MENJADI KUPU MALAM

MENJADI KUPU MALAM
10


__ADS_3

"Hei ... Ra!! Kok malah melamun sih? Diajak ngomong malah diem aja!" ucap Dyah kesal. Sejak tadi dirinya berbicara panjang lebar dan saat menanyakan saran pada Rara, malah diam dan ternyata asik melamun sendiri. Entah apa yang ada di pikiran Rara saat ini sampai harus melamun begitu.


Rara yang tekejut langsung tersenyum lebar menampilkan rentetan giginya yang rata.


"Maafkan aku, Dy? Mau kan maafin Rara?" ucap Rara pelan sambil menampilkan wajah puppy eyesnya.


"Aku?! Sejak kapan ngomongnya pakai aku dan kamu?" tatap Dyah kepada Rara sambil mengerutkan keningnya.


Rara tertawa renyah. Entah kenapa tiba-tiba ingin terlihat formal saja. Merubah diri menjadi lebih baik itu kan suatu kewajiban.


"Sejak tidak sadarkan diri tadi. Seperti ada malaikat yang datang untuk menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Rara pelan seolah memang itu benar nyata. Padahal itu semua hanya bualan Rara.


"Serius?!" tanya Dyah penasaran.


"Bohong ..." ucap Rara langsung tertawa keras. Berhasil menggoda Dyah hingga penasaran itu sesuatu banget.


"Ra? Mau makan apa? Bapak belikan makanan kesukaanmu? Mau?" tanya Pak Udin yang masih setia berdiri menemani Rara yang bersikap cuek.


"Sudah tidak perlu Pak. Ada Dyah yang bisa membantu Rara. Lebih baik Bapak kembali bekerja atau pulang ke rumah saja karena sebentar lagi sudah jam makan siang," ucap Rara pelan dan begitu tenang.


Jujur Rara sudah malas dengan segala perhatian Pak Udin yang tidak pernah mau berhenti mengejar dirinya untuk menjadi istri keduanya. Rara juga tidak tahu apa alasannya hingga Pak Udn masih terus saja mengejarnya.


"Kamu lagi hamil Ra? Kamu harus makan?!" pelan Pak Udin menasehati wanita kesayangannya itu.


Dyah memutar keda bola matanya dengan malas mendengar perhatian Pak Udin kepada Rara yang malah membuatnya semakin muak.


"Kalau saya hamil, terus kenapa?!" ucap Rara pelan berusaha tidak menggunakan nada tinggi atau ketus. Pak Udin tetap atasannya dan tetap menjadi orang tua baginya, jadi perlu dihargai dan dihormati di luar perasaannya yang selalu diunagkapkan di saat yang tidak pernah tepat.

__ADS_1


"Apa?!! Kamu hamil!! Wanita nakal!!" teriak Bu Hera dari arah depan pintu kamar rawat inap Rara.


Rara menatap ke arah pintu kamar, begitu pula dengan Dyah yang juga kaget mendengar suara keras milik Hera, istri Pak Udin. Wajah Pak Udin tidak kalah terkejut dan panik saat mendengar suara keras Hera, istrinya itu sudah berada di ambang pintu masuk kamar rawat inap Rara.


"Siapa suruh masuk!!" teriak Dyah lantang langsung mengusir Hera dari kamar rawat itu.


Dyah sudah berdiri diambang pintu kamar rawat inap. Menegaskan kembali ucapannya.


" Bu Hera ... Pak Udin ... Silahkan anda berdua keluar dari ruangan ini!! Biarkan Rara istirahat," tegas Dyah memepersilahkan Pak Udin dan Bu Hera untuk segera pergi dari tempat ini.


"Berani kamu Dyah?!! Lupa duku kepada siapa kamu meminta tolong?!!' teriak Hera semakin keras.


"Ohh ... Mau ungkit masa lalu? anda pikir, Anda wanita mulia?!" tegas Dyah melotot ke arah Hera.


Dyah tidak takut karena dia benar. Tatapan Dyah semakin tajam menatap Bu Hera membuat Bu Hera menjadi salah tingkah sendiri.


