanya bisa pasrah dan mendesah serta mengeluarkan teriakan kecil. Antara menolak dan menikmati, teriakannya beda tipis dan tetap menggairahkan bagi Panji.