MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
SUAPI AKU PAKAI TANGAN


__ADS_3

Ketiganya duduk dalam satu meja. Maura sudah menyiapkan makanan untuk makan malam yang baru saja di masak langsung untuk Panji.


Suasana mulai mencair. Kemarahan Panji sudah mereda, kesalah pahaman juga sudah teratasi dengan baik. Kini, Rey dan Panji sudah mulai berbincang santai tapi terlihat serius .


Maura menata meja makan, masakan yang sudah ia masak sebelumnya ia hangatkan. Sesuai permintaan Panji, malam ini ia sedang ingin menikmati ayam bumbu bali. Tanpa bisa menolak, Maura pun mulai membuat menu masakan itu dengan bermodalkan buku resep makanan yang kemarin ia beli bersamaan dengan belanja bulanan untuk mengisi apartemennya.


"Silahkan di nikmati," ucap Maura dengan senyum melebar.


Semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Wuih ... harum banget Ra," ucap Rey spontan.


Kedua mata Panji langsung menatap tajam ke arah Rey. Entah Rey lupa, atau memang sengaja ingin membuat Panji marah, ia mulai mengagumi Maura, adiknya.


"Berani?" ucap Panji ke arah Rey sambil menunjukkan kepalan tangannya kepada Rey.


"Maaf Nji. Aku menyerah dan menglah. walaupun Rara itu adikku," ucap Rey dengan pasrah sambil mengedipkan satu matanya kepada Maura yang juga menatap lekat ke arah Rey.


Maura hanya menggelengkan kepalanya pelan. Jujur, ia tak percaya dengan sikap Panji yang begitu posesif dan over protektif. Maura hanya pelayan pribadi Panji yang di sembunyikan.


"Awas saja. Berani macem -macem di belakang ku. Krek ...." ucap Panji sambil memperlihatkan satu tangannya mencontohkan seperti sedang menggorok lehernya sendiri.


"Gak akan. Kalau ngobrol, namanya juga sama adik sendiri. Jangan kelewatan dong. Lagi pula, apa kau lupa, aku sudah punya Lia," ucap Rey mengingatkan Panji. Ia berharap Panji lebih realistis saja.


"Di makan Tuan? Apa perlu di ambilkan?" tanya Maura lembut sambil mengambil piring dan muali mnegambil nasi putih dan ayam bumbu bali di piring makannya.


"Hem ..." jawab Panji hanya berdehem sambil menatap piring yang sudah terisi penuh dengan nasi dan lauk yang ia inginkan.


"Tuan mau makan sendiri atau di suapi?" tanay Maura lembut sambil tersenyum.


Rey hanya melihat Panji yang bisa bersikap begitu lembut dan pasrah pada Maura seperti bebek yang mudah di angon oleh pemiliknya.


"Suapi tapi pake tangan, bukan sendok," pinta Panji tegas.


Maura hanya mengangguk kecil menurut. Ia duduk di dekat Panji dan mulai menyuapi Tuan mudanya itu.


Satu suapan berasal dari tangan Maura pun sudah mendarat di mulut Panji. Dengan pelan Panji mengunyah dan merasakan betapa nikmat makanan itu. Sudah tak di ragukan lagi. Masakan Maura adalah masakan ter -enak yang pernah ada. Lidahnya bukan laggi cocok, tapi tubuhnya jug sudah terlanjur nyaman dengan Maura

__ADS_1


"Enak banget. Bisa se -empuk ini dagingnya," ucap Panji memuji.


"Ada resep khusus dan rahasia dari Ibu Diana," ucap Maura pelan.


"Hemm ... Kalau suatu hari, kamu harus aku miliki seutuhnya. Apa kamu mau?" tanya Panji tiba -tiba. Akal sehatnya sudah tak bisa di kontrol lagi.


"Heh ... Lupa?" sela Rey dengan ketus mengingatkan. Rey sengaja menunjukkan jari -jari tangannya sebagai kode keras bahwa Panji baru saja menikah beberapa jam yang lalu. Kini di depan Rey beraninya merayu Maura.


Maura menatap Rey dan melihat ke arah jari -jarinya. Maura sama sekali tidak paham dnegan maksud Rey. Tapi Panji, lelaki itu hanya tertawa lebar seolah tidak ada beban dalam hidupnya.


Panji melemparkan pandngannya dan kembali menatap Maura yang cantik.


"Mana suapnnya? Lupa? Sudah jangan pedulikan dia. Kadang dia memang kumat gilanya," ucap Panji tegas.


Maura kembali menyuapi Panji. Pria di depannya itu memang terlihat nampak puas dengan segala apa yang d berikan oleh Maura.