Pak udin menarik lengan Hera, istrinya dan segera mengajaknya keluar dari ruangan itu. Sampai di depan Dyah, Pak Udin menatap Dyah dengan lekat.


"Jaga Rara, Dy," lirih Pak Udin meminta tolong.


"Sudah jangan kamu urusi Rara, Pah. Kenapa sih harus peduli sama dia!! Aku ini istrimu lho!!" teriak Hera dengan keras dan galak ke arah Pak Udin.


"Bukan urusanmu!! Ayok kita pulang!!" tegas Pak Udin kepada Hera, istrinya.


"Hei, wanita murahan!! Cari Ayah untuk bayimu itu!! Jangan goda suamiku lagi!!' teriak Hera saat melangkah pergi dari ruangan inap itu.


Dyah menutup pintu kamar rawat inap dengan keras. Lalu, berjalan menghampiri Rara yang ada di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Jangan dipikirin Bu Hera itu. Jujur aku juga kaget. Kok tahu kamu disini ya, Ra?" tanya Dyah yang sedikit bingung.


Rara mengelengkan kepalanya pelan, ada rasa takut kembali yang menyelimutidiri Rara.


"Aku takut, Dy. Aku takut kejadian sepuluh tahun yang lalu kembali terulang. Kamu tahu kan, aku memang tidak ada hubungn apa-apa dengan Pak Udin, bahkan beliau yang selalu berusaha mendekati aku tanpa menyerah. Ini sudah sepuluh tahun Dy, tapi rasa itu tidak pernah hilang dari hati Pak Udin. Aku sudah menolaknya berkali-kali," ucap Rara pelan dengan wajah sendunya.


Dyah berusaha menenangkan Rara dan membuat dirinya menjadi sandaran Rara yang sedang terpuruk.


"Kamu harus kuat Ra. Jangan mengingat hal-hal yang tidak perlu. Ingatlah hal-hal yang membuat kamu bersemangat dan termotivasi lagi menjalani hidup," ucap Dyah menasehati.


Rara pasrah dan mengangguk pelan. Hidupnya kini entah akan dibawa kemana. Tekadnya sudah bulat untuk resign dari kantornya dalam waktu dekat.


Rara akan memulai hidupnya kembali dari awal. Ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Kedua orang tuanya dan keluarganya yang ada di kampung. Bagaimana tanggapan mereka denagn kehamilan Rara yang tanpa Ayah. Apa mereka akan menerima Rara dengan baik atau malah mengusirnya. Kedua orang tuanya dan kedua adiknya adalah tanggung jawab Rara selama ini. Semua hasil jerih payah Rara di kota selalu di kirimkan untuk biaya sekolah dan kehidupan orang tuanya di kampung.


Sudah berkali-kali kedua orang tuanya menyuruh Rara untuk segera menikah, secara usia Rara yang sudah matang. Tapi, selalu saja terhalang oleh perbedaan agama dan kasta.


"Melamun lagi? Kenapa sih?" tanya Dyah gemas dengan Rara. Setiap diajak bicara, Rara malah asik melamun.


Rara menoleh dan mencoba tersenyum kepada Dyah.


"Kamu tahu Dy? Aku takut, kedua orang tuaku tidak bisa menerima kenyataan ini. Lihat usia kandunganku sudah tidak kecil lagi, ini sudah semakin membesar dan membuncit perutku," keluh Rara pelan kepada Dyah.


"Aku tahu kekhawatiranmu Ra? Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kamu harus tetap move on dari ini semua?" tanya Dyah dengan bijak.


Jujur Dyah sangat iba dan peduli dengan kondisi Rara saat ini. Keberadaan Cantas pun tidak bisa diketahui. Mas Hendra, suami Dyah juga ikut membantu mencari Cantas dan mencoba menghubungi Cantas dan keluarganya. Namun semuanya nihil dan tidak ada informasi sedikitpun yang di dapat.


"Bantu aku urus resign besok, Dy," ucap Rara tegas. Rara sudah tidak ingin mencari masalah dengan siapapun.

__ADS_1


Dyah cukup terkejut dengan permintaan Rara.


__ADS_2