
Malam ini, mereka ber -empat berkumpul di sebuah restaurant untuk makan malam sekaligus membicarakan masalah pembukaan usaha mereka.
Lia dan Rey sudah menunggu hampir satu jam di restaurant itu, bahkan minuman pun sudah habis empat gelas hingga perut mereka terasa kembung.
Maura dan Panji baru saja masuk ke dalam restaurant itu. Maura nampak kesal, pasalnya ia sudah lapar sejak sore hari tadi. Tapi harus mandi berkali -kali karena melayani Panji. Panji sendiri nampak sumringah dan terlihat sangat bahagia sekali.
"Ekhemmm ... Malam pertama terus, bulan madu terus. Jebol, jebol deh," ucap Rey ketus namun menggoda Panji.
Maura sudah duduk di sebelah Rey dan bergelayut manja. Perutnya sudah lapar sekali, tenaganya habis terkuras. Beginilah nasi menjadi perempuan tawanan Panji tanpa status yang jelas.
"Iri? Bilang dong sama Lia. Sayang ... Kenapa sih harus bergelayut manja sama Rey. Sini sama aku," ucap Panji pelan sambilmenarik lengan Maura lembut dn memeluk Maura yang sudah lemas.
"Jiah ... Iri? Untuk apa? Ku baru merasakannya? Beda dengan aku yang sudah berkali -kalai sejak lama dengan Lia," ucap Rey terpancing jujur.
"Tuh, Kelakuan buaya darat. Terpancing untuk jujur kan. Jadi yang kumpul kebo siapa?" ucap Panji kesal.
Maura melotot ke arah Rey yang malah mencari pembahasan lain.
__ADS_1
"Sudah ... Ayok pesan makanan. Kau pesan yang banyak adikku. Kau harus bersiap selalu. Singa jantan di sebelahmu itu sedang kelaparan, tiap menit bisa di terkam. Lihat itu? Lehermu penuh jejak singa buas? Kau tak malu?" tanya Rey pelan dan memberitahukan kepada Maura.
"Ah ... Serius, Kak?" tanya Maura yang panik dan berusaha menggeraikan rambut hitamnya hingga ke depan bahunya untuk menutupi lehernya.
"Kau percaya pada kata-kata buaya? Semua yang di ucapkan itu adalah sebuah kebohongan," ucap Panji kesal.
Panji berusaha mengikat rambut Maura kembali. Panji paling suka melihat Maura dengan rambut yang di ikat ke atas atau di cepol hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang dan mulus itu. Rasanya gairahnya terus memuncak melihat pemandangan yang begitu menggiurkan itu.
"Lepas Mas. Maura mau pesan makanan. Maura lapar," ucap Maura kesal.
Perdebatan itu di hentikan. Sambil menunggu pesanan makanan. Ke -empatnya mulai berunding masalah pembukaan usaha.
Maura ingin membkua sebuah cafe. Rey ingin membuka restaurant seafood, Lia pun unjuk gigi ingin membuat kedai kopi, dan Panji menginginkan sebuah restaurant dengna menu masakan nusantara.
Perdebatan itu cukup alot. Masing -masinng mempunyai alasannya sendiri, kenapa ingin membuka usaha tersebut.
"Cukup. Kalian membuka usaha yang mau masaka siapa? Kalau langsung mencari karyawan dan seorang cheff itu tidak mudah. Minimal kita sendiri bisa meng -handle semua pekeraan. Seiring berjalannya waktu kita buka lowongan pekerjaan. Bah, baru kita mix usahanya dengan menu -menu lain dan mengikuti semua yang sedang viral," ucap Maura menjelaskan.
__ADS_1
Lainnya pun nampak kagum dan takjub dnegan pemikiran Maura. Mereka menyimak dengan sangat baik.
"Widih ... Perempuanku ini namanya. Pintar sekali kamu, sayang," ucap Panji memuji dan mengacak sedikit pucuk kepala Maura dengan gemas.
"Ish ... Berantakan tahu," cicit Maura kesal.
"Aku setuju dengan ide Maura," ucap Rey lantang.
"Aku juga setuku dengan ide Maura," ucap Lia dengan perasaan kagum.
"Aku juga setuju. Sayang ... Kamu gak apa -apa jadi cheff -nya sementara?" tanya Panji pelan.
rasanya tidak tega menyuruh Maura bekerja sebagai juru masak di cafe miliknya sendiri.
Maura tertawa keras.
"Hei Bos ... Maura ini kerja. Kamu tetap jadi Bos -nya. Paham?" ucap Maura pelang mengingatkan.
__ADS_1