
Pak Udin berlari dengan cepat sambil berteriak dari arah lobby saat menuruni tangga darurat.
Suara keras dan lantang itu mengejutkan Dyah hingga menoleh ke arah Pak Udin yang berlari tergopoh-gopoh.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Rara, Dyah?" ulang Pak Udin yang tampak gusar saat melihat Rara tidak sadarkan diri.
Dyah pun ikut panik. Ada perasaan bersalah yang terselip di hatinya.
"Dyah datang, Rara sudah pingsan," jawab Dyah melemah.
Pak Udin langsung mengangkat tubuh Rara dan dibawa masuk ke dalam mobil taksi itu. Supir taksi itu langsung masuk ke dalam taksinya dan menyalakan taksi itu untuk mengantarkan Rara ke rumah sakit.
"Masuk Dyah!! Bapak akan bawa mobil kesana menyusul kalian," titah Pak Udin pelan sambil menutup pintu taksi itu setelah Dyah duduk di jok sambil memangku kepala Rara di kedua pahanya.
Dyah hanya mengangguk pelan. Wajahnya masih terlihat panik, dan menatap sendu ke arah Rara yang masih saja memejamkan kedua matanya.
'Kamu kenapa, Ra? Apa yang terjadi pada kamu sebenarnya?' batin Dyah di dalam hatinya sambil mengusap pipi chubby Rara.
Lima belas menit kemudian, taksi itu sudah masuk ke halaman rumah sakit. Taksi sudah berhenti, supir itu langsung berlari menuju UGD untuk meminta bantuan membawakan brankar beroda untuk membawa pasien yang sedang tidak sadarkan diri itu.
Pintu taksi itu sudah dibuka oleh supir taksi. Dyah menurunkan kepala Rara dari pahanya dan turun dari taksi itu.
Dua perawat laki-laki sudah datang membawa brankar beroda. Mereka berusaha mengangkat Rara dan merebahkan Rara diatas brankar beroda itu.
Dyah cemas, tubuhnya tidak bisa diam. Kakinya terus saja berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Dyah menunggu hasil pemeriksaan awal oleh dokter yang sedang menangani Rara di dalam.
Satu tepukan di bahu Dyah membuat Dyah terkejut dan menoleh ke arah orang yang menepuknya.
"Bagaimana keadaan Rara?" tanya Pak Udin yang datang tiba-tiba dan mengejutkan dirinya.
"Astagfirullah ... Pak Udin, saya kaget sekali," ucap Dyah dengan degub jantung yang berdetak semakin keras karena kaget.
"Maafkan, Bapak, Dy. Rara bagaimana?" tanya Pak Udin mengulang pertanyaan yang sama kepada Dyah.
"Masih di periksa oleh dokter," jawab Dyah singkat. Jantung Dyah masih berdetak kencang antara rasa kaget dan cemas bercampur menjadi satu.
Mendengar jawaban Dyah, hati Pak Udin makin tak karuan rasanya. Pak Udin merasa bersalah dengan semua ini, bisa jadi ucapannya tadi membuat Rara semakin terpojok dan frustasi hingga Rara pingsan memikirkan ucapan itu sepanjang jalan.
__ADS_1
Pak Udin tidak tenang, sesekali melihat ruangan UGD yang masih saja tertutup dan belum ada tanda-tanda terbuka dari dalam oleh perawat atai dokter yang sedang memeriksa Rara.
KREEKK!!
Suara pintu ruang UGD pun sudah terbuka. Satu dokter diikuti satu perawat keluar dari ruangan itu dan berjalan keluar menuju ruang dokter tanpa berbicara apa-apa.
Dyah berlari pelan mengejar sang dokter dan menyamakan langkahnya dengan dokter itu.
"Bagaimana keadaan Rara. Dia sahabat terbaik saya. Apa yang terjadi pada dirinya?" tanya Dyah dengan sangat cepat dan bertubi-tubi.
Langkah dokter itu terhenti, tubuhnya menghadap Dyah yang sedang mengajaknya bicara.
"Itu yang di dalam temanmu? Siapa namanya?" tanya dokter itu pelan. Raut wajahnya terlihat tenang dan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Betul. Dia Rara, sahabat saya," jawab Dyah cepat.
"Kamu tahu, sahabatmu itu sedang mengandung? Lalu kemana suaminya?" tanya dokter itu pelan dan menatap Dyah menunggu jawaban Yang akan dilontarkan oleh Dyah.
Dyah mengangguk pelan ke arah dokter menjawab pertanyaan dokter itu.
"Suaminya tidak ada," ucap Dyah singkat tidak mau bertele-tele.
"Tidak ada? Lalu siapa yang akan menjaga pasien tersebut?" tanya dokter itu sambil terkekeh.
Raut wajah Dyah yang semula panik dan cemas mendengar kekehan dokter itu seketika hilang rasa panik yang sejak tadi menyelimutinya.
'Uh ... dasar dokter aneh. Tinggal jawab aja, pake muter-muter tanya ini dan itu yang akhirnya malah tertawa. Dikira orang sakit itu bercanda,' umpat Dyah dalam hati dengan rasa kesalnya kepada dokter itu.
"Hei ... Wajahmu kenapa seperti itu?" tanya dokter itu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Dokter yqng baik. Bagaimana keadaan Rara sebenarnya?" tanya Dyah masih dengan suara lembut dan sopan.
Dokter itu mengambil napas dalam dan menghembuskan dengan sangat pelan.
"Maafkan saya," ucap dokter itu pelan lalu berjalan lagi meninggalkan Dyah yang masih bingung.
Merasa diabaikan Dyah menarik lengan dokter itu dengan kesal.
__ADS_1
"Anda jangan main-main ya!! Saya bertanya baik-baik. Tapi Anda seolah mempermainkan jawaban!!" tegas Dyah dengan suara keras.
Dokter itu tersenyum lebar. Dokter itu sudah mengira, kalau hal ini akan terjadi.
"Rara baik-baik saja. Ada flek tapi kandungannya masih aman. Dia harus banyak istirahat dan tidak boleh stres," ucap dokter itu pelan menjelaskan.
"Baiklah," jawab Dyah singkat langsung berbalik arah menuju ruangan UGD itu.
Dyah masih kesal dan meninggalkan dokter itu sendiri yang menatap kepergian Dyah begitu saja.
Pak Udin sudah berada di dalam ruangan UGD. Sebentar lagi, Rara akan di pindah ke kamar rawat inap VIP. Pak Udin sudah mengurus semua administrasi untuk Rara.
"Pak Udin? Rara sudah sadar?" giliran Dyah yang bertanya kepada Pak Udin. Sejak tadi malah sibuk mengurusi dokter yang tidak ada akhlak itu.
"Sudah. Ini baru saja tidur lagi. Tadi menanyakan kamu dan mengeluh perutnya sakit dan keram. Apa latena kandungannya?" tanya Pak Udin pelan yang begitu mengkhawatirkan keadaan Rara, wanita yang sampai saat ini masih dicintainya.
"Kata dokter, Rara stres dan kelelahan mengakibatkan flek. Kalau dibiarkan bisa jadi keguguran," jawab Dyah pelan.
Dyah berjalan ke arah Rara dan berdiri di samping bed Rara.
"Jaga Rara, untuk Bapak, Dy. Bapak akan mencari Cantas!!" ucap Pak Udin tegas.
Pak Udin sangat kecewa dengan sikap Cantas, mantan Rara.
"Jangan Pak. Biar Mas Hendra yang urus Cantas," jawab Dyah cepat.
Dyah sangat paham dengan kekecewaan dan kekhawatiran Pak Udin.
"Baiklah. Buat Cantas mempertanggung jawabkan semua perbuatannya," ucap Pak Udin sedikit bengis.
"Ra?" panggil Dyah lembut sambil mengusap rambut hitam yang tergerai di bantal.
Rara sejak tadi hanya memejamkan kedua matanya dan berpura-pura tidur. Dirinya malas berbicara dengan Pak Udin. Lelaki paruh baya yang masih jujur mencintai Rara sampai saat ini.
Kedua matanya membuka pelan, lalu menatap ke arah Dyah yang juga menatap dirinya.
"Dy ..." lirih Rara.
__ADS_1
Kedua tangan Dyah langsung menggenggam erat tangan Rara. Sebagai sahabat, Dyah juga ingin menemani Rara di saat Rara sedang terpuruk.