"Kalau sudah selesai numpang makan malamnya. Jangan lupa pulang. Di sini tidak menerima orang menginap. Paham?" titah Panji tegas kepada Rey.


Rey hanya mengangguk pasrah. Bos besarnya itu tak bisa di bantah. Apalagi kalau sudah punya keinginan.


"Hem ... Tepat. Saya setuju itu. jangan di sia -siakan. Kalau kehilangan baru tahu rasa. Kamu harusnya bersyukur bisa dapetin Lia," ucap Panji tertawa keras. Tangan Maura pun sudah mengarah ke mulut Panji dengan jari -jari penuh dnegan nasi dan lauknya.


"Kak Rey sudah menikah?" tanya Maura penasaran.


Rey menghentikan makannya dan menatap Maura. Ia tidak tahu bagaimana harus bicara pada Maura.


"Lebih tepatnya kumpul kebo. Nikahin kalau kamu jantan!!" ucap Panji lantang.


"Apa kumpul kebo? Maura gak salah dengar? Kenapa gak ikah saja Kak, kalau memang sudah cocok?" tanya Maura pelan.


"Tidak semudah itu Maura. Masih banyak mimpi yang belum Kak Rey raih," ucap Rey pelan.


"Hemm penuh dengan alasan dan dram. Maura ... Pertanyaanku tadi belum kamu jawab? Gimana?" tanya PAnji pelan.


Maura menatap Panji leka. Maura pikir pertanyaan tadi hanya omong kosong saja, bukan sesuatu hal yang harus sdi tanggapi dengan serius.


"Pertanyaan yang mana?" tanya MAura pura -pura bodoh.

__ADS_1


Kini, ganti Panji menatap Maura tajam. Ia tidak suka di permainkan.


"Jangan permainkan saya, Maura!! Apalagi mempermainkan hati saya," ucap Panji tegas dan lantang. Sorot kedua matanay begitu tajam ke arah Maura hingga Maura merinding dn bergidik ngeri.


Panji memang lelaki baik dan sangat tampan. Ia bisa lembut dan ramah seklai bahkan terlihat sangat bucin. Tapi, jika keinginannya tak di turuti makan sikapnya akan berubah tiga ratus enam puluh derajat menjadi sosok yang galak, kasar, keras, dan sadis.


"Maura memang tidak ingat apa pertanyaan Tuan. Maafkan Maura, Tuan," ucap Mura lirih.


"Sudahlah tak perlu di bahas lagi!! Kalau lupa ya sudah. Aku ingin kopi," pinta Panji dengan suara tegas.


Itulah Panji. Ia tak suka dengan basa -basi. Ia lebih suka yang simpel dan anti ribet.


"Iya Tuan. Maura buatkan," jawab MAura pelan.


Maura pun meletakkan piring besar yang masih penuh dengan nasi dan bebek sebagai lauknya. Ia bergegas menuju dapur dan membuatkan kopi yang di inginkan oleh Panji.


Rey menyudahi makan malamnya. Ia berbisik pelan kepada Panji, "Kau tidak malam pertama dengan Anetha?"


"Cih ... Bedebah!! Aku tinggal tunggu waktunya saja untuk membuka semua bukti yang ku miliki," ucap Panji keras.


"Kau lupa Nji. Brian itu masih berada di lingkaran perusahaan keluarga besarmu. Suatu hari ia bisa menganggu perusahaan itu dan mematahkan kamu di saat kamu lengah," ucap Rey mengingatkan.


"Sudahlah. Urus yang Menjadi tugasmu Rey. Jangan melebar kemana -mana. Malam ini aku ingin melupakan masalahku sejenak. Aku ingin bersenang -senang dengan Maura," bisik Panji kepada Rey.


"Cih ... Dia adikku. Jangan kau sakiti," ucap Rey berusaha mengingatkan.


"Dia sudah ku bayar mahal. Dia juga berhutang nyawa padaku. Salah aku ingin bersenang -senang? Lagi pula, aku yang merasakan keperawanannya," tegas Panji dengan di iringi suara tawa yang keras.


"Ini kopinya tuan. Emm ... Bukankah tuan tadi sedang mabuk?" tanya Maura polos. Ia baru ingat kalau kedatangan Panji ke paartemen dalam keadaan mabuk.


"Mabuknya tadi. Sekarang sudah seger, Lhat mata saya? Sudah jelas melihat apapun, terutama melihat kecantikan kamu, Maura," goda Panji pelan sambil menoel hidung Maura lembut.


Hati wanita mana yang tak berdesir senang. Walaupun secara kasarnya Maura hanya sebagai pelayan atau simpanan Panji. maura tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk tuan mudanya.


"Bucin terus ...." ucap Rey yang mulai kesal.


Sikap Rey hanya membuat Panji tertawa puas.

__ADS_1


__ADS_2