
Acara pagi itu berlangsung dengan lancar. Tepat pukul sembilan pagi, pita sudah terpotong dan Cafe Jira sudah siap melayani pelanggannya. Hiburan musik yang ada di dalam Cafe Jira pun menjadi salah satu andalan Cafe untuk memberikan kepuasan padapelangganya.
Beberapa pengunjung sibuk dengan ponsel dan kameranya untuk ber -swa foto. Maura memberika ide untuk membuta spot -spot cantik untuk berfoto dan meletakkan barang -barang unik dan kuno sebagai latar atau sesuatu yang benilai tinggi. Tiap sudut di beri cermin agar pantulannya memberikan kesan cerah dan positif.
Cafe Jira ramai sekali. Hari pertama mereka akan mendapatkan potogan harga sebanyak tiga puluh persen. Tidak hanya itu di tengah ruangan ada meja yang berisi cemilan dan itu gratis sebagai teman menunggu menu yang sedang di buat.
Panji berada di lantai dua dan duduk di kantornya dengan tenang. Ia membuka laptop dan mulai mencari peluang lainnya. Antusias dari para pengunjung hari ini membuat Panji ingin melebarkan sayap Cafe Jira di kota -kota lain dengan konsep yang sama persis dengan menu utama andalan Cafe Jira resep Maura.
Ponselnya berbunyi keras. Mama Panji menelepon.
"Iya Ma," jawa Panji dengan malas.
"Maaf Nji. Kalau buka keadaan penting. Mamatidak akan menghubungi kamu. Mama tahu kamu itu keras dan sama kerasnya seperti Papah kamu. Mama hanya mau memberi tahu, kalau Papah saat ini ada di ICU Rumah Sakit Permata," ucap Mama Panji menjelaskan dan langsung menutup telepn itu tanpa meminta jawaban dari Panji dan tanpa menjelaskan hal lainya.
Deg ...
Tak biasanya Mamanya bersikap cuek seperti ini. Sebenarnya ada apa. Apa benar Papahnya sedang berada di ICU. Lalu, kenapa tadi anak buahnya tak mengatakan hal se -penting ini?
Pikiran Panji mulai kalut. Biar bagaimana pun juga, Papah dan Mamahnya tetap mejadi kedua orang tua yng tak pernah tergantikan. Se -pelik apapun permasaahan Panji dengan Papahnya, itu hanya sebatas salah paham, egois, dan tak mau kalah. Maklum laki -laki selalu punya taringnya sendiri untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Panji berusaha fokus dulu pada usaha barunya ini. Ia berusaha tidak memikirkan orang rumah.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk ...." jawab Panji keras.
Panji tetap mencari peluang dan menghubungi beberapa temannya lewait email sambil menunjukkan konsep usahanya saat ini.
"Nji ... Ada kabar buruk. Papah masuk ICU," ucap Rey terburu -buru dan panik.
Panji hanya meluruskan duduknya dan menatap Rey.
__ADS_1
"Aku sudah tahu. Mama baru saja meneleponku. Tapi ... tadi aku telepon orang kantor tidak ada yang bilang. Aku takut Mama punya kepentingan lain," ucap Panji pelan.
"Terus? Kamu tidak ingin pulang dan memastikan, Nji?" tanya Rey pelan.
Panji menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebelum sukses aku tidak akan pulang," ucap Panji pelan.
Seluruh uangnya ia pertaruhkan untuk bisnis ini. Selain untuk membuka bisnis baru, alapangan kerja baru, Panji juga ingin membahagiakan wanita kesayangannya.
"Kau gila, Nji!! Papahmu masuk ICU dan kau tak peduli?" tanya Rey sebagai asisten hanya ingin mengingatkan. Jangan sampai ia menyesal di kemudian hari.
"Aku masih kecewa dengan perlakuan Papah padaku, rey. Kau tak tahu, betapa sakit hati ini terusir begitu saja," ucap Panji lirih.
"Tapi ini di ICU. Masalah nyawa Nji. Hidup dan mati," ucap Rey mengingatkan.
"Sudahlah. Aku sedang ingin sendiri. Sejak pagi, mood ku sudah di buat tidak baik," ucp Panji pelan.
Rey tahu, Panji pasti melinat Maura melalui CCTV. Se -posesif itu seorang Panji jika sudah mulai bucin.
"Gak ada yang bisa ganti Maura dari hatiku. Mentok rasanya, bahkan Anetha pun dengan mudah aku lupakan," ucap Panji menjelaskan.
"Oke. Keputusan ada ditangan kamu, Nji. Dan aku tidak bisa ikut campur dalam hal ini," ucap Rey pelan.
Panji hanya mengangguk kecil. Rey pun keluar dan ikut membantu di bawah.
Maura terlihat sangat sibuk membuat beberapa menu andlan CafeJira.
Doni dan Raka juga ikut membuat menu lain di luar menu andalan yang memang secara khusus Maurayang membuat.
Rey mengambil alih posisi kasir. Lia, Mala dan Dewi sibuk melayani pelanggan. Mengantarkan pesanan dan mengambil cucia kotor yang sudah menumpuk di cucian piring.
__ADS_1
"Ramai sekali. Persediaan barang masih aman kan?" tanya Lia kepada Rey. Rey kan memang bertugas mengurus bagian pergudangan.
"Santai. Itu kebutuhan untuk satu minggu. Jadi aman," ucap Rey lembut sambil mengedipkan satu matanya.
Hari ini benar -benar luar biasa. Maura sendiri sampai tak sempat makan dan kini sudah duduk terkulai lemas di salah satu sofa pengunjung. Kakinya di luruskan dan kepalanya di rebahkan sejajar dnegan tubuhnya. Rasa pegal -pegal di sekujur tubuhnya membuat Maura tertidur sekejap di sofa itu.
Lia sedang menghitung pendapatan dan rekapan. Rey bolak balik cek gudang. Apa yang harus di beli. Dewi dan Mala masih sibuk cuci piring. Raka dan Doni sedang membereskan dapur.
Suara dengkuran halus terdengar hingga meja kasir. Rey menatap Maura yang terlihat sangat letih. Ia melepaskan jaketnya dan menyelimuti Maura, aduk perempuannya. Raka melihat itu. Ia sudah selesai dengan pekerjaannya dan duduk di sofa yang sama dimana Maura tertidur.
Perlahan Raka memijat kaki Maura yang sedang tertidur. Panji menatap tajam dari arah anak tangga. Baru saja ia akan menghampiri Maura. Tapi karyawan itu semakin membuatnya panas. Baru satu hari kerja, Panji sudah di buat berkali -kali emosi sejak pagi.
"Kalau sudah selesai boleh kembali pulang," ucap Panji keras dari arah anak tangga.
Suara keras itu tak lantas membuat Raka menghentikan aktivitasnya.
Ia begitu santai masih memijat hingga Maura membuka matanya perlahan.
"Bangun Maura! Kamu tidak lihat? Lainnya masih sibuk kerja!! Kamu malah asyik tidur di situ. Pakai acara pijat memijat. Ini tempat kerja? Paham?" ucap Panji ketus.
Maura segera terbangun dan melempar jaket yang menutup kakinya tadi ke sembarang arah dan melotot ke arah Raka.
"Kau gila? Maura sedang istirahat!! Apa yang kamu lakukan!!" teriak Maura tak suka.
"Maaf. Aku hanya memijat kakimu saja, Ra. Tadi sore kan kamu bilang kalau kakimu sakit," ucap Raka pelan. Ia sama sekali tak bersalah. Ia hanya membantu.
Rey menungut jaketnya.
"Ini jaket ku, Ra." suara Rey terdengar kecewa pada Maura yang membuang begitu saja jaket kesayangannya.
"Maaf. Maura lelah." cicit Maura yang benar -benar lelah seharian di dapur.
__ADS_1
Panji hanya memandang Maura kecut. Ia tak suka dengan keberadaan Raka yang selalu ada untuk Maura.