MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
PANJI SAKIT


__ADS_3

Rey sudah pulang sejak tadi. Panji sudh berada di kamarnya dan tubuhnya sudah berada di kasurnya yang empuk. Sedangkan Maura juga tertidur di kamar kecilnya. Keduanya sama -sama terjaga di kamar yang berbeda.


Panji yang tak bisa tidur karena suatu hal yang sedang di pikirkan. Sedangkan Maura tidak bis atidur karena pikirannya terus tertuju pada rentetan kejadian yang membawa ia bertemu dengan Rey, Kakak kandungnya.


"Maura ...." suara Panji pelan mengetuk pintu kamar Maura.


Maura terdiam di bawah selimut tebalnya. Lampu kamarnya juga sudah ia matikan. Maura sengaja tidak menyahut dan diam.


"Maura ...." panggil Panji kembali mengulang sambil mengetuk pintu.


Pikiran Maura sudah melayang. Ini sudah malam. Lagi pula mereka hanya tinggal berdua saja di dalam apartement ini. Di tmbah lagi, Maura yang memang bekerja sebagai pelayan tentu bisa membuat Panji melakukan hal lain yang merugikan dirinya.


"Maura ... Apa kamu sudah tidur?" panggil Panji kemudian.


Suara itu menghilang. Langkah kaki Panji yang terdengar menjauh dan sepertinya sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Maura membuka selimut yang sejak tadi menutupi wajahnya. Ada perasaan bersalah tidak menjawab panggilan Panji tadi.


'Ada apa ya? Tapi ini sudah malam. Biarkanlah, besok pagi pasti bilang, kalau ia memerlukan sesuatu,' batin Maura di dalam hatinya.


Maura memejamkan kdua matanya dan pulas tertidur. Sedangkan Panji di dalam kamar tidurnya pun sedang berselimutkan selimut yang sangat tebal sekali. Tubuhnya tiba -tiba kedinginan dan menggigil. Ia baru saja mengetuk kamar Maura untuk menolongnya, memijat atau mengerok tubuhnya. Tapi, Maura sudah tertidur pulas.


Skip ...


Anetha berada di dalam kamar pengantin sendirian. Ponselnya berada di dalam genggaman. Beberapa kali ia mencoba menelepon Panji, namun lelaki yang baru saja menikahinya itu tidak menjawabnya. Anetha kemudian menelepon Brian, dan ternyata lelaki itu sedang bersenang -senang dengan teman -temannya.


"Brian?" panggil Anetha dalam sambungan teleponnya.


"Apa sih, Anetha? Kamu ribut saja. Ini malam pertama kamu, lanjutkan saja. Bukankah pernikahan ini yang sangat kamu harapkan?" ucap Brian ketus.


"Kamu kenapa? Jadi berubah gini?" tanya Anetha kesal.


"Kau pikir saja sendiri. Apa yang jadi kesalahan kamu," ucap Brian santai.

__ADS_1


"Bisa ya Kamu bilang gitu. Kamu tahu? Panji pergi sejak selesai acara. Dia bahkan mengancam aku. Sepertinya dia tahu apa yang aku lakukan," ucap Anetha memberi tahu kepada Brian.


"dan kau percaya begitu saja?" tanya Brian lantang.


"Kau pikir aku anak baru kemarin lahir. Aku percaya setiap apa yang di lakukan oleh Panji. Dia itu tak pernah berbohong," ucap Anetha keras.


"Terus? Kenapa masih meneleponku?" tanya Brian tambah ketus.


"Kamu ini kenapa Brian? Kamu lupa sama janji kamu?" tanya Anetha berusaha mengingatkan.


"Aku tidak pernah lupa Anetha. Kau pikir aku tidak terpuruk melihat kamu menikah dengan Panji. Dia haraanmu kan. Dan sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Panji, nikmati saja hartanya," ucap Brian pelan.


"Masih saja kamu bahas hal ini. Aku di jodohkan Brian. Kamu masih saja mengungkit masalah ini," ucap Anetha kesal.


"Kamu bisa membatalkannya Anetha. Toh, proyek itu kini aku pegang. Aku yang memenangkannya," ucap Brian melemah.


"Papah bersikeras tidak mau membatalkannya Brian. Kamu paham kan?" ucap Anetha memelanka suaranya.


"Sudahlah. Kamu sudah menikah, dan aku berhak punya kehidupan sendiri juga. Jadi jangan buat aku selalu menginginkan kamu. Jalani hidupmu, dan apa yang sudah kita lakukan, itu karena kita saling sadar, saling mencintai. Selebihnya kamu jalani sesuai keinginan orang tua kamu. Paham?" ucap Brian mematikan teleponnya sepihak.


Sekarang ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tahu, sebentar lagi perusahaan Panji akan mengalami kebangkrutan karena proyek raksasa itu berhasil di ambil oleh Brian. Anetha memang ikut andil dalam pengalihan tender ini. Ia memberikan ide buruk kepada Brian agar menang dan mengalahkan Panji.


Tapi, Brian sekarang malah ingkar dengan jamjinya sendiri. Anetha memilih tidur dan melupakan sejenak apa yang saat ini sedang di alaminya.


Skip ...


Pagi -pagi sekali, Maura sudah terbangun dari tidurnya dan mulai mengerjakan tugasnya. Ia langsung membereskan dapur dan mulai memasak. Karena kalau Panji sudah bangun, yang di cari adalah makanan dan itu harus ada.


Menu pagi ini adalah croisant isi keju mozarella. Setiap hari, Maura akan mencoba resep -resep baru yang belum pernah ia buat sebelumnya.


Selagi menunggu masakannya matang, ia masuk ke kamar Panji untuk mengambil cucian kotor dan mencuci lalu langsung mengeringkannya.


"Tuan ... Tuan ... Maaf, Saya masuk untuk mengambil cucian kotor," ucap Maura sambil mengetuk kamar itu dan masuk mencari pakaian kotor di kamar mandi tanpa melihat Panji yang terbungkus rapat dengan selimut tebal.

__ADS_1


Maura tidak menyadari itu, ia langsung keluar begitu saja dan mencuci dengan mesin cuci. Panji hanya menarik napas dalam, suaranya seolah hilang dan tidak berteriak memanggil nama Maura. Tubuhnya begitu terasa lemas sekali. tangannya pun tak bisa dia nagkat untuk melambai agar Maura tahu, ia sedang membutuhkan gadis itu.


Maura sibuk di kamar mandi untuk memutar kering cucian yang sudah di cuci. Setelah itu pakaian akan ia setrika. Maura takut, panji akan segera ke akntor, karena lemarinya masih kosong belum ada pakaana di sana.


Setelah selesai dnegan pekerjaannya. Maura melihat jam dinding, jarum jam sudah berputar dan kini sudah menujukkan pukul tujuh pagi, dan Panji belum bangun. Tidak ada tanda -tanda kamar itu terbuka. Ia melongo ke arah pintu kamar yang masih tertutup.


Maura mencoba masuk kembali ke kamar Panji untuk membangunkan tuan mudanya.


"Tuan .. tuan Panji tidak berangkat ke kantor?" tanya Maura lirih. Maura menatap selimut tebal menggulung tubuh Panji. Tidak ada gerakan, hembusan napasnya pun tidak terlihat.


"Tuan Panji ...." panggil Maura sambil menggiyangkan tubuh Panji.


Ia segera membuka selimut itu dan wajah pucat Panji langsung terlihat. Keringat dingin dnegan pipi memerah karena suhu tubuhnya begitu panas.


Maura memegang dahi Panjidan beberapa bagian tubuh lelaki itu.


"Panas sekla. Tuan Panji, kamu kenapa?" tanya Maura mencoba membenarkan tubuh Panji dengan kekuatan yang ada. Selimut itu kembali di pakai untuk membungkus tubuh Panji dan hanya di sisakan kepalanya saja.


Dengan cepat, maura mengambil kompres dan mengompres lelaki itu. Llau mmebuatkan teh manis serta bubur.


Satu sendok teh manis ia teteskan di mulut Panji. Minimal Panji bisa sadar dan terbangun.


"Tuan ... Tuan Panji ..." panggil Maura dengan panik. Tubuh itu memnag panas tapi tak bergerak.


MAura mencoba mencari denyut nadi [ada tanga Panji, namun tak terasa. Lalu ia membuka selimut itu dan mendengarkan dengan telinganya di bagian dada Panji. Apakah detak jantungnya masih berdetak sewajarnya?


Saat kepala Maura menyentuh dada Panji. Lelaki itu pun langsung memeluk Maura dnegan sanagt sangat erat.


"Jangan pergi ...." lirih Panji berucap.


Maura hanya terdiam dan tak berkutik berada di bawah lengan kekar Panji.


"Tetaplah di sini menemaniku ...." ucap Panji kemudian.

__ADS_1


Kedua mata Maura berputar. Mencari -cari cara untuk bangun dari dada yang membuat jantungnya sedniri tidak sehat.


__ADS_